Juprian, Sang Panglima yang Pendiam: Penjaga Marwah Melayu dan Pejuang Keadilan Riau

Juprian, Sang Panglima yang Pendiam: Penjaga Marwah Melayu dan Pejuang Keadilan Riau

KILASRIAU.com  – Di bawah terik matahari yang membakar halaman Gedung Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), sekumpulan pria berbaris rapi dengan seragam khas melayu, menampilkan wibawa yang tak sekadar seremonial. 

Mereka adalah Laskar Hulubalang Melayu Bersatu, benteng terakhir dari perjuangan budaya dan keadilan masyarakat Riau. Di tengah-tengah barisan itu berdiri sosok yang menjadi jantung perjuangan, Juprian, SE., Panglima Besar laskar tersebut.

Juprian bukan sekadar nama dalam perjuangan Daerah Istimewa Riau. Ia adalah representasi dari jiwa Melayu yang tak lekang oleh waktu. Lahir pada 19 Juli 1972 di Bagan Siapi-api, dalam keluarga yang berakar kuat pada nilai-nilai adat dan kebudayaan Melayu, Juprian membawa darah pejuang dan semangat mempertahankan martabat daerah yang kaya akan sumber daya alam, namun kerap kali terpinggirkan secara politik dan budaya.

Berpendidikan ekonomi dan aktif sebagai wiraswasta, Juprian tidak terjebak dalam dunia bisnis semata. Ia memilih menjadi suara dari mereka yang selama ini hanya menjadi penonton di negeri sendiri. 

“Riau ini tanah yang kaya, tapi rasa keadilannya terasa miskin,” ujarnya dalam sebuah perbincangan eksklusif. Kalimat itu bukan hanya kritik, melainkan cermin luka sejarah yang dalam dan harapan yang belum padam.