Sampah Menggunung Berhari-hari di Beringin Taluk, Bau Menyengat Tak Jauh dari Sekolah

TELUK KUANTAN, RIAU (KilasRiau.com)— Persoalan sampah kembali menjadi wajah buram pengelolaan kebersihan di Kabupaten Kuantan Singingi. Tumpukan sampah dalam jumlah cukup besar terlihat menggunung di sisi Jalan Tuanku Tambusai, kawasan Beringin Taluk, Kecamatan Kuantan Tengah.

Kondisinya bukan sekadar persoalan pemandangan yang mengganggu. Berdasarkan informasi yang diterima pewarta dari sejumlah masyarakat, sampah di lokasi tersebut disebut telah menumpuk selama beberapa hari dan mulai mengeluarkan bau tak sedap.

Pewarta kemudian mendatangi lokasi pada Rabu dini hari, 26 Agustus 2026, sekitar pukul 03.49 WIB. Kondisi di lapangan menunjukkan tumpukan sampah rumah tangga berserakan cukup panjang di pinggir jalan.

Berbagai jenis sampah tampak bercampur menjadi satu. Kantong plastik, sisa rumah tangga, kardus dan material lainnya menumpuk tanpa pengelolaan yang terlihat di lokasi.

Kondisi tersebut menjadi semakin memprihatinkan karena titik pembuangan sampah itu berada di kawasan yang tidak jauh dari SMPN 2 Teluk Kuantan.

Artinya, persoalan ini bukan hanya menyangkut estetika lingkungan. Ada aspek kesehatan, kenyamanan masyarakat dan lingkungan pendidikan yang patut menjadi perhatian pemerintah daerah.
 

Bukan Sehari Dua Hari

Informasi dari sejumlah warga menjadi alarm awal bahwa persoalan tersebut bukan baru terjadi ketika kamera pewarta mengabadikan kondisi lapangan.

Masyarakat menyebut tumpukan sampah sudah terlihat selama beberapa hari. Seiring waktu, volume sampah semakin bertambah dan menimbulkan bau yang tidak sedap.

Jika sampah dibiarkan menumpuk tanpa pengangkutan secara berkala, persoalannya berpotensi berkembang menjadi masalah lingkungan yang lebih serius.

Sampah organik yang bercampur dengan sampah lainnya dapat membusuk dan menghasilkan bau.

Pada saat yang sama, tumpukan sampah juga berpotensi menjadi tempat berkembangnya lalat, tikus dan berbagai sumber gangguan kesehatan lainnya.

Terlebih, lokasi tersebut berada di kawasan yang aktivitas masyarakatnya cukup tinggi.

Di satu sisi terdapat jalan yang digunakan masyarakat. Di sisi lain terdapat lingkungan pendidikan yang semestinya mendapatkan perhatian khusus dalam aspek kebersihan dan kesehatan lingkungan.
 

Ironi Setelah Riuhnya Pacu Jalur

Persoalan sampah di Kuantan Singingi sesungguhnya bukan cerita baru.

Kabupaten ini baru saja melewati salah satu agenda terbesar dan paling menyedot perhatian masyarakat, yakni Pacu Jalur Tradisional Event Nasional 2026 di Tepian Narosa, Teluk Kuantan.

Selama event berlangsung, ribuan masyarakat dan pengunjung datang ke berbagai kawasan di Kota Teluk Kuantan.

Pemerintah daerah juga menempatkan kebersihan sebagai salah satu bagian penting dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Namun ketika keramaian berakhir, persoalan sampah justru kembali terlihat di sejumlah titik.

Kondisi di Jalan Tuanku Tambusai, Beringin Taluk, menjadi salah satu gambaran bahwa pekerjaan pemerintah tidak berhenti ketika panggung acara ditutup dan para pengunjung meninggalkan Teluk Kuantan.

Justru setelah keramaian berakhir, pekerjaan pengelolaan sampah seharusnya semakin serius.

Sebab sampah adalah konsekuensi langsung dari aktivitas masyarakat.

Event besar menghasilkan aktivitas ekonomi, keramaian, konsumsi makanan dan minuman, serta mobilitas manusia. Semua itu berbanding lurus dengan produksi sampah.

Karena itu, keberhasilan sebuah event tidak cukup hanya diukur dari jumlah pengunjung, kemeriahan acara atau keberhasilan pelaksanaan perlombaan.

Wajah kota setelah acara selesai juga merupakan bagian dari ukuran keberhasilan pemerintah mengelola sebuah event besar.
 

Jangan Sampai Sampah Menjadi Pemandangan Biasa

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika tumpukan sampah mulai dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Masyarakat melewati tumpukan tersebut setiap hari. Bau menyengat perlahan menjadi sesuatu yang terpaksa ditoleransi. Sampah bertambah dari hari ke hari, sementara pengangkutan menunggu entah sampai kapan.

