Tari Sombah Cerano, Tugu di Sinambek, dan Jalan Pulang Jati Diri Kuansing

Epi Martison Membuka Kembali Jejak Seni, Strategi Promosi Budaya, dan Ingatan Kolektif Negeri Kuantan

KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) — Ada kebudayaan yang perlahan-lahan menjauh dari kehidupan masyarakatnya sendiri. Bukan karena kehilangan keindahan, bukan pula karena kehabisan makna, melainkan karena manusia yang mewarisinya mulai lupa bahwa di dalam tradisi tersimpan sejarah tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana seharusnya mereka melangkah. Ahad (25/10/2026).

Di Kuantan Singingi, Riau, Tari Sombah Cerano sedang menemukan kembali jalan menuju rumahnya: sekolah-sekolah.

Dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah lanjutan tingkat atas, tarian persembahan adat itu mulai kembali diperkenalkan kepada generasi muda. Sebuah gerakan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar pelajaran seni tari.

Sebab, ketika sebuah tarian kembali memasuki ruang kelas, yang sesungguhnya sedang diperjuangkan bukan hanya kelestarian gerak, irama, dan keindahan. Yang sedang dipertaruhkan ialah keberlanjutan ingatan kebudayaan.

Anak-anak perlu mengetahui bahwa sebelum mereka mengenal dunia melalui layar telepon, sebelum nama daerahnya diperbincangkan di panggung nasional, dan sebelum Pacu Jalur memperoleh perhatian luas, masyarakat Kuantan telah memiliki adat, adab, simbol penghormatan, dan tradisi yang menjadi penanda identitas mereka.

Tari Sombah Cerano merupakan salah satu bagian dari warisan tersebut.

Bagi Epi Martison, seniman nasional asal Kuantan Singingi yang mengisahkan perjalanan penciptaan dan pengembangan tarian itu, kembalinya Sombah Cerano ke sekolah-sekolah merupakan momentum untuk menengok kembali perjalanan panjang seni dan kebudayaan daerah.

Ia tidak sekadar berbicara tentang sebuah tarian. Ia sedang membuka lembaran ingatan tentang bagaimana kebudayaan dirancang, diperkenalkan, dipentaskan, dan dibawa melintasi batas-batas geografis.

Dari ruang-ruang kegiatan di Kuansing, panggung anjungan Riau di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), hingga pengalaman pertunjukan di Singapura, tersimpan sebuah gagasan yang masih relevan hingga hari ini: kebudayaan daerah harus berani tampil ke luar, tetapi tidak boleh kehilangan akar yang membuatnya berbeda.

 

Sombah Cerano: Ketika Penghormatan Menjadi Bahasa Kebudayaan

Pada masa-masa awal perkembangannya, menurut penuturan Epi, Tari Sombah Cerano diperkenalkan sebagai tarian persembahan adat yang kemudian digunakan dalam berbagai kegiatan resmi di Kuansing.

Tamu yang datang ke sekolah, kecamatan, maupun kabupaten kerap disambut melalui pertunjukan tari tersebut. Dalam berbagai kesempatan, Sombah Cerano menjadi bagian dari cara masyarakat setempat memperlihatkan penghormatan kepada orang yang datang.

Di sana, tari bukan semata-mata perkara estetika. Ia merupakan bahasa sosial yang diterjemahkan ke dalam gerak.

Penghormatan tidak selalu harus disampaikan melalui pidato panjang. Ada kalanya ia hadir dalam langkah yang teratur, susunan gerak yang tertib, simbol persembahan, dan tata cara menyambut tamu yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam kebudayaan yang hidup, gerak memiliki ingatan. Simbol menyimpan nilai. Upacara membawa pesan tentang hubungan manusia dengan sesamanya.

Karena itu, Tari Sombah Cerano tidak semestinya berhenti sebagai tontonan yang muncul setiap kali ada acara pemerintahan. Ia perlu dipahami sebagai bagian dari pengetahuan kebudayaan masyarakat Kuansing.

