KILASRIAU.com, Jakarta - 18 Desember 2024. Pada tahun 2025, Indonesia diproyeksikan mengalami pertumbuhan ekonomi yang stabil dengan Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan mencapai 5,2%, sebagaimana disampaikan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan menjadi target pemerintah dalam APBN 2025.
Sejalan dengan itu, sektor ekonomi digital diprediksi akan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ini. Laporan e-Conomy SEA 2024 oleh Google, Temasek & Bain menyebutkan, ekosistem ekonomi digital Indonesia mengalami pertumbuhan 40% dari total transaksi ekonomi digital ASEAN dengan nilai diperkirakan mencapai 200 - 300 miliar USD atau sekira 3 - 4 triliun rupiah di tahun 2030.
Peluang ini menciptakan hadirnya berbagai teknologi pendukung. Kehadiran pembayaran real-time, artificial intelligence (AI), machine learning (ML), Optical Character Recognition (OCR), dan menjamurnya beragam metode pembayaran berbasis digital. Hasilnya, pelaku usaha berbagai skala dan sektor termasuk sektor business-to-business (B2B) pun mulai mengadopsi teknologi tersebut untuk berbagai alasan seperti memperluas pasar meningkatkan efisiensi operasional.
Pada kenyataannya, efisiensi operasional B2B masih menghadapi berbagai tantangan seperti fragmentasi dari sistem pembayaran hingga waktu pembayaran rata-rata yang dapat memakan waktu hingga 34 hari. Data lebih lanjut juga mencatat 40% faktur (invoice) yang diterbitkan oleh pelaku usaha tidak dibayar tepat waktu akibat proses manual, kurangnya transparansi pengelolaan keuangan, kesalahan administrasi seperti data yang tidak akurat dan lambatnya proses verifikasi dokumen.
Paper.id, platform invoicing dan pembayaran digital terkemuka di Indonesia, terus berkomitmen membantu pelaku bisnis mengatasi tantangan-tantangan operasional melalui solusi teknologi terkini. Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut adalah peluncuran white paper 2025 Outlook: The Future of B2B Transactions in Indonesia – 5 Key Trends and Technologies pada 11 Desember 2024.