Jika pola semacam ini dibiarkan, persoalan sampah akan berubah dari persoalan teknis menjadi persoalan tata kelola.

Pertanyaannya kemudian sederhana: siapa yang bertanggung jawab memastikan sampah di kawasan permukiman dan pinggir jalan tidak dibiarkan menumpuk berhari-hari?

Apakah jadwal pengangkutan tidak berjalan sebagaimana mestinya?

Apakah armada pengangkut sampah mencukupi?

Apakah petugas kebersihan kekurangan personel?

Atau persoalannya berada pada pola pengawasan dan koordinasi di lapangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka oleh pemerintah daerah, khususnya instansi yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan kebersihan.

Sebab masyarakat tidak membutuhkan alasan yang panjang. Mereka membutuhkan lingkungan yang bersih.
 

Dekat Sekolah, Seharusnya Menjadi Perhatian Khusus

Keberadaan tumpukan sampah yang tidak jauh dari SMPN 2 Teluk Kuantan juga semestinya menjadi perhatian tersendiri.

Sekolah adalah ruang tumbuh anak-anak. Lingkungan sekolah idealnya memberikan rasa aman, nyaman dan sehat.

Jangan sampai anak-anak yang setiap hari pergi menuntut ilmu justru harus melewati atau menghirup bau dari tumpukan sampah.

Masalah kebersihan lingkungan pendidikan seharusnya tidak dipandang sebelah mata.

Lingkungan yang bersih bukan sekadar persoalan keindahan. Ia berkaitan dengan kenyamanan proses belajar mengajar dan kualitas lingkungan hidup masyarakat.

Karena itu, jika benar tumpukan sampah tersebut telah berlangsung selama beberapa hari sebagaimana informasi warga, maka kondisi itu layak segera ditindaklanjuti.

Bukan hanya dipindahkan ketika sudah ramai diberitakan.
 

Pemkab Jangan Hanya Bergerak Setelah Disorot

Pemerintah daerah melalui perangkat yang menangani persampahan tentu memiliki pekerjaan yang tidak ringan.

Namun beban kerja bukan alasan untuk membiarkan persoalan berlangsung tanpa solusi.

Justru diperlukan sistem pengelolaan sampah yang mampu mendeteksi titik-titik penumpukan sebelum menjadi gunungan.

Pengangkutan harus memiliki jadwal yang jelas. Pengawasan harus berjalan. Titik rawan pembuangan sampah harus dipetakan. Dan masyarakat juga harus diberikan ruang untuk menyampaikan laporan ketika terjadi penumpukan.

Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Tetapi pemerintah juga tidak boleh melempar seluruh persoalan kepada masyarakat.

Masyarakat membutuhkan pelayanan.

Ketika retribusi, pajak dan berbagai kewajiban sebagai warga dipenuhi, maka pelayanan publik, termasuk kebersihan lingkungan, juga menjadi bagian yang pantas mereka dapatkan.
 

Sampah Adalah Cermin Tata Kelola Kota

Tumpukan sampah di Beringin Taluk pada akhirnya bukan hanya tentang plastik, kardus atau sisa makanan.
Ia adalah cermin kecil tentang bagaimana sebuah daerah memperlakukan ruang publiknya.

Sebuah daerah bisa memasang berbagai ornamen, membangun panggung megah, mendatangkan ribuan orang dan menggelar event berskala nasional.

Tetapi ketika beberapa meter dari jalan utama masyarakat harus berhadapan dengan tumpukan sampah yang dibiarkan berhari-hari, maka ada pekerjaan rumah yang belum selesai.

Pembangunan tidak hanya berbicara tentang beton dan bangunan.

Kemajuan daerah juga dapat dilihat dari hal-hal sederhana: seberapa cepat sampah diangkut, seberapa bersih jalan lingkungan, seberapa nyaman warga berjalan, dan seberapa serius pemerintah menjaga ruang publik.

Masyarakat tentu berharap tumpukan sampah tersebut segera ditangani.

Bukan semata karena lokasinya dekat dengan sekolah.

Bukan pula hanya karena sudah diberitakan.

Tetapi karena lingkungan yang bersih adalah hak masyarakat dan kebersihan merupakan bagian dari wajah pemerintah di hadapan rakyatnya.

Kini bola berada di tangan pemerintah daerah dan instansi terkait.

Tumpukan sampah itu sudah terlihat.

Bau sudah dirasakan warga.

Informasi sudah disampaikan.

Yang ditunggu masyarakat tinggal satu: tindakan nyata.*(ald)


Baca Juga