Kilasriau.com - Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) periode 2026–2031 tidak boleh berhenti sebagai agenda rutin pergantian kepengurusan. Di tengah perubahan perilaku politik masyarakat, Musda harus menjadi momentum koreksi sekaligus titik balik untuk menguji relevansi mesin organisasi Golkar menghadapi medan politik masa depan.
Plt. Sekretaris AMPI Inhil, David Aqmal, menilai tantangan Golkar hari ini bukan sekadar mempertahankan atau merombak struktur, melainkan memastikan struktur tersebut benar-benar hidup, bekerja, dan terkoneksi hingga akar rumput.
“Kalau yang berubah hanya pengurusnya, sementara cara kerja politiknya tetap sama, kita sebenarnya belum melakukan regenerasi. Musda harus melahirkan game changer: perubahan cara berpikir, strategi, gagasan, hingga keberanian membuka ruang bagi generasi baru,” ujar David.
Menurutnya, sejarah Golkar menunjukkan bahwa kekuatan politik dibangun melalui organisasi, konsolidasi, jaringan dan kemampuan membaca perubahan. Namun, medan politik hari ini telah berubah. Kekuatan konvensional harus dipadukan dengan data, teknologi, komunikasi digital dan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
David menegaskan, menghadapi Pemilu mendatang, Golkar tidak boleh bekerja secara musiman.
“Tim pemenangan tidak boleh baru dibentuk ketika pemilu sudah di depan mata. Harus menjadi sistem kerja sejak sekarang: membaca data pemilih, memetakan wilayah, memperkuat basis kader, membangun komunikasi publik, dan mengukur kerja politik secara berkala,” katanya.
Ia juga mengingatkan, struktur besar tanpa inovasi hanya akan menjadi struktur administratif.
“Kita harus mengubah paradigma: dari sekadar memiliki struktur menjadi memiliki mesin organisasi yang hidup; dari sekadar memiliki kader menjadi kader yang benar-benar bekerja; dan dari sekadar hadir dalam kontestasi politik menjadi hadir dalam persoalan masyarakat,” tegasnya.
Bagi David, regenerasi juga harus memberi ruang substantif kepada generasi muda. Anak muda tidak boleh sekadar dijadikan pelengkap atau “tim hore” setiap momentum politik, tetapi harus dilibatkan dalam merumuskan strategi, gagasan dan komunikasi politik partai.
“Generasi muda memahami ekosistem digital dan perubahan pola komunikasi masyarakat. Energi mereka harus dipadukan dengan pengalaman kader senior. Di situlah regenerasi menjadi kekuatan, bukan sekadar pergantian nama dalam struktur,” ujarnya.
David menutup dengan menegaskan bahwa sejarah panjang Golkar harus menjadi modal untuk membaca masa depan, bukan alasan untuk terjebak pada cara-cara lama.
“Sejarah memberi Golkar pengalaman. Tetapi masa depan menuntut inovasi. Jika Musda mampu mengawinkan pengalaman, regenerasi dan strategi baru, maka Musda XI bukan sekadar forum organisasi, melainkan titik awal pembaruan untuk membangun kembali Golkar sebagai kekuatan politik yang kompetitif menuju Pemilu mendatang,” pungkasnya