Gerindra Kuansing Turun Langsung Bantu Warga Terdampak Kabut Asap, Bagikan 1.000 Masker dan Sembako

KUANSING (KilasRiau.com) — Di tengah ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kepedulian terhadap masyarakat tidak cukup berhenti pada imbauan untuk menjaga kesehatan. Bagi sebagian warga, terutama pekerja sektor informal yang menggantungkan hidup dari aktivitas di jalanan, berhenti bekerja bukanlah pilihan yang mudah.

Di tengah kondisi tersebut, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, turun langsung ke tengah masyarakat dengan menggelar aksi sosial berupa pembagian sekitar 1.000 masker dan paket sembako, Selasa (20/10/2026).

Kegiatan yang dipusatkan di depan Kantor DPC Partai Gerindra Kuansing, Jalan Proklamasi, Sungai Jering, Kecamatan Kuantan Tengah, itu menyasar masyarakat yang terdampak kabut asap, khususnya para tukang ojek pangkalan yang setiap hari harus beraktivitas di ruang terbuka demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Aksi tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang menghadapi risiko paparan asap sekaligus tekanan ekonomi akibat kondisi lingkungan yang kurang bersahabat.

Bagi para tukang ojek pangkalan, jalanan bukan sekadar tempat bekerja, melainkan sumber penghidupan bagi keluarga. Ketika kabut asap menyelimuti wilayah, mereka menghadapi dilema: menjaga kesehatan atau tetap bekerja demi memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam situasi seperti inilah bantuan masker dan sembako menjadi bentuk kepedulian yang menyentuh kebutuhan langsung masyarakat.

Ketua DPC Partai Gerindra Kuansing, Reky Fitro, S.Pt., M.Pt., mengatakan kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap, terutama kelompok pekerja yang harus tetap beraktivitas di luar ruangan.

"Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat Kuantan Singingi yang terdampak kabut asap, terutama saudara-saudara kita yang bekerja di jalanan, seperti para tukang ojek pangkalan," ujar Reky.

Menurutnya, para pekerja informal menghadapi tantangan tersendiri ketika kondisi udara memburuk. Di satu sisi, mereka perlu menjaga kesehatan, tetapi di sisi lain, kebutuhan keluarga menuntut mereka tetap bekerja.

"Mereka harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, kami ingin hadir dan berbagi melalui pembagian masker serta paket sembako. Mudah-mudahan bantuan ini dapat memberikan manfaat dan sedikit meringankan beban masyarakat," katanya.

Reky menegaskan, kegiatan sosial tersebut bukan dimaksudkan sebagai solusi tunggal untuk mengatasi persoalan karhutla. Namun, dalam situasi darurat, kepedulian melalui tindakan nyata tetap diperlukan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak yang dirasakan secara langsung.

"Kami menyadari bahwa pembagian masker bukanlah solusi untuk menyelesaikan persoalan karhutla. Namun, dalam kondisi seperti ini, ada hal yang bisa kita lakukan untuk membantu masyarakat, dan itulah yang ingin kami wujudkan melalui kegiatan hari ini," tuturnya.

Pernyataan tersebut menempatkan bantuan sosial dalam kerangka yang lebih proporsional: membantu masyarakat menghadapi dampak saat ini, sembari menyadari bahwa penyelesaian persoalan lingkungan membutuhkan langkah yang lebih mendasar dan berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, kader Gerindra Kuansing menegaskan bahwa keterlibatan mereka merupakan bagian dari komitmen untuk hadir dan membantu masyarakat, sejalan dengan arahan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, agar kader turun langsung membantu warga.

"Alhamdulillah, hari ini kami, kader Gerindra Kuantan Singingi, turun langsung membantu masyarakat dengan membagikan masker dan sembako, khususnya kepada warga yang terdampak kabut asap. Salah satunya saudara-saudara kita yang bekerja sebagai tukang ojek pangkalan," demikian pernyataan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Kader Gerindra Kuansing berharap bantuan yang disalurkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang sedang menghadapi dampak kabut asap.

Mereka juga berharap kegiatan serupa dapat menggerakkan kader Gerindra di berbagai wilayah Kuansing untuk mengambil bagian dalam aksi sosial sesuai kebutuhan masyarakat di daerah masing-masing.

"Kami berharap bantuan ini bisa sedikit meringankan beban masyarakat. Kami juga berharap kegiatan seperti ini dapat diikuti oleh kader Gerindra di seluruh Kuansing, sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari kepedulian bersama," lanjut pernyataan tersebut.

Pesan tersebut menekankan pentingnya menerjemahkan komitmen organisasi ke dalam tindakan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dalam kehidupan publik, keberadaan organisasi politik tidak hanya berkaitan dengan aktivitas kelembagaan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kegiatan sosial yang menjawab kebutuhan warga. Meski demikian, keberlanjutan dan manfaat nyata tetap menjadi ukuran penting bagi setiap kegiatan kemasyarakatan.

Dalam aksi sosial tersebut, DPC Gerindra Kuansing menyalurkan sekitar 1.000 masker dan paket sembako.

Masker diberikan sebagai bentuk bantuan awal untuk membantu mengurangi paparan partikel di udara, sedangkan paket sembako ditujukan untuk meringankan kebutuhan sehari-hari masyarakat penerima bantuan.

Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Sekretaris DPC Gerindra Kuansing, Hengki Gusrianto, S.H., M.H.

Dari unsur Fraksi Gerindra, hadir Gusmir Indra, S.H., Dasver Librian, H. Solehudin, S.Sos., dan Hardiamon.

