Riuh Jalur, Riuh Identitas: Riau Lawan Klaim Budaya Malaysia

Riuh Jalur, Riuh Identitas: Riau Lawan Klaim Budaya Malaysia

“Pacu Jalur bukan sekadar lomba perahu. Ia adalah jiwa Sungai Kuantan.”

 

Ketika Riak Sungai Membawa Riuh Polemik

Air Sungai Kuantan mengalir tenang, tapi akhir-akhir ini ia seolah berdesir lebih keras—menjawab riuh polemik yang meletus di jagat maya.

Warganet Malaysia mengklaim Pacu Jalur sebagai bagian dari budaya Negeri Jiran, memicu gelombang protes dan klarifikasi dari masyarakat Riau, khususnya Kuantan Singingi (Kuansing), yang selama lebih dari seabad menjadikan Pacu Jalur sebagai jantung budaya.

 

Sejarah yang Bicara: Akar Jalur dari Tahun 1890

Gubernur Riau, Abdul Wahid, menanggapi dengan tegas:

“Lihat realitas dan fakta sejarahnya. Pacu Jalur itu milik Kuansing.”

Dari catatan resmi, Pacu Jalur sudah ada sejak tahun 1890. Awalnya, jalur adalah perahu kayu panjang yang digunakan masyarakat menyusuri Sungai Kuantan untuk berdagang dan berinteraksi antardesa.

Masuknya kolonial Belanda mengubah fungsi jalur dari alat angkut menjadi bagian dari pesta rakyat memperingati ulang tahun Ratu Wilhelmina. Dari situ, Pacu Jalur berevolusi menjadi tradisi budaya yang dirayakan hingga kini—bertransformasi dari ritual sungai menjadi festival tahunan berskala nasional.


Bukan Sekadar Lomba, Ini Warisan Kompleks

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Roni Rakhmat, menyebut klaim Malaysia sebagai bentuk kesalahpahaman besar:

“Salah besar kalau diklaim orang. Pacu Jalur bukan sekadar lomba, tapi kesatuan budaya yang utuh—dari seni ukir, prosesi adat, hingga nilai gotong royong.”

Sejak tahun 2014, Pacu Jalur sudah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kemendikbudristek.
Status ini merupakan pengakuan resmi negara bahwa tradisi ini memiliki akar sejarah, nilai budaya, dan pelestarian aktif oleh masyarakatnya.


Identitas yang Tak Bisa Dicuri

Abah Yudhi, tokoh muda Riau, menegaskan:

“Jika Pacu Jalur diklaim oleh Jiran, maka ini adalah klaim tanpa dasar dan nilai sejarah.”

Ia menekankan pentingnya peran aktif pemerintah dan masyarakat untuk mendokumentasikan serta mempromosikan kekayaan budaya lokal. Ia juga mengangkat Ombak Bono Sungai Kampar sebagai contoh lain dari potensi budaya dan wisata Riau yang unik dan layak diangkat ke dunia internasional.


Bukan Klaim, Tapi Siapa yang Merawat

Asimilasi budaya di rumpun Melayu memang wajar terjadi. Tapi kepemilikan budaya tidak ditentukan oleh siapa yang mengaku paling keras, melainkan oleh siapa yang menjaga dan menghidupkan tradisi itu dengan konsisten.

“Riau, khususnya Kuansing, bukan hanya punya sejarah Pacu Jalur, tapi merawatnya setiap tahun dengan darah dan semangat masyarakat,” pungkas Gubernur Wahid.

 

Dari Sungai ke Dunia

Polemik ini menyadarkan kita:

* Dokumentasi budaya itu penting.

* Promosi aktif adalah kunci.

* Dan Pacu Jalur, bukan hanya soal lomba, tapi soal identitas bangsa.

Jangan tunggu budaya kita diambil dulu, baru kita bersuara.
Saat ribuan warga bersorak di tepian Narosa, mereka bukan hanya menyemangati jalur. Mereka tengah menyuarakan:

“Ini milik kami. Ini kebanggaan kami. Ini Indonesia.”

 

Oleh: Aldian Syahmubara

Sumber: https://provinsiriau.com/gubernur-riau-abdul-wahid-dari-tradisi-dan-budaya-jelas-pacu-jalur-milik-riau/