Persoalannya, tradisi yang terlalu bergantung pada acara seremonial berisiko kehilangan ruang hidup ketika kesempatan tampil semakin jarang. Ia mungkin masih dikenal namanya, tetapi perlahan kehilangan kedekatan dengan generasi yang seharusnya menjadi penerusnya.

Di sinilah sekolah memperoleh peran strategis.

Sekolah bukan hanya tempat anak-anak belajar membaca huruf, menguasai angka, dan memahami ilmu pengetahuan. Sekolah juga merupakan ruang tempat sebuah masyarakat memperkenalkan dirinya kepada generasi berikutnya.

Jika Sombah Cerano kembali diajarkan secara berkelanjutan, anak-anak tidak hanya berlatih menghafal gerakan. Mereka juga dapat mempelajari sejarah penciptaannya, nilai penghormatan yang dikandungnya, serta kedudukannya dalam tradisi masyarakat Kuantan Singingi.

Namun, upaya itu membutuhkan kesinambungan. Tari tradisional tidak cukup diajarkan menjelang peringatan hari besar atau ketika sekolah akan menerima kunjungan pejabat.

Ia memerlukan guru, pendamping seni, dokumentasi, ruang pertunjukan, dan dukungan kebijakan yang konsisten.

Sebab, kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena sesekali dipanggil naik ke atas panggung. Ia bertahan apabila diberi tempat dalam kehidupan sehari-hari.

 

Dari Era Sukarmis–Mursini, Sebuah Karya Menemukan Panggungnya

Epi Martison mengenang bahwa Tari Sombah Cerano pertama kali diciptakannya pada masa pemerintahan Bupati Sukarmis dengan Mursini sebagai wakil bupati.

Karya tersebut kemudian ditampilkan dalam pertunjukan seni berbentuk operet berjudul Prosesi Maelo Jal uar di anjungan Riau, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Menurut Epi, pertunjukan itu disaksikan sejumlah duta besar. Ia memperkirakan jumlahnya mencapai 23 orang, meskipun angka tersebut masih perlu dipastikan melalui dokumentasi atau catatan penyelenggaraan pada masa itu.

"Kalau diingat-ingat kembali, Tari Sombah Cerano pertama kali saya buat di saat Bupati Sukarmis dan Mursini sebagai wakilnya. Tampil pertama sekali tari ini di Taman Mini Indonesia Indah, anjungan Riau, dalam kemasan seni pertunjukan berbentuk operet dengan judul 'Prosesi Maelo Jaluar'. Disaksikan, kalau tidak salah ingat, 16 duta besar kala itu, di bulan Juni 2005," ujar Epi.

Pada tahap awal tersebut, kata dia, tarian itu belum merambah ke lingkungan taman kanak-kanak, pendidikan anak usia dini, dan sekolah dasar.

Perjalanan selanjutnya membuka peluang bagi tarian itu untuk diperkenalkan lebih luas, termasuk kepada kalangan pelajar.

Dari kisah ini, ada satu hal yang layak dicatat: sebuah karya kebudayaan tidak lahir untuk selamanya berdiam di tempat asalnya. Ia dapat bergerak, berpindah panggung, bertemu penonton baru, dan memperoleh makna yang lebih luas ketika dipertemukan dengan pengalaman orang lain.

Namun, perjalanan keluar daerah bukan berarti memutus hubungan dengan tanah kelahirannya.

Justru sebaliknya, semakin jauh sebuah karya dibawa, semakin besar peluang orang bertanya tentang tempat asalnya. Siapa masyarakat yang melahirkan tradisi itu? Bagaimana sejarahnya? Mengapa bentuknya berbeda dari kebudayaan lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pintu masuk bagi promosi kebudayaan.

Bagi Epi, seni harus memiliki daya pikat. Ia perlu menarik perhatian, membangkitkan rasa ingin tahu, dan mengundang orang untuk mengenal lebih jauh sumber kebudayaan yang menjadi inspirasinya.