Sejumlah ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC), pengurus sayap Partai Gerindra, serta Laskar Gerindra Kuansing juga turut terlibat dalam kegiatan tersebut.

Kehadiran unsur pengurus dan kader partai itu memperlihatkan keterlibatan berbagai elemen internal Gerindra dalam pelaksanaan kegiatan sosial di tengah masyarakat.

Namun, nilai sebuah aksi sosial tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah bantuan yang dibagikan. Ketepatan sasaran, manfaat yang dirasakan penerima, dan kesinambungan kepedulian juga menjadi bagian penting dalam mengukur dampak kegiatan tersebut.

Di balik kegiatan pembagian masker dan sembako, terdapat persoalan yang lebih besar dan membutuhkan perhatian bersama: penanganan karhutla beserta dampaknya terhadap kesehatan dan kehidupan ekonomi masyarakat.

Kabut asap bukan sekadar gangguan terhadap jarak pandang. Partikel halus yang terkandung di dalamnya dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan dan masyarakat yang memiliki paparan tinggi karena pekerjaan.

Para tukang ojek pangkalan, pedagang kaki lima, pekerja lapangan, dan kelompok pekerja informal lainnya menghadapi tantangan tersendiri karena aktivitas mereka sulit dipisahkan dari kondisi udara di luar ruangan.

Dalam situasi tersebut, pembagian masker merupakan bentuk kepedulian yang patut ditempatkan sebagai bantuan awal. Namun, perlindungan kesehatan juga membutuhkan informasi kualitas udara yang mudah diakses, edukasi mengenai risiko paparan, akses terhadap layanan kesehatan, serta anjuran yang sesuai dengan kondisi pencemaran.

Perlu dipahami pula bahwa tidak semua jenis masker memberikan perlindungan yang sama terhadap partikel halus seperti PM2.5. Karena itu, penggunaan perlindungan pernapasan yang sesuai dan pengurangan aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk tetap menjadi langkah penting.

Di sisi lain, akar persoalan harus ditangani melalui pencegahan kebakaran, pengawasan kawasan rawan, kesiapsiagaan petugas, dan penegakan hukum apabila ditemukan pelanggaran.

Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, instansi lingkungan hidup, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen publik memiliki peran masing-masing yang perlu dijalankan secara terkoordinasi.

Sebab, keberhasilan penanganan karhutla tidak semestinya hanya diukur dari seberapa cepat bantuan dibagikan setelah masyarakat terdampak. Ukuran yang lebih mendasar adalah seberapa efektif kebakaran dicegah, sumber pencemaran ditangani, dan masyarakat dilindungi dari ancaman yang berulang.

Reky Fitro juga berharap seluruh pihak meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, memperkuat upaya pencegahan karhutla, dan menempatkan kesehatan masyarakat sebagai perhatian bersama.

"Kami juga berharap seluruh pihak dapat bersama-sama menjaga lingkungan, mencegah kebakaran hutan dan lahan, serta meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan masyarakat. Persoalan kabut asap bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan membutuhkan kesadaran dan kerja sama semua unsur," ungkapnya.

Sejalan dengan harapan tersebut, kader Gerindra Kuansing juga berharap persoalan karhutla dapat segera teratasi sehingga kondisi udara kembali membaik dan masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih aman dan nyaman.

Harapan itu menjadi penting karena dampak kabut asap tidak hanya dirasakan ketika api masih menyala. Gangguan kesehatan, hambatan aktivitas ekonomi, dan kekhawatiran masyarakat dapat terus berlanjut selama kualitas udara belum pulih.

Oleh sebab itu, penanganan karhutla memerlukan kesinambungan antara respons darurat, pemulihan kondisi lingkungan, dan pencegahan agar kebakaran tidak kembali terjadi.

Aksi sosial DPC Gerindra Kuansing memperlihatkan salah satu bentuk keterlibatan organisasi politik dalam membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan.

Pembagian sekitar 1.000 masker dan paket sembako menjadi bantuan konkret bagi masyarakat penerima, terutama para tukang ojek pangkalan yang harus tetap bekerja di tengah ancaman kabut asap.

Namun, kepedulian sosial akan memiliki makna yang lebih luas apabila tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Perhatian terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan yang bersih, dan pencegahan karhutla merupakan pekerjaan bersama yang membutuhkan konsistensi.

Bagi masyarakat kecil, udara bersih bukanlah kemewahan. Udara bersih merupakan kebutuhan dasar yang menentukan kesehatan, keberlangsungan pekerjaan, dan kualitas hidup keluarga.

Mereka tidak seharusnya terus dihadapkan pada pilihan sulit antara mencari nafkah dan menghadapi risiko pencemaran udara.

Karena itu, bantuan sosial perlu berjalan berdampingan dengan upaya serius untuk menyelesaikan persoalan yang menyebabkan masyarakat membutuhkan bantuan tersebut.

Melalui kegiatan ini, DPC Gerindra Kuansing menyampaikan pesan tentang pentingnya hadir di tengah masyarakat, berbagi ketika warga menghadapi kesulitan, dan membangun solidaritas dalam menghadapi persoalan bersama.

Pada akhirnya, harapan agar Kuantan Singingi segera pulih dari kabut asap tidak cukup diwujudkan melalui doa dan imbauan. Harapan itu membutuhkan kerja nyata, koordinasi lintas sektor, pencegahan yang konsisten, serta komitmen untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan masker ketika kabut asap datang. Mereka juga membutuhkan kepastian bahwa lingkungan tempat mereka hidup dan mencari nafkah akan terus dijaga.*(ald)


Baca Juga