TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Sungai Kuantan kembali menjadi panggung pertaruhan marwah. Di Tepian Narosa, Kamis (20/8/2026), sorak ribuan penonton mengiringi puluhan jalur yang bertarung dalam Festival Pacu Jalur Tradisional Event Nasional 2026.
Di antara jalur-jalur yang membawa ambisi besar, Keramat Jubah Merah dari Muaro Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, menjadi salah satu tumpuan harapan masyarakat daerah itu, sudah berlaga di hari pertama, Rabu (19/8/2026), dan mendahului lawannya menuju pancang finish.
Bagi masyarakat Muaro Sentajo, Keramat Jubah Merah bukan sekadar perahu panjang yang melaju di atas Sungai Kuantan. Jalur tersebut merupakan simbol gotong royong, kebanggaan kampung dan keberanian anak nagori yang sejak lama hidup berdampingan dengan tradisi pacu jalur.
Ketika haluannya diarahkan menuju arena, yang dibawa bukan hanya tenaga puluhan anak pacu. Ada nama kampung, doa masyarakat dan harapan agar Kuantan Singingi mampu menunjukkan kelasnya di hadapan jalur-jalur terbaik dari berbagai daerah.
Kepala Desa Muaro Sentajo, Halmadi Asmara, mengatakan Keramat Jubah Merah membawa harapan masyarakat desa sekaligus menjadi bagian dari perjuangan menjaga marwah Kuansing di gelanggang nasional.
“Keramat Jubah Merah bukan hanya membawa nama Desa Muaro Sentajo ketika turun berpacu di Tepian Narosa. Jalur ini membawa harapan dan kebanggaan seluruh masyarakat. Kami tentu berharap perjuangan anak pacu dapat memberikan hasil terbaik dan mengangkat marwah Kuantan Singingi di ajang Pacu Jalur Event Nasional 2026,” ujar Halmadi.
Menurutnya, kemenangan memang menjadi harapan setiap jalur yang turun ke gelanggang. Namun, ada hal yang lebih penting: menjaga kekompakan tim, sportivitas dan nama baik daerah.
Ia meminta seluruh anak pacu Keramat Jubah Merah tidak larut dalam tekanan target.
“Yang paling penting bagi kami adalah kekompakan. Anak pacu harus tetap fokus, menjaga irama, mengikuti arahan tukang tari dan seluruh tim. Jangan terbebani dengan target kemenangan. Berpacu dengan semangat, percaya diri dan tetap menjunjung sportivitas,” katanya.
Pacu jalur di Kuantan Singingi memang sulit dipahami hanya sebagai pertandingan olahraga.
Di atas Sungai Kuantan, sebuah jalur membawa identitas kampung yang membesarkannya.
Di dalamnya ada kerja kolektif masyarakat, ada tenaga anak muda, ada keterampilan para pembuat jalur, ada doa orang tua dan ada kebanggaan yang diwariskan lintas generasi.
Keramat Jubah Merah tumbuh dari semangat tersebut.
Karena itu, ketika jalur itu meluncur, masyarakat tidak sekadar menghitung jarak dengan lawan. Mereka membaca setiap gerak haluan sebagai representasi dari perjuangan kampung.
Satu hentakan dayung dapat mengubah jarak.
Satu perubahan irama bisa menentukan hasil.
Dan dalam hitungan menit, seluruh persiapan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dapat menemukan jawabannya di atas sungai.
Di titik itulah pacu jalur menjadi pertarungan yang sangat manusiawi: antara kekuatan fisik, ketepatan irama, konsentrasi, keberanian dan kemampuan menjaga kekompakan.
Halmadi menegaskan dukungan terhadap Keramat Jubah Merah tidak hanya datang dari pemerintah desa.
Masyarakat Muaro Sentajo, kata dia, memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap jalur tersebut.
“Kami dari pemerintah desa bersama masyarakat akan terus memberikan dukungan. Sejak awal, Keramat Jubah Merah merupakan hasil dari semangat gotong royong. Karena itu, ketika jalur ini turun ke gelanggang, sesungguhnya seluruh masyarakat ikut berada di atas jalur tersebut,” ujar Halmadi.
