Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting Kelurahan Amal Bakti Kecamatan Kateman 2021-2022

Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting Kelurahan Amal Bakti Kecamatan Kateman 2021-2022
Dari grafik dan peta di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan persentase balita Stunting di Kelurahan Amal Bakti di tahun 2021 7.00% dan 2022 3.13%. 

KILASRIAU.COM - Dinas Kesehatan kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menjelaskan Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting Kelurahan Amal Bakti Kecamatan Kateman Tahun 2021-2022, Selasa (20/12/22).

Kadinkes Inhil, Rahmi Indrasuri menjelaskan bahwa ada beberapa poin terkait Analisis Data Pengukuran Stunting Kelurahan Amal Bakti diantaranya adalah;

1. Perkembangan Sebaran  Prevalensi Stunting

Masalah anak pendek (stunting) merupakan salah satu permasalahan gizi yang dihadapi di dunia, khususnya di negara-negara miskin dan berkembang. Stunting menjadi permasalahan karena berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan otak suboptimal sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya pertumbuhan mental.

Beberapa studi menunjukkan risiko yang diakibatkan stunting yaitu penurunan prestasi akademik, meningkatkan risiko lebih rentan terhadap penyakit tidak menular dan peningkatan risiko penyakit degeneratif Penelitian kohort prospektif di Jamaika, dilakukan pada kelompok usia 9-24 bulan, diikuti perkembangan psikologisnya ketika berusia 17 tahun, diperoleh bahwa remaja yang terhambat pertumbuhannya lebih tinggi tingkat kecemasan, gejala depresi, dan memiliki harga diri (self esteem) yang rendah dibandingkan dibandingkan dengan remaja yang tidak terhambat pertumbuhannya. Anak-anak yang terhambat pertumbuhannya sebelum berusia 2 tahun memiliki hasil yang lebih buruk dalam emosi dan perilakunya pada masa remaja akhir.

Oleh karena itu stunting merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang selanjutnya akan berpengaruh pada pengembangan potensi bangsa. Prevalensi stunting di Indonesia menempati peringkat kelima terbesar di dunia. Data Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan prevalensi stunting dalam lingkup nasional sebesar 37,2%, terdiri dari prevalensi pendek sebesar 18,0% dan sangat pendek sebesar 19,2%. Stunting dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang berat bila prevalensi stunting berada pada rentang 30-39%.