TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Matahari sore merambat pelan di tepian Sungai Kuantan. Riak air beradu lembut dengan batang jalur yang terikat di dermaga. Bagi sebagian orang, itu hanya pemandangan biasa. Namun bagi Epi Martison, bunyi alam itulah orkestra pertama yang menyalakan api seninya.
Di sanalah ia tumbuh—di tanah Kuantan Singingi, Riau—di mana musik bukan hanya nada, melainkan bagian dari denyut kehidupan. Anak-anak di kampungnya terbiasa mendengar irama gandang oguang saat pesta adat, nyanyian rakyat di sawah, atau derap dayung dalam pacu jalur. Semua bunyi itu merekam jejak dalam ingatannya, lalu menjelma karya yang kelak menggetarkan panggung dunia.
Hari ini, nama Epi Martison akrab didengar di panggung seni internasional. Ia adalah seniman musik tradisional, komposer, sekaligus koreografer yang karyanya dikenal karena keunikan: memadukan instrumen tradisi, bunyi alam, dan ekspresi modern.
Panggung-panggung bergengsi dunia pernah ia singgahi: Opera House Sydney, Jacob’s Pillow Dance Theater di Amerika Serikat, Labaulle Internationales de la Danse di Paris, London Music Sufi Festival, hingga panggung seni di Kanada, Afrika Selatan, dan Hong Kong. Ia bahkan memimpin delegasi seni Indonesia ke berbagai negara, menjadikan tradisi Nusantara tidak hanya ditampilkan, tetapi dirayakan di hadapan publik global.
Prestasinya juga tercatat dalam sejarah musik paduan suara dunia. Ia meraih medali emas World Choir Olympics di Austria, Denmark, Jerman, dan Belanda. Dari panggung internasional itulah, nama Kuansing ikut terselip dalam catatan emas seni dunia.
Namun, di balik semua itu, Epi tetap rendah hati. Ia selalu kembali menyebut tanah kelahirannya sebagai sumber inspirasi.
“Saya ini lahir dari tradisi Kuansing. Irama jalur, bunyi alam, sampai musik rakyat, itu semua yang membentuk saya. Apa pun yang saya capai di luar negeri, akar saya tetap di sini,” katanya suatu ketika.
Epi bukan hanya seniman yang berkarya untuk estetika. Ia juga peka terhadap lingkungan sosial.
Pada tahun 2022, ia menggarap tari kolosal pembukaan Porprov X Riau, melibatkan 500 pelajar dan mahasiswa. Sebuah karya monumental yang bukan hanya menampilkan keindahan, tetapi juga membuktikan bahwa seni bisa menjadi ruang partisipasi massal.
Lewat karyanya yang lain, “Ritus Tergerus Rakus”, Epi menyuarakan kritik tajam terhadap perambahan hutan di Kuansing. Dalam gerak tari dan musik, ia melukiskan luka alam, menjadikan seni sebagai medium protes ekologis.
“Bagi saya, seni itu bukan sekadar hiburan. Ia adalah bahasa untuk menyampaikan pesan, termasuk tentang alam dan kehidupan,” jelasnya.
Meski telah menapakkan kaki di berbagai panggung dunia, Epi Martison menyimpan kerinduan yang sederhana: hadirnya sekolah seni di Kuansing.
Baginya, sekolah seni bukan hanya ruang belajar musik atau tari, melainkan benteng pelestarian budaya. Sebuah tempat di mana anak-anak muda Kuansing bisa mengasah bakat tanpa harus meninggalkan tanah kelahirannya.
“Kuansing ini gudang talenta. Anak-anak kita punya bakat luar biasa, tapi mereka kekurangan wadah. Kalau ada sekolah seni, mereka tak perlu jauh merantau hanya untuk belajar,” tutur Epi.
Ia bahkan ikut mendampingi survei pendirian SMK Seni dan Budaya Kuansing bersama Yayasan Kepedulian Kampung (YKKS). Jika terealisasi, sekolah ini akan menjadi yang pertama di Provinsi Riau.
“Saya ingin anak-anak Kuansing melampaui saya. Mereka jangan hanya jadi penonton, tapi pelaku utama yang membawa seni Kuansing ke panggung dunia,” ujarnya penuh keyakinan.
Bagi Epi, seni adalah jati diri sekaligus diplomasi budaya. Ia percaya, dengan seni, sebuah daerah kecil seperti Kuansing bisa dikenal dunia.
Di ujung percakapan, matanya menerawang jauh, seolah menatap tepian Sungai Kuantan yang selalu memanggilnya pulang.
“Kalau seni kita kuat, maka Kuansing juga akan semakin dikenal, bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia,” pungkasnya.
Epi Martison adalah contoh nyata bagaimana akar budaya lokal bisa menjadi sayap untuk terbang jauh. Dari Sungai Kuantan, ia melesat ke panggung dunia—dan kini kembali, membawa mimpi agar generasi Kuansing punya rumah bagi seni mereka sendiri.*(ald)