Di titik inilah karya seni bertemu dengan strategi promosi daerah.

 

Membawa Jalur Asli dari Koto Taluk ke Jakarta

Salah satu bagian paling menarik dari kisah Epi ialah pengalamannya menghadirkan jalur asli dalam operet Prosesi Maelo Jal uar di TMII.

Jalur yang digunakan sebagai properti pertunjukan itu, menurut penuturannya, merupakan jalur milik masyarakat Koto Taluk yang dibawa dari Kuantan Singingi ke anjungan Riau di Jakarta.

Bukan replika yang sekadar menyerupai bentuk jalur, melainkan jalur asli yang memiliki hubungan langsung dengan tradisi masyarakat Kuantan.

Keputusan tersebut memperlihatkan pendekatan artistik yang bertumpu pada pengalaman nyata. Epi tidak hanya ingin menyampaikan gambaran tentang Pacu Jalur melalui gerak tari atau cerita. Ia ingin menghadirkan benda budaya yang sesungguhnya, lalu membangun pengalaman pertunjukan di sekelilingnya.

Dalam konsep itu, jalur tidak semata-mata menjadi benda di atas panggung. Ia menjadi pusat peristiwa, penghubung antara gerak, cerita, penonton, dan ingatan tentang kehidupan masyarakat yang menjadikannya bagian dari tradisi.

Epi bahkan merancang adegan yang melibatkan penonton.

"Saya buat adegan maelo jalurnya dengan mengajak penonton merasakan sensasi maelo jalur tersebut, sampai naik haluan jalur yang ditarik oleh penonton VVIP dari atas panggung. Mereka naik ke kepala jalur, ke atas panggung," tuturnya.

Adegan tersebut menghadirkan pendekatan pertunjukan yang interaktif. Penonton tidak hanya duduk menyaksikan sebuah cerita dari kejauhan, tetapi diajak memasuki pengalaman teatrikal yang menggambarkan proses maelo jalur.

Dalam tradisi masyarakat Kuantan, maelo jalur merupakan bagian dari pengalaman kolektif yang berkaitan dengan tenaga, kebersamaan, dan kerja bersama. Sebuah jalur tidak dapat dipindahkan hanya dengan mengandalkan satu orang. Ada koordinasi, ada tenaga yang disatukan, dan ada tujuan yang hendak dicapai bersama.

Ketika pengalaman itu dibawa ke panggung, yang dihadirkan bukan sekadar gerakan menarik perahu. Di dalamnya terdapat gambaran tentang masyarakat yang bekerja dengan semangat kolektif.

Epi mengenang suasana pertunjukan yang dipenuhi kegaduhan, sorak-sorai, dan antusiasme penonton.

"Horuak, hiruk-pikuk, sorak-sorai pun persis dirasakan oleh seluruh penonton," katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa panggung dirancang menyerupai rimbo atau hutan.

"Panggungnya saya buat memang persis rimbo. Dokumentasinya mungkin masih ada di arsip anjungan Riau TMII," ungkapnya.

Jika dokumentasi tersebut masih tersimpan, arsip itu layak ditelusuri. Bukan semata-mata untuk mengenang sebuah pertunjukan, melainkan untuk merekam perjalanan pemikiran kreatif seorang seniman dalam memperkenalkan kebudayaan daerah kepada khalayak nasional.

Sebuah foto dapat memperlihatkan bentuk panggung. Rekaman video dapat menghadirkan kembali gerak dan suara. Catatan pertunjukan dapat menjelaskan bagaimana sebuah karya disusun.

Ketika ketiganya ditemukan dan disandingkan, nostalgia dapat berubah menjadi dokumentasi sejarah.

Dan sejarah kebudayaan membutuhkan dokumentasi agar tidak seluruhnya bergantung pada ingatan manusia yang, sekuat apa pun, tetap memiliki keterbatasan.