Pernyataan itu menggambarkan bagaimana pacu jalur bekerja sebagai kekuatan sosial di tengah masyarakat Kuansing.
Sebuah jalur tidak lahir dari satu tangan.
Ia lahir dari banyak tangan.
Dari orang-orang yang bekerja di belakang layar, dari mereka yang menyiapkan kebutuhan latihan, hingga anak pacu yang setiap hari menguras tenaga di sungai.
Semua bertemu pada satu tujuan: membuat jalur bergerak secepat mungkin ketika hari pertandingan tiba.
Dan ketika Keramat Jubah Merah berada di Tepian Narosa, seluruh kerja kolektif itu seakan dipadatkan dalam satu perahu.
Halmadi menyadari persaingan di Tepian Narosa tidak mudah.
Pacu Jalur Event Nasional 2026 mempertemukan jalur-jalur dengan kekuatan dan reputasi masing-masing. Karena itu, ia berharap anak pacu Keramat Jubah Merah dapat tampil tanpa rasa gentar.
“Kami ingin anak pacuan kami bertanding dengan hati yang tenang, tenaga yang penuh dan semangat yang tidak pernah padam. Menang tentu menjadi harapan, tetapi yang lebih utama adalah menjaga nama baik Muaro Sentajo dan Kuantan Singingi,” katanya.
Kalimat itu menjadi penting di tengah euforia pacu jalur.
Sebab kemenangan memang menjadi ukuran paling mudah untuk dibaca.
Namun tradisi tidak hanya hidup dari kemenangan.
Tradisi bertahan karena masyarakat masih percaya bahwa kebersamaan layak diperjuangkan.
Karena anak-anak muda masih mau turun ke sungai.
Karena masyarakat masih rela bergotong royong.
Dan karena setiap generasi masih memiliki alasan untuk menyebut nama jalurnya dengan bangga.
Nama Keramat Jubah Merah sendiri seperti menyimpan simbol yang kuat.
Merah adalah keberanian.
Merah adalah semangat.
Dan merah adalah keberanian untuk menghadapi siapa pun di gelanggang.
Di Tepian Narosa, simbol itu kini diuji dalam pertarungan sesungguhnya.
Bukan dengan kata-kata.
Bukan dengan klaim.
Melainkan dengan dayung.
Dengan kekompakan.
Dengan kecepatan.
Dan dengan kemampuan menaklukkan lintasan Sungai Kuantan.
Halmadi pun mengajak seluruh masyarakat memberikan doa dan dukungan.
“Mudah-mudahan Keramat Jubah Merah mampu memberikan kejutan di Tepian Narosa. Kami mohon doa dan dukungan seluruh masyarakat Kuansing. Biarlah dayung yang berbicara di atas Sungai Kuantan, dan semoga merahnya Jubah Merah benar-benar menjadi warna keberanian serta kebanggaan kita bersama,” tuturnya.
\"Besok di hari Jumat (21/8/2026), kita kembali berlaga,\" imbuhnya.
Kini, harapan itu kembali dititipkan kepada sungai.
Ketika dayung diangkat dan tubuh anak pacu mulai merunduk mengikuti irama, Muaro Sentajo seperti ikut bergerak bersama Keramat Jubah Merah.
Di belakangnya ada kampung yang menunggu.
Di sepanjang tepian ada masyarakat yang berteriak memberi semangat.
Di depannya ada lawan dan pancang kemenangan.
Sementara Sungai Kuantan mengalir seperti biasa—tenang di permukaan, tetapi menyimpan pertarungan sengit di atasnya.
Keramat Jubah Merah pun berpacu.
Bukan sekadar mengejar pancang.
Tetapi mengejar sebuah kehormatan: membawa nama Muaro Sentajo dan marwah Kuantan Singingi sejauh mungkin di gelanggang nasional.*(ald)