Pacu Jalur Usai, Jalan Jendral Sudirman Malah Macet Total, Tenda Pedagang Masih Berdiri

 

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Gemuruh Pacu Jalur Tradisional Event Nasional 2026 di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, telah berakhir. Namun, sehari setelah pesta budaya itu ditutup, persoalan justru muncul di jalan raya.

Senin (24/8/2026), ruas Jalan Jendral Sudirman, tepatnya di depan Astaka MTQ, terpantau mengalami kemacetan. Arus kendaraan tersendat lantaran sejumlah tenda kerucut pedagang yang digunakan selama pelaksanaan Pacu Jalur masih berdiri di sepanjang kawasan tersebut.

Kondisi semakin semrawut karena kendaraan dari dua arah tetap melintas pada ruang jalan yang menyempit. Pengendara pun harus saling berbagi ruang, sementara kepadatan kendaraan membuat laju lalu lintas tidak lagi leluasa.

Pemandangan tersebut menjadi ironi setelah Kabupaten Kuantan Singingi baru saja menuntaskan salah satu agenda terbesar yang menyedot perhatian masyarakat dan pengunjung dari berbagai daerah.

Pacu jalur memang sudah selesai. Tetapi, kesibukan membongkar sisa-sisa keramaian tampaknya belum selesai.

Bagi sebagian masyarakat, keberadaan tenda pedagang setelah acara berakhir bukan lagi sekadar persoalan estetika. Ketika tenda dan aktivitas perdagangan masih mengambil ruang di sekitar ruas jalan, sementara kendaraan harus berpapasan dari dua arah, persoalannya telah menyentuh kepentingan publik: kelancaran dan keselamatan lalu lintas.

 

Warga Kesal: Jangan Tunggu Jalan Lumpuh Baru Ditertibkan

Sejumlah masyarakat yang melintas mengaku kesal dengan kondisi tersebut.

Menurut mereka, setelah seluruh rangkaian Pacu Jalur berakhir, kawasan yang selama beberapa hari dipadati pengunjung semestinya segera ditata dan dikembalikan seperti semula.

“Pacu jalurnya sudah selesai, kok tenda masih berdiri. Akibatnya jalan jadi sempit dan kendaraan macet. Kami yang lewat tentu terganggu,” ujar seorang warga yang melintas di kawasan tersebut.

Warga lainnya menilai kondisi itu semestinya sudah diantisipasi sejak awal. Menurutnya, pemerintah dan panitia tidak cukup hanya memikirkan bagaimana kegiatan berlangsung meriah, tetapi juga harus memiliki skenario jelas setelah acara selesai.

“Kalau acaranya selesai, ya segera dibersihkan. Jangan sampai masyarakat yang tidak ikut berjualan justru terkena dampaknya karena jalan macet. Ini jalan umum, bukan tempat untuk dibiarkan semrawut setelah acara,” katanya.

Keluhan serupa juga disampaikan pengendara lain. Ia berharap pihak terkait segera turun tangan sebelum kondisi lalu lintas semakin parah.

“Kami mendukung Pacu Jalur. Kami bangga acara ini besar dan ramai. Tapi setelah selesai, harus ada penataan. Jangan sampai kesannya acara sudah selesai, tetapi urusan tenda dan jalan ditinggalkan begitu saja,” ujarnya.

 

Event Nasional Tak Boleh Meninggalkan Kekacauan

Pacu Jalur Event Nasional bukan sekadar pesta rakyat. Ia telah menjadi magnet wisata dan salah satu identitas budaya Kuantan Singingi yang mendapat perhatian luas.

Karena itu, standar pengelolaannya pun semestinya semakin baik.

Keberhasilan sebuah event besar tidak hanya diukur dari meriahnya pembukaan, padatnya penonton, banyaknya wisatawan, atau ramainya pedagang mengais rezeki.

Ada satu bagian yang sering luput dari sorotan: bagaimana sebuah kota ditinggalkan setelah pesta selesai.

Jalan harus kembali lancar. Tenda harus dibongkar. Sampah harus dibersihkan. Pedagang harus diarahkan kembali ke tempat yang telah ditentukan. Arus lalu lintas harus kembali normal.

Itulah wajah sebenarnya dari manajemen sebuah iven besar.

Sebab, ketika sorak-sorai penonton telah berhenti dan perahu-perahu jalur telah meninggalkan Tepian Narosa, masyarakat kembali berhadapan dengan kehidupan sehari-hari.

Mereka harus bekerja, bersekolah, mengantar keluarga, membawa barang, dan menggunakan jalan sebagaimana biasanya.

Karena itu, jangan sampai kemeriahan lima hari Pacu Jalur justru menyisakan persoalan yang harus ditanggung masyarakat pada hari berikutnya.

 

Pemerintah dan Panitia Perlu Segera Bertindak

Kondisi di Jalan Jendral Sudirman tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dan panitia pelaksana.

Penataan pedagang dan pembongkaran fasilitas temporer seharusnya menjadi bagian dari agenda resmi pascaiven, bukan pekerjaan yang dilakukan setelah muncul keluhan masyarakat.

Apalagi lokasi tersebut berada di kawasan pusat kota dan merupakan jalur yang digunakan masyarakat setiap hari.

Masyarakat pada dasarnya tidak mempersoalkan keberadaan pedagang selama pelaksanaan Pacu Jalur. Mereka memahami bahwa iven tersebut juga membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.

Yang dipersoalkan adalah ketika kepentingan event telah berakhir, tetapi dampaknya masih membebani pengguna jalan.

“Kami tidak anti-pedagang. Mereka juga mencari makan. Tapi pemerintah harus mengatur. Kalau acaranya sudah selesai, tenda segera dibongkar. Jangan sampai jalan umum jadi korban,” ujar warga lainnya.

Pesan masyarakat sebenarnya sederhana: silakan berpesta, silakan berdagang, tetapi setelah pesta usai, kembalikan jalan kepada masyarakat.

Pacu Jalur boleh meninggalkan kenangan tentang kekuatan budaya Kuansing.

Jangan sampai yang tertinggal justru kemacetan, kesemrawutan dan kesan bahwa setelah panggung ditutup, urusan penataan ikut dilupakan.

Kini, perhatian publik tertuju kepada pemerintah daerah dan pihak terkait: kapan Jalan Jenderal Sudirman kembali normal? *(ald)


Baca Juga