 

Singapura, TMII, dan Seni Membaca Pintu Gerbang

Jauh sebelum promosi digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, Epi telah memikirkan pentingnya memilih tempat yang tepat untuk memperkenalkan sebuah karya.

Menurutnya, promosi kebudayaan perlu dilakukan di kawasan strategis, pintu gerbang pertemuan masyarakat, atau pusat informasi yang memungkinkan karya dikenal oleh khalayak yang lebih luas.

Ia menilai, sebuah pertunjukan yang baik akan memperoleh manfaat lebih besar apabila dipentaskan di tempat yang mempertemukannya dengan penonton yang tepat.

"Zaman dulu, begitu gaya dan cara strategis orang berpromosi. Sekarang, kata Epi, orang promosi sudah beda. Gampang dan murah meriah. Kuuriikiii," ujarnya dengan seloroh khas.

Ucapan itu mengandung perbandingan antara dua zaman.

Dahulu, promosi seni memerlukan persiapan perjalanan, pengangkutan properti, penyusunan panggung, dan pencarian ruang pertunjukan yang strategis. Kini, sebuah karya dapat diperkenalkan melalui rekaman video, media sosial, dan berbagai platform digital dengan biaya yang relatif lebih terjangkau.

Perubahan itu membuka peluang yang jauh lebih luas.

Akan tetapi, kemudahan teknologi tidak otomatis menjamin sebuah kebudayaan dikenal secara mendalam. Sebuah video mungkin ditonton jutaan kali, tetapi belum tentu membuat penontonnya memahami sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Sebaliknya, pertunjukan langsung di tempat yang tepat dapat menciptakan pengalaman yang meninggalkan kesan kuat, meskipun jumlah penontonnya tidak sebesar jangkauan media digital.

Karena itu, strategi promosi kebudayaan masa kini semestinya tidak mempertentangkan panggung fisik dengan ruang digital. Keduanya dapat saling menguatkan.

Pertunjukan langsung membangun pengalaman. Dokumentasi digital memperpanjang jangkauan. Pendidikan kebudayaan memperdalam pemahaman. Kunjungan ke daerah asal memberi kesempatan bagi orang untuk menyaksikan tradisi dalam lingkungan sosial dan sejarahnya sendiri.

Epi mengenang keterlibatannya dalam penciptaan Tari Jalur Kuansing pada masa awal berdirinya Kabupaten Kuantan Singingi, ketika daerah tersebut dipimpin Bupati Asrul Jaafar.

Tarian itu dipersiapkan untuk ajang Chingay International Carnival di Singapura.

Menurut Epi, saat itu Kuansing hadir sebagai representasi Indonesia, bukan sekadar mewakili Provinsi Riau, karena ajang tersebut merupakan kegiatan internasional yang memungkinkan partisipasi berbagai wilayah.

"Sebelumnya, di saat Kabupaten Kuantan Singingi berdiri, saat bupatinya Asrul Jaafar, saya sudah membuat tari untuk Chingay International Carnival dengan tema Tari Jalur Kuansing. Saat itu Kuansing mewakili Indonesia, bukan mewakili Riau, karena event itu antarnegara, boleh dari provinsi dan dari kabupaten," kata Epi.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana identitas daerah dapat mengambil tempat dalam percakapan kebudayaan internasional.

Sebuah kabupaten tidak harus menunggu menjadi kota metropolitan untuk memperkenalkan kekayaan tradisinya. Ia dapat hadir melalui karya seni yang memiliki karakter, gagasan, dan kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat lintas budaya.

Tantangannya adalah bagaimana memastikan bahwa perhatian yang diperoleh di luar daerah tidak berhenti sebagai peristiwa sesaat.

Sebab, promosi yang berhasil seharusnya meninggalkan jejak: orang mengenal nama daerahnya, memahami kekhasan budayanya, tertarik mempelajarinya, lalu terdorong untuk datang dan menyaksikannya secara langsung.

