Pesta Usai, Honor Dipertanyakan: Panitia hingga Penari Tari Massal Pacu Jalur 2026 Disebut Belum Dibayar

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Tepuk tangan telah reda. Perahu-perahu telah meninggalkan gelanggang. Panggung kemeriahan Pacu Jalur Tradisional Event Nasional 2026 pun perlahan dibongkar. Namun, di balik pesta yang telah usai, menyisakan satu pertanyaan yang belum menemukan jawaban: sudahkah seluruh orang yang bekerja untuk menyukseskannya menerima hak mereka?

Pertanyaan itu mencuat setelah informasi mengenai honor sejumlah panitia yang disebut belum diterima mulai menjadi sorotan. Belakangan, persoalan serupa juga disebut menyentuh para penari yang terlibat dalam tari massal pada rangkaian kegiatan tersebut.

Dengan demikian, isu honorarium tidak lagi sebatas persoalan internal kepanitiaan. Jika informasi tersebut benar, ada lebih banyak pihak yang perlu mendapatkan kejelasan mengenai status pembayaran atas pekerjaan mereka.

Padahal, Festival Pacu Jalur KEN 2026 bukan kegiatan kecil.

Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi secara resmi menyebut festival tersebut sebagai salah satu pesta budaya besar daerah. Festival dibuka pada 19 Agustus 2026 dan ditutup pada 23 Agustus 2026 di kawasan Tepian Narosa, Teluk Kuantan.

Sebanyak lebih dari 200 jalur tercatat mengikuti perhelatan tersebut. Pemerintah daerah juga menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh pihak yang bekerja menyukseskan acara.

Kini, setelah seluruh rangkaian selesai, ukuran keberhasilan penyelenggaraan tidak semestinya berhenti pada meriahnya acara.

Ada pertanyaan lain yang jauh lebih mendasar:

Bagaimana pertanggungjawaban terhadap orang-orang yang bekerja di balik kemeriahan tersebut?

Pacu Jalur memang merupakan tradisi yang hidup dari semangat gotong royong masyarakat Kuantan Singingi.

Tetapi ketika sebuah kegiatan dikemas sebagai event nasional dan melibatkan anggaran pemerintah, maka penyelenggaraannya juga membawa konsekuensi administratif dan pertanggungjawaban publik.

Masyarakat berhak mengetahui bagaimana anggaran digunakan, termasuk bagaimana pembayaran kepada panitia, tenaga pendukung, pelaku seni dan pihak lain yang terlibat dilakukan.

Apalagi Pemerintah Kabupaten Kuansing sendiri secara terbuka menempatkan Pacu Jalur sebagai momentum budaya, pariwisata dan penggerak ekonomi masyarakat.

Pada malam penutupan, pemerintah bahkan memberikan penghargaan khusus kepada sejumlah pelaku seni tradisi yang dinilai berkontribusi terhadap keberlangsungan Pacu Jalur.

Ironisnya, di tengah penghargaan terhadap pelaku budaya, muncul informasi bahwa honor penari tari massal justru disebut belum diterima.

Jika benar, kondisi ini tentu membutuhkan penjelasan.

Bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan untuk memastikan bahwa setiap orang yang telah menjalankan tugasnya mendapatkan kepastian mengenai hak mereka.

Di sinilah persoalan mulai masuk ke wilayah yang lebih substantif.

Jika honor belum dibayarkan, masyarakat tentu wajar bertanya:

Apakah anggarannya belum tersedia?

Apakah anggaran sudah dicairkan tetapi belum didistribusikan?

Apakah masih terdapat proses administrasi?

Siapa yang bertanggung jawab melakukan pembayaran?

Berapa total honor yang harus dibayarkan kepada panitia dan penari?

Kapan pembayaran tersebut akan dilakukan?

Pertanyaan itu bukan tuduhan.

Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut merupakan bagian dari kontrol publik terhadap penyelenggaraan kegiatan yang menggunakan anggaran pemerintah.

Sebab, semakin besar sebuah event, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan setiap proses administrasinya dapat dipertanggungjawabkan.

Ada wajah lain dari sebuah pesta budaya yang jarang terlihat kamera.

Mereka yang datang lebih awal.

Mereka yang berlatih berulang kali.

Mereka yang berdiri di belakang panggung.

Mereka yang mengurus teknis acara.

Mereka yang tampil ketika ribuan mata tertuju ke panggung.

Dan mereka yang bekerja agar sebuah perhelatan nasional tampak sempurna.

Mereka bukan sekadar angka dalam sebuah daftar kepanitiaan.

Mereka adalah bagian dari mesin yang membuat sebuah event berjalan.

Karena itu, jika terdapat hak yang belum dibayarkan, penyelesaiannya semestinya menjadi bagian dari agenda pascaevent.

Pesta boleh selesai. Pertanggungjawaban tidak boleh ikut ditutup.

Ketua Panitia Pacu Jalur 2026, Andi Cahyadi, sebelumnya menyampaikan bahwa persiapan kegiatan telah dimatangkan dan panitia bekerja memastikan seluruh rangkaian pembukaan berjalan maksimal.

Setelah kegiatan berakhir, publik tentu menunggu penjelasan yang sama terbukanya mengenai tahap berikutnya: penyelesaian administrasi dan pembayaran seluruh hak pihak yang terlibat.

Terutama menyangkut informasi mengenai honor panitia dan honor penari tari massal yang kini menjadi pembicaraan.

Pihak penyelenggara memiliki ruang yang luas untuk menjelaskan kondisi sebenarnya.

Jika pembayaran memang sudah dilakukan, sampaikan kapan dan bagaimana mekanismenya.

Jika belum, jelaskan apa penyebabnya serta kapan target penyelesaiannya.

Jika masih dalam proses administrasi, publik juga berhak mengetahui sampai sejauh mana proses tersebut berjalan.

Kejelasan adalah jawaban paling sederhana untuk menghentikan spekulasi.

Pacu Jalur bukan sekadar pertandingan.

Pemerintah daerah sendiri menempatkannya sebagai identitas budaya, daya tarik pariwisata dan bagian dari upaya memperkenalkan Kuantan Singingi kepada dunia.

Karena itu, tata kelolanya pun harus mampu menunjukkan wajah yang sama: terbuka, tertib dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sorotan mengenai honor panitia dan penari bukan semata-mata soal nominal.

Lebih jauh, ini menyangkut kepercayaan.

Kepercayaan para pekerja yang telah menjalankan tugas.

Kepercayaan masyarakat yang ikut menyukseskan acara.

Dan kepercayaan publik terhadap pemerintah serta panitia penyelenggara.

Sebab pada akhirnya, kemegahan sebuah event tidak hanya dinilai dari seberapa meriah pembukaannya atau seberapa banyak orang memenuhi Tepian Narosa.

Ia juga dinilai dari bagaimana penyelenggara menyelesaikan pekerjaan setelah lampu panggung dimatikan.

Ketika suara gong telah berhenti, ketika perahu telah disimpan, ketika tamu telah pulang, dan ketika panggung mulai dibongkar, satu pekerjaan masih harus dituntaskan: memastikan seluruh hak mereka yang bekerja telah diselesaikan.

Dan kini publik menunggu jawabannya.

Apakah honor panitia dan penari tari massal Pacu Jalur Event Nasional 2026 benar belum dibayarkan? Jika benar, kapan seluruh hak tersebut akan dicairkan? *(ald)


Baca Juga