MUSWIL KBB KE-III RIAU: MERAJUT PERSAUDARAAN, MENJAGA MARWAH BANJAR

Kilasriau.com - Musyawarah Wilayah (Muswil) Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) ke-III Provinsi Riau bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan.

Lebih dari itu, inilah momentum untuk menyatukan kembali hati, merapatkan barisan, dan mengembalikan marwah Bubuhan Banjar di Bumi Lancang Kuning.

Pertama tama, penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Abah H. Syamsudin Uti atas pengabdian dan kontribusinya dalam membesarkan KBB di Provinsi Riau.

Jasa para pendahulu patut dihormati dan dilanjutkan dengan semangat kebersamaan.

Namun, kita juga harus berani mengakui bahwa masih ada sekat dan jarak di antara sesama Bubuhan Banjar.

Munculnya wadah lain yang membawa identitas Banjar, termasuk KBBR, menjadi tantangan yang perlu disikapi dengan kedewasaan dan semangat persaudaraan.

Berbeda wadah bukan berarti berbeda asal-usul. Berbeda pandangan bukan berarti harus kehilangan persaudaraan.

Allah SWT mengingatkan dalam Ali 'Imran ayat 103:

“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”

Rasulullah  Saw  juga bersabda:

“Janganlah kalian saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim).

Ayat dan hadis ini hendaknya menjadi renungan bagi kita semua.

Jangan sampai kita bangga menyebut diri sebagai orang Banjar, tetapi justru sulit duduk bersama dengan saudara sendiri.

Muswil ini harus menjadi titik balik. Kita berharap tidak ada lagi sekat yang sengaja dipelihara dan tidak ada lagi ego kelompok yang mengalahkan kepentingan bersama. KBB harus menjadi rumah besar yang terbuka, tempat seluruh Bubuhan Banjar merasa diterima, dihargai, dan memiliki tanggung jawab yang sama.

_Regenerasi untuk Persatuan_

Dalam pandangan penulis, salah satu sosok yang patut dipertimbangkan dalam regenerasi kepemimpinan KBB adalah _KH. Muhammad Mursyid, M.Pd.I.,_ anggota DPD RI, yang saat ini  juga dipercaya sebagai Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) se-Riau, Ketua IKADI Provinsi Riau, dan Ketua Tapak Suci Provinsi Riau.

Pengalaman dan amanah organisasi yang beliau emban merupakan modal yang patut dipertimbangkan untuk memperkuat KBB, memperluas jejaring, dan mengangkat peran Bubuhan Banjar di tengah masyarakat.

Harapan kita, siapa pun yang kelak mendapat amanah, mampu menjadi pemimpin yang merangkul, mendengarkan, dan menyatukan. Sebab, yang dibutuhkan KBB bukan sekadar sosok yang mampu memimpin organisasi, tetapi pemimpin yang mampu menyatukan hati yang pernah berjarak dan merangkul saudara yang pernah berjalan berbeda arah.

Tentu, pilihan kepemimpinan harus ditentukan melalui musyawarah yang terbuka dan mekanisme organisasi yang berlaku.

Rakat Mufakat, Waja Sampai Kaputing

Inilah saatnya kita menghidupkan kembali falsafah perjuangan Bubuhan Banjar: “Rakat Mufakat, Waja Sampai Kaputing.”

Rakat Mufakat mengingatkan kita akan pentingnya kebersamaan, persatuan, dan kesepakatan dalam musyawarah. Sementara Waja Sampai Kaputing mengandung semangat keteguhan dan perjuangan sampai tujuan tercapai.

Jangan sampai energi kita habis untuk mempertahankan ego, sementara generasi muda menunggu teladan tentang arti kebersamaan.

Jangan sampai kepengurusan berganti, tetapi perpecahan tetap diwarisi.

Jangan sampai kita mewariskan nama besar Banjar kepada anak cucu, tetapi gagal mewariskan persatuan.

Muswil yang berhasil bukan hanya melahirkan ketua baru, melainkan membuka lembaran baru bagi persaudaraan seluruh Bubuhan Banjar di Riau.

Mari hormati jasa para pendahulu, berikan ruang kepada generasi penerus, dan satukan langkah demi masa depan yang lebih baik.

Sebab, pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah siapa yang paling lama berkuasa, tetapi siapa yang mampu mempersatukan saudara-saudaranya.

Rakat Mufakat, Waja Sampai Kaputing!

Bubuhan Banjar bersatu, KBB menjadi rumah bersama, dan marwah Banjar kita jaga sepanjang masa.


Baca Juga