 

Membuat Orang Penasaran, Kemudian Datang ke Negeri Asalnya

Bagi Epi Martison, promosi seni dan budaya Kuansing harus dilakukan melalui penciptaan karya baru yang menarik, energik, dinamis, unik, spesifik, artistik, dan informatif.

Namun, ada satu syarat yang menurutnya tidak boleh ditinggalkan: karya itu harus tetap memiliki ciri khas dan bermuatan kearifan lokal.

Adat, adab, budaya, dan tradisi leluhur masyarakat Kuantan Singingi harus tetap menjadi fondasinya.

Dengan kata lain, inovasi tidak harus berarti mencabut karya dari akar tradisi. Sebaliknya, kreativitas dapat menjadi jalan untuk membuat tradisi lebih mudah dikenali dan dipahami oleh masyarakat yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengannya.

Bagi Epi, karya seni dapat menjadi semacam undangan terbuka bagi orang-orang di luar Kuansing untuk mengenal daerah tersebut.

"Nah, dengan menonton karya kita, orang-orang jadi penasaran untuk melihat yang aslinya. Pada akhirnya, mereka ingin datang ke negeri asal budaya tersebut," terang Epi.

Pernyataan itu menyentuh salah satu prinsip penting dalam promosi kebudayaan: rasa ingin tahu sering kali menjadi awal dari perjalanan.

Orang yang menyaksikan pertunjukan dapat tertarik pada bentuk jalur, gerakan penari, tata cara persembahan, atau suasana tradisi yang dihadirkan. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi keinginan untuk mengetahui sejarahnya.

Dari sana, muncul kemungkinan untuk berkunjung ke daerah asal, menyaksikan Pacu Jalur secara langsung, mengenal masyarakat yang menjaga tradisinya, dan memahami konteks budaya yang tidak seluruhnya dapat diwakili oleh sebuah pertunjukan.

Seni, dengan demikian, dapat membuka pintu bagi promosi pariwisata dan pengenalan identitas daerah.

Namun, seni juga memiliki nilai yang lebih dalam daripada fungsi promosi. Ia merupakan ruang ekspresi, penciptaan makna, dan penyampaian pengalaman manusia.

Karena itu, karya budaya tidak seharusnya diperlakukan hanya sebagai alat untuk mendatangkan pengunjung. Ia harus tetap dihargai sebagai hasil kreativitas dan bagian dari kehidupan masyarakat yang melahirkannya.

Promosi yang baik justru berangkat dari penghormatan terhadap kebudayaan itu sendiri.

Bukan sekadar memperlihatkan keunikan untuk menarik perhatian, melainkan menjelaskan mengapa keunikan tersebut penting, bagaimana ia tumbuh, dan nilai apa yang diwariskannya.

Dalam konteks Kuansing, Pacu Jalur, Tari Sombah Cerano, serta berbagai tradisi lokal lainnya menyimpan peluang besar untuk memperkenalkan daerah. Akan tetapi, peluang tersebut akan lebih bermakna apabila berjalan bersama perlindungan tradisi, penghargaan terhadap pelaku seni, dokumentasi sejarah, dan keterlibatan masyarakat.

 

Dari Tari Sombah Cerano Menuju Tugu di Sinambek

Di antara kisah-kisah yang disampaikan Epi, terdapat satu pengungkapan yang menarik perhatian: hubungan antara Tari Sombah Cerano yang diciptakannya dan Tugu Cerano yang berdiri di kawasan Sinambek, pusat pemerintahan Kabupaten Kuantan Singingi.

Menurut Epi, penciptaan Tari Sombah Cerano lebih dahulu terjadi sebelum tugu tersebut berdiri. Ia menyatakan bahwa karyanya menjadi inspirasi bagi kehadiran tugu yang kemudian dikenal sebagai salah satu ikon Kuansing.

"Tari Sombah Cerano-lah yang menginspirasi berdirinya Tugu Cerano di Sinambek sebagai ikon Kuantan Singingi. Karena lebih dahulu tercipta karya Tari Sombah Cerano yang saya ciptakan daripada tugu Cerano yang sekarang berdiri kokoh di tengah ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi ini," kata Epi.

