Kilasriau.com - Dalam rangka semarak Hari Santri dan Hari Sumpah Pemuda Tahun 2026, Majelis Pesantren Dakwah Indonesia (MPDI) bersama Asosiasi Pendidikan Salafiyah (ASPENSA) Provinsi Riau menggelar Seminar Kebangsaan bertajuk "Semangat Pemuda dan Santri Menuju Indonesia Emas 2045".
Kegiatan yang sarat akan nilai kebangsaan dan keagamaan tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Pekanbaru, H. Markarius Anwar di Pondok Pesantren (PP) Baitul Qur’an Riau Kampus Putra, Jalan Toman, Pekanbaru, pada Sabtu, 24/10/2026.
Pelaksanaan seminar ini turut dihadiri oleh jajaran narasumber, di antaranya Ketua ASPENSA Provinsi Riau KH. Irwan Said, Ketua MPDI Provinsi Riau Buya Royan Syafitra, Kadispora Kota Pekanbaru Yuliarso,, serta Tokoh Pemuda Pekanbaru sekaligus secara zoom, Taruna AKPOL 59 Abdul Rafi Aziz.
Kasi PD Pontren Kemenag Kota Pekanbaru, H. Zulfa Hendri turut hadir memaparkan materi utama dalam kegiatan tersebut. Dalam pemaparannya. Ia menegaskan materi komprehensif mengenai rekam jejak historis, arah baru, hingga transformasi ekosistem pesantren.
Ia menegaskan bahwa pesantren merupakan soko guru dan sistem pendidikan pribumi asli (indigenous education system) tertua di Nusantara yang telah tumbuh sejak abad ke-14, jauh sebelum sistem sekolah kolonial Belanda diperkenalkan. Eksistensi ini dibuktikan melalui berdirinya pondok pesantren tertua seperti PP Al-Kahfi Somolangu Kebumen pada tahun 1475.
Lebih lanjut, H. Zulfa Hendri menguraikan mata rantai sejarah perjuangan kemerdekaan yang menghubungkan Hari Santri dengan Hari Pahlawan.
Ia menjelaskan bagaimana Fatwa Jihad KH. Hasyim Asy'ari pada 17 September 1945 menjadi respons atas pertanyaan Presiden Soekarno mengenai hukum membela tanah air, yang kemudian disusul oleh Insiden Bendera di Hotel Yamato pada 19 September 1945.
Perjuangan tersebut semakin terkonsolidasi melalui Deklarasi Resolusi Jihad NU di Surabaya pada 22 Oktober 1945 yang menetapkan bahwa membela kemerdekaan Indonesia adalah kewajiban suci, hingga akhirnya memicu perlawanan total rakyat pada puncak Pertempuran Surabaya 10 November 1945.
Berkenaan dengan mutu lulusan, H. Zulfa Hendri menyampaikan bahwasanya outcome atau keluaran daripada santri pesantren tidak hanya kuat dalam keilmuan agama (tafaqquh fid-din) lewat pendalaman kitab kuning dan hafalan Al-Qur'an, melainkan santri juga harus mampu adaptif dan relevan dengan kebutuhan kompetensi abad ke-21.
Fakta empiris, membuktikan bahwa hasil pendidikan pesantren terbukti sangat relevan dengan perkembangan zaman, yang dibuktikan dengan lahirnya para pemimpin bangsa dari kalangan santri mulai dari presiden, menteri, hingga berkiprah di berbagai ruang profesional lainnya.
"Pendidikan pesantren terbukti relevan dengan perkembangan zaman dibuktikan sudah adanya presiden dari kalangan santri, menteri juga demikian, hingga ke ruang profesional lain termasuk para narasumber. Ini kan ada yang dari taruna Akpol alumni pondok pesantren juga,", ungkapnya di hadapan para peserta seminar.
Untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, ia juga menekankan perlunya arah baru melalui transformasi ekosistem pesantren secara menyeluruh. Pesantren didorong untuk mengadopsi ekosistem hibrida yang memadukan pendalaman ilmu agama dengan sains, teknologi digital, kecerdasan buatan, serta bahasa asing. Selain itu, kemandirian ekonomi pesantren terus diperkuat melalui akselerasi Badan Usaha Milik Pesantren (BUMPES) dan Kampung Kemandirian Pesantren.
Aspek keamanan fisik dan psikologis santri pun menjadi prioritas mutlak, di samping tata kelola administrasi pesantren yang diarahkan menuju digitalisasi berbasis sistem terintegrasi seperti SIMTREN dan LMS, serta penjaminan mutu melalui peran Majelis Masyayikh.
Puncak rangkaian acara seminar ini, semakin bermakna dengan dilaksanakannya "Deklarasi Pesantren Pekanbaru Aman" sebagai bentuk komitmen bersama dalam mewujudkan lingkungan pesantren yang ramah anak di Kota Pekanbaru.
Aksi deklarasi tersebut dipandu langsung oleh Kasi PD Pontren Kemenag Kota Pekanbaru, H. Zulfa Hendri dan diikuti dengan penuh khidmat oleh seluruh peserta, para asatidz, jajaran narasumber, serta Wakil Wali Kota Pekanbaru.
Melalui kegiatan ini, para santri dan pemuda di Kota Pekanbaru diharapkan mampu mengambil peran strategis sebagai generasi unggul, mandiri, dan berakhlakul karimah dalam mengawal pembangunan bangsa.