Bukan Sekadar Ceramah: Tabligh Akbar Koto Taluk Menguji Kembali Makna Ukhuwah di Tengah Masyarakat

KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) — Ketika kehidupan sosial semakin riuh oleh perbedaan, masyarakat membutuhkan lebih banyak ruang untuk bertemu, mendengar, dan saling menguatkan. Masjid, dalam konteks itu, tidak semestinya hanya menjadi tempat orang datang untuk menunaikan kewajiban ritual, lalu pulang tanpa membawa ikatan sosial yang lebih kuat.

Semangat itulah yang hendak dihidupkan melalui Tabligh Akbar bertajuk “Dalam Rangka Mempererat Ukhuwah Islamiyah” yang akan digelar di Masjid Jannatul Ma’wa, Dusun Topan, Desa Koto Taluk, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, Ahad, 4 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut akan menghadirkan Ustadz K.H. Muhammad Idrus Ramli sebagai penceramah.

Tabligh Akbar dijadwalkan berlangsung setelah pelaksanaan salat Isya berjamaah dan terbuka bagi masyarakat luas.

Panitia mengundang tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, kaum ibu, serta keluarga dan anak-anak untuk hadir bersama dalam kegiatan tersebut.

Bagi panitia, tabligh akbar bukan sekadar agenda keagamaan yang selesai ketika mikrofon dimatikan dan jamaah meninggalkan masjid. Ada pesan yang hendak ditegaskan: ukhuwah harus dirawat sebagai praktik sosial, bukan sekadar jargon yang indah diucapkan.

Ukhuwah Islamiyah sering kali mudah menjadi tema ceramah. Namun tantangan sebenarnya justru dimulai setelah ceramah selesai.

Persaudaraan diuji dalam kehidupan sehari-hari—ketika masyarakat berbeda pendapat, ketika kepentingan bertabrakan, ketika muncul perbedaan pilihan, bahkan ketika seseorang harus berhadapan dengan tetangga yang tidak sepemikiran.

Karena itu, membangun ukhuwah sesungguhnya bukan pekerjaan satu malam.

Ia membutuhkan kesediaan untuk saling menghormati, menahan diri, menghindari prasangka, memperluas silaturahmi, dan menempatkan kepentingan bersama di atas ego kelompok.

Dalam kerangka itulah kegiatan di Masjid Jannatul Ma’wa dapat dibaca sebagai bagian dari upaya masyarakat menjaga ruang sosial-keagamaan agar tetap hidup.

Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi pusat pendidikan moral, pembentukan karakter, silaturahmi, dan penguatan solidaritas masyarakat.

Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, masjid menghadapi tantangan yang tidak sederhana.

Generasi muda hidup dalam ruang digital yang nyaris tanpa batas. Informasi keagamaan beredar dalam hitungan detik. Perdebatan identitas mudah menyebar. Perbedaan pendapat sering kali berubah menjadi pertentangan.

Dalam situasi semacam itu, masyarakat membutuhkan ruang keagamaan yang mampu menghadirkan ilmu sekaligus kesejukan.

Masjid dapat memainkan peran tersebut.

Namun peran itu tidak akan lahir hanya dari bangunan yang megah. Ia lahir dari aktivitas yang hidup, jamaah yang terlibat, ulama yang memberi pencerahan, serta masyarakat yang menjadikan masjid sebagai ruang bersama.

Tabligh Akbar di Koto Taluk karena itu memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar acara ceramah.

Ia menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, berkumpul dalam satu ruang, mendengarkan ilmu, dan mengingat kembali bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan persaudaraan.

Kehadiran K.H. Muhammad Idrus Ramli diharapkan memberikan warna tersendiri bagi kegiatan tersebut.

Panitia berharap tausiyah yang disampaikan mampu menjadi siraman rohani bagi jamaah sekaligus membuka ruang refleksi tentang bagaimana nilai-nilai agama diterapkan dalam kehidupan nyata.

Sebab ukuran keberhasilan sebuah kegiatan keagamaan pada akhirnya bukan semata-mata seberapa banyak jamaah yang hadir.

Yang lebih penting adalah apakah ilmu yang disampaikan mampu mengubah cara manusia memperlakukan manusia lainnya.

Apakah setelah pulang dari masjid, seseorang menjadi lebih santun kepada tetangganya.

Lebih mudah memaafkan.

Lebih berhati-hati menyebarkan informasi.

Lebih mampu menghargai perbedaan.

Dan lebih peduli terhadap persoalan masyarakat di sekitarnya.

Di situlah nilai sebuah tabligh menemukan maknanya.

Panitia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum memperkuat silaturahmi.

“Kami mengundang bapak, ibu, serta saudara-saudara sekalian untuk bersama-sama hadir di Masjid Jannatul Ma’wa. Mari kita jadikan malam ini sebagai malam yang penuh berkah dengan mendengarkan ilmu agama dan mempererat ukhuwah,” ujar perwakilan panitia melalui rilis yang diterima redaksi.

Pesan tersebut sederhana, tetapi relevan: masyarakat tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan pembangunan batin dan sosial.

Jalan, jembatan, gedung, dan berbagai infrastruktur publik memang penting. Tetapi masyarakat juga membutuhkan kepercayaan, solidaritas, etika, dan persaudaraan.

Sebab sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh beton dan anggaran. Ia juga dibangun oleh karakter manusia yang hidup di dalamnya.

Dari Masjid Jannatul Ma’wa, Dusun Topan, Desa Koto Taluk, pesan itu hendak kembali ditegaskan: bahwa ukhuwah bukan sekadar kata yang dipajang dalam spanduk kegiatan keagamaan.

Ukhuwah adalah pekerjaan panjang—merawat hati, menjaga lisan, menghormati perbedaan, memperkuat silaturahmi, dan menghadirkan agama sebagai sumber kedamaian dalam kehidupan masyarakat.

Tabligh Akbar pada Ahad, 4 Oktober 2026, diharapkan menjadi salah satu ikhtiar kecil untuk merawat pekerjaan besar tersebut.*(ald)


Baca Juga