Pernyataan itu membuka ruang untuk melihat hubungan antara karya seni dan simbol ruang publik.

Dalam kehidupan suatu daerah, identitas tidak hanya dibangun melalui dokumen pemerintahan atau batas wilayah administratif. Identitas juga tumbuh melalui bahasa, kesenian, tradisi, bangunan, monumen, dan simbol-simbol yang hadir dalam keseharian masyarakat.

Sebuah tugu dapat menjadi penanda tempat. Ia dapat dijadikan titik temu, latar kegiatan, atau objek yang mengingatkan masyarakat pada daerahnya.

Namun, sebuah monumen akan memiliki makna lebih kuat apabila masyarakat memahami cerita yang melatarbelakanginya.

Apa gagasan yang melahirkannya? Nilai apa yang hendak diwakilinya? Siapa yang terlibat dalam proses pembentukannya? Bagaimana hubungan simbol tersebut dengan sejarah dan kebudayaan masyarakat setempat?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu penting dijawab melalui dokumentasi dan penelitian sejarah.

Keterangan Epi mengenai hubungan antara Tari Sombah Cerano dan Tugu Cerano merupakan bagian dari ingatan seorang seniman yang patut ditelusuri lebih jauh. Untuk menjadikannya catatan sejarah yang kokoh, kronologi penciptaan tari, proses perencanaan tugu, serta keterangan dari pihak-pihak yang terlibat perlu disandingkan.

Langkah tersebut bukan untuk mengurangi arti pengakuan seorang seniman. Sebaliknya, penelusuran sejarah dapat menempatkan kontribusi kreatif pada konteks yang lebih jelas dan membuatnya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebab, sejarah kebudayaan tidak cukup hanya diceritakan. Ia perlu dicatat, diperiksa, didokumentasikan, dan dipelihara agar tidak berubah menjadi cerita yang perlahan kehilangan pijakan.

Jika hubungan yang dikisahkan Epi dapat diperkuat dengan arsip dan kesaksian pendukung, cerita tersebut akan menjadi bagian penting dari dokumentasi perjalanan seni dan identitas Kuansing.

Di situlah kebudayaan memperoleh sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar kebanggaan: ia memperoleh ingatan yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

Pemerintah dan Tanggung Jawab Mengembalikan Jati Diri

Harapan Epi pada akhirnya mengarah kepada pemerintah daerah.

Ia menginginkan agar upaya menghidupkan kembali Tari Sombah Cerano tidak berhenti pada antusiasme sesaat, melainkan menjadi bagian dari kesadaran yang lebih besar untuk mengembalikan jati diri Kuansing kepada akar sejarah dan kebudayaannya.

"Mudah-mudahan semakin kuat dan makin bulat niat pemerintah kita, demi jati diri Kuansing kembali ke akar. Aamiin," ujar Epi.

Doa itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan pertanyaan yang tidak sederhana pula.

Sejauh mana pemerintah daerah menempatkan kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan? Apakah pelestarian tradisi hanya hadir dalam agenda perayaan, atau telah memperoleh tempat dalam pendidikan, perencanaan anggaran, pengembangan pariwisata, dan kebijakan jangka panjang?

Pertanyaan tersebut layak diajukan karena kebudayaan tidak dapat bertahan hanya dengan mengandalkan ingatan seniman atau kecintaan masyarakat.

Ia membutuhkan ekosistem.

Sekolah memerlukan materi pembelajaran dan pendamping yang kompeten. Seniman membutuhkan ruang berkarya dan kesempatan mempertunjukkan hasil kreativitasnya. Arsip kebudayaan memerlukan sistem penyimpanan yang dapat diakses. Pemerintah membutuhkan kebijakan yang tidak berubah hanya karena pergantian kepemimpinan.

Sementara itu, masyarakat perlu dilibatkan sebagai pemilik sekaligus penerus tradisi.

