Eka Putra: Para Ibu Hadir Sebagai Bagian Utama dari Peringatan Hari Ibu Itu Sendiri

Eka Putra: Para Ibu Hadir Sebagai Bagian Utama dari Peringatan Hari Ibu Itu Sendiri
foto: Fauzi/ist (doc. Kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Pagi itu, sebuah pesan singkat dari Bupati Kuantan Singingi, Dr. H. Suhardiman Amby, tak hanya berisi arahan teknis. Ia membawa makna yang lebih dalam: tentang ibu, tentang kebersamaan, dan tentang ikatan yang perlu terus dirawat. Ahad (21/12/2025).

Tahun ini, peringatan Hari Ibu, Senin (22/12/2025), tidak lagi terpusat di tingkat kabupaten. Bupati menginstruksikan agar setiap kecamatan melaksanakan upacara secara mandiri, dipimpin langsung oleh ibu camat sebagai inspektur upacara. Para petugas upacara pun bukan sembarang barisan—mereka adalah para ibu: istri kepala desa, Penjabat Kepala Desa, serta tokoh-tokoh perempuan di wilayah masing-masing.

Arahan itu seolah mengembalikan makna Hari Ibu ke akarnya: ruang berkumpul, bukan sekadar berbaris.

Di Kecamatan Kuantan Tengah, yang selama ini kerap bergabung dalam upacara tingkat kabupaten, arahan tersebut disambut sebagai pesan moral sekaligus ruang refleksi.

Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si, menilai kebijakan ini bukan sekadar perubahan pola pelaksanaan, melainkan upaya mendekatkan makna Hari Ibu kepada masyarakat.

“Arahan Pak Bupati ini memberi ruang kebersamaan yang lebih luas. Hari Ibu bukan hanya seremonial, tapi momentum silaturahmi dan penghargaan kepada para ibu di lingkungan paling dekat dengan kita,” ujar Eka Putra.

Ia menambahkan, dengan pelaksanaan di tingkat kecamatan, keterlibatan para ibu menjadi lebih nyata—mulai dari ibu RT dan RW, perangkat desa, BPD, ibu lurah, ibu kepala desa, hingga tokoh-tokoh perempuan yang selama ini berperan aktif di tengah masyarakat.

“Kita ingin para ibu hadir bukan sebagai pelengkap acara, tetapi sebagai bagian utama dari peringatan Hari Ibu itu sendiri,” tambahnya.

Sebelumnya, saat dikonfirmasi terkait pelaksanaan di Kuantan Tengah, Bupati menegaskan bahwa tahun ini seluruh kecamatan diminta berdiri mandiri. Bahkan, menurut Bupati, momentum ini harus dimaknai sebagai ajang mempererat hubungan sosial antar sesama perempuan.

“Tahun ini mandiri saja. Jadikan sebagai ajang silaturahmi para ibu-ibu,” tegas Bupati, seraya menutup arahannya dengan pesan sederhana namun bermakna, “Rekat dan jalin kuat ikatan dengan para ibu-ibu.”

Di tengah rutinitas birokrasi dan agenda pemerintahan yang padat, peringatan Hari Ibu tahun ini diharapkan menjadi ruang hangat, tempat penghargaan tumbuh tanpa podium tinggi, dan peran perempuan diteguhkan tanpa harus berteriak.

Karena di balik setiap desa yang berjalan, setiap administrasi yang tertata, dan setiap kebijakan yang hidup, selalu ada ibu-ibu yang bekerja dalam diam—namun menguatkan segalanya.*(ald)