Pemerintah daerah dapat mengambil langkah konkret dengan mendokumentasikan karya-karya penting, menelusuri sejarah perkembangan Tari Sombah Cerano dan Tari Jalur Kuansing, menginventarisasi arsip pertunjukan di TMII, serta membangun program pendidikan kebudayaan yang berkelanjutan.

Karya seni yang selama ini hanya tersimpan dalam ingatan pelakunya perlu direkam dalam bentuk tulisan, foto, video, dan kesaksian sejarah. Bukan untuk membekukan kebudayaan, melainkan menyediakan pijakan bagi generasi berikutnya untuk mengembangkannya.

Pada saat yang sama, penciptaan karya baru tetap perlu diberi ruang.

Tradisi yang hidup bukan tradisi yang dilarang berubah. Ia adalah tradisi yang mampu berdialog dengan zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya.

Di sinilah pemerintah, seniman, sekolah, lembaga kebudayaan, dan masyarakat perlu bertemu dalam satu kepentingan: memastikan bahwa kemajuan Kuansing tidak dibangun dengan mengorbankan ingatan tentang asal-usulnya.

Sebab, sebuah daerah dapat membangun jalan, mendirikan gedung, memperluas pusat pemerintahan, dan memperkenalkan berbagai program pembangunan. Namun, tanpa kesadaran budaya, kemajuan fisik berisiko berjalan lebih cepat daripada pertumbuhan identitas masyarakatnya.

 

Jangan Sampai Tradisi Hanya Menjadi Foto di Dinding

Ada ironi yang kerap mengiringi perjalanan kebudayaan: sebuah tradisi dapat memperoleh tepuk tangan di panggung besar, tetapi kehilangan ruang dalam kehidupan masyarakatnya sendiri.

Ia dipuji ketika ditampilkan di hadapan tamu penting. Namanya disebut dalam sambutan resmi. Gambarnya dipasang dalam materi promosi. Namun, setelah acara berakhir, keberlanjutannya kembali bergantung pada kesediaan segelintir orang untuk merawatnya.

Keadaan seperti itu perlu dihindari.

Tari Sombah Cerano tidak seharusnya hanya muncul ketika pemerintah menerima kunjungan atau ketika sekolah menggelar acara tertentu. Ia perlu hidup dalam proses pendidikan, kegiatan kebudayaan, dan ruang-ruang sosial masyarakat.

Demikian pula Pacu Jalur. Popularitas sebuah tradisi semestinya menjadi kesempatan untuk memperdalam pemahaman masyarakat terhadap sejarah, nilai, dan komunitas yang menjaganya.

Jangan sampai masyarakat hanya mengenal bentuk luar sebuah kebudayaan, tetapi kehilangan pengetahuan tentang makna yang membuatnya berharga.

Kebudayaan bukan ornamen yang ditempelkan pada pembangunan agar sebuah daerah tampak memiliki identitas. Kebudayaan merupakan salah satu sumber yang membentuk cara masyarakat memahami kehidupan, hubungan sosial, dan masa depannya.

Karena itu, mengembalikan Sombah Cerano ke sekolah-sekolah perlu disertai upaya menghidupkan pengetahuan yang menyertainya.

Siapa penciptanya? Bagaimana perjalanan karyanya? Dalam konteks apa tarian itu digunakan? Nilai apa yang terkandung dalam tata cara persembahan? Bagaimana karya tersebut berkembang dan apa yang perlu dilakukan agar generasi berikutnya dapat meneruskannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar bahan diskusi akademis. Ia merupakan jalan untuk membuat kebudayaan tetap memiliki hubungan dengan manusia yang mewarisinya.

Dan ketika pengetahuan tersebut disampaikan dengan cara yang menarik, generasi muda tidak hanya menjadi penonton tradisi, tetapi dapat tumbuh sebagai pelaku, peneliti, pencipta, dan penjaganya.

 

Jalan Pulang Sebuah Kebudayaan

Kisah Epi Martison memperlihatkan bahwa perjalanan kebudayaan dapat dimulai dari sebuah gagasan, berkembang menjadi karya, menyeberangi batas wilayah, lalu kembali memberi inspirasi bagi tanah kelahirannya.

Tari Sombah Cerano lahir sebagai karya seni persembahan. Prosesi Maelo Jal uar membawanya ke panggung yang lebih luas melalui pertunjukan yang memadukan tari, jalur asli, suasana rimbo, dan keterlibatan penonton.

Tari Jalur Kuansing menjadi bagian dari pengalaman Epi memperkenalkan identitas daerah melalui panggung internasional. Sementara itu, kisah mengenai Tugu Cerano membuka ruang untuk menelusuri lebih jauh hubungan antara karya seni dan simbol yang hadir di ruang publik Kuansing.

Semua itu memperlihatkan bahwa kebudayaan bukan benda mati yang hanya diwariskan dari masa lalu. Ia terus bergerak melalui kreativitas manusia, pengalaman kolektif, dan kemampuan masyarakat memberi makna baru tanpa memutus hubungan dengan sejarahnya.

Namun, perjalanan tersebut tidak boleh hanya berhenti sebagai cerita seorang seniman.

Kisah-kisah seperti ini perlu dihimpun, diperiksa, dan diwariskan dalam bentuk dokumentasi yang dapat diakses oleh masyarakat. Pemerintah perlu memberikan ruang bagi pelaku seni. Sekolah perlu menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari pembelajaran yang berkesinambungan. Media perlu merekam perjalanan para seniman agar kontribusi mereka tidak hilang di antara pergantian zaman.

Sebab, sebuah kebudayaan dapat kehilangan masa depannya bukan hanya ketika pertunjukannya berhenti, tetapi juga ketika masyarakat tidak lagi mengetahui siapa yang merintisnya, bagaimana ia tumbuh, dan nilai apa yang hendak diwariskannya.

Di Kuantan Singingi, kembalinya Tari Sombah Cerano ke sekolah-sekolah dapat menjadi awal dari perjalanan yang lebih besar.

Bukan sekadar menghidupkan kembali sebuah tarian, melainkan menghidupkan kesadaran bahwa jati diri daerah tidak dibangun dalam sehari dan tidak dapat dijaga oleh satu generasi saja.

Ia tumbuh dari ingatan yang dirawat, karya yang dihargai, tradisi yang dipahami, serta kebijakan yang memberi tempat bagi kebudayaan untuk terus berkembang.

Pada akhirnya, kemajuan tidak harus membuat sebuah daerah berpaling dari masa lalunya. Justru, daerah yang mengenal akar sejarahnya memiliki kesempatan lebih besar untuk melangkah dengan kesadaran tentang siapa dirinya.

Tari boleh bergerak mengikuti zaman. Panggung boleh berpindah dari kampung ke ibu kota, dari TMII ke Singapura, bahkan ke berbagai ruang pertunjukan dunia. Teknologi boleh mengubah cara promosi. Karya baru boleh lahir dengan bentuk yang lebih dinamis dan kreatif.

Namun, di tengah semua perubahan itu, ada satu hal yang tidak boleh tercerabut: hubungan antara karya, masyarakat, dan tanah kebudayaan yang melahirkannya.

Sebab, sejauh apa pun sebuah karya berjalan, selalu ada rumah sejarah yang membuatnya berarti.

Dan bagi Kuantan Singingi, jalan pulang itu bernama jati diri—sebuah kesadaran bahwa menjadi maju bukan berarti meninggalkan akar, melainkan menjadikannya pijakan untuk tumbuh lebih tinggi.

Kebudayaan tidak meminta sebuah daerah berhenti melangkah. Ia hanya mengingatkan agar dalam perjalanan menuju masa depan, sebuah daerah tidak lupa jalan pulang menuju dirinya sendiri.*(ald)


Baca Juga