Keramat Jubah Merah Mendapat Nomor 15, Muaro Sentajo Menunggu Gemuruh Tepian Narosa

 

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Sebuah nomor telah jatuh dari pencabutan undian. Selasa (18/8/2026), ketika nama-nama jalur satu per satu keluar dalam pencabutan undian Festival Pacu Jalur Event Nasional 2026, peta pertarungan 102 jalur perlahan menemukan bentuknya.

Di antara nama-nama yang menunggu giliran membelah Batang Kuantan, Keramat Jubah Merah dari Muaro Sentajo mendapat nomor undian 15.

Nomor itu sekaligus menjadi pintu pertama bagi jalur kebanggaan Muaro Sentajo untuk menapaki panggung Tepian Narosa.

Pada Rabu (19/8/2026), sebanyak 30 kali hilir dijadwalkan berlangsung, dimulai dari nomor 1 hingga 30. Keramat Jubah Merah akan turun pada hilir ke-15, berada di jalur kiri dan berhadapan dengan Putri Bungsu Sayang Tak Sudah dari Pelukahan di jalur kanan.

Bagi masyarakat Muaro Sentajo, hasil pencabutan undian tersebut bukan sekadar susunan angka. Ia seperti membuka halaman pertama dari sebuah cerita yang belum selesai ditulis.

Sebab di pacu jalur, setiap nomor menyimpan kemungkinan. Setiap hilir membawa pertaruhan. Dan setiap kayuhan dapat menjadi pembeda antara melanjutkan perjalanan atau pulang lebih cepat.

Kepala Desa Sentajo Raya, Halmadi Asmara, mengatakan hasil pencabutan undian tersebut menjadi awal perjuangan Keramat Jubah Merah di panggung Event Nasional 2026.

Menurutnya, nomor 15 dan lawan yang telah ditentukan harus dihadapi dengan kesiapan serta semangat sportivitas.

“Alhamdulillah, hasil undian sudah kita ketahui. Keramat Jubah Merah mendapat nomor 15 dan akan berhadapan dengan Putri Bungsu Sayang Tak Sudah. Bagi kami, siapa pun lawannya harus kita hormati. Yang terpenting anak pacu bisa menjaga kekompakan, kesehatan dan semangat sampai perlombaan,” ujar Halmadi.

Ia menegaskan, pacu jalur bukan semata-mata tentang memburu kemenangan. Di balik jalur yang melaju di tengah sungai, terdapat nama kampung dan tradisi yang harus dijaga.

“Pacu jalur bukan hanya tentang menang atau kalah. Ini budaya dan kebanggaan kita. Karena itu, kita berharap anak-anak bisa tampil maksimal dan membawa nama Muaro Sentajo dengan baik,” katanya.

Halmadi juga mengajak masyarakat memberikan dukungan kepada anak pacu yang akan berjuang di Tepian Narosa.

“Doakan anak-anak kita. Berikan dukungan dan semangat. Mereka sudah berlatih dan berjuang. Sekarang saatnya kita bersama-sama memberikan motivasi agar mereka bisa tampil maksimal,” ujarnya.

Menurut dia, nomor undian bukan jaminan kemenangan. Pertarungan sesungguhnya baru terjadi ketika dua jalur telah berada di atas lintasan.

“Di sungai nanti semua ditentukan oleh kayuhan. Kita tidak boleh merasa sudah menang sebelum bertanding. Kita hormati lawan dan kita berjuang sekuat tenaga. Mudah-mudahan Keramat Jubah Merah bisa melaju sejauh mungkin, mencapai pancang akhir lebih dulu,” kata Halmadi.

Batang Kuantan tidak pernah mengenal reputasi.

Sungai tidak bertanya jalur mana yang pernah menang. Air tidak peduli berapa banyak sorak yang pernah mengiringi sebuah nama.

Ketika dua jalur dilepas, semua kembali ke titik yang sama.

Yang tersisa hanyalah kayuhan.

Keramat Jubah Merah akan berada di kiri. Putri Bungsu Sayang Tak Sudah di kanan.

Dua jalur akan berhadapan.

Dua kampung akan menitipkan harapan.

Dan di antara keduanya, Batang Kuantan akan menjadi hakim yang tidak pernah berpihak.

Di atas jalur, puluhan anak pacu harus menjadi satu tubuh. Kayuhan tidak boleh tercerai. Napas harus menemukan irama. Komando harus didengar. Tenaga harus disimpan dan diledakkan pada saat yang tepat.

Karena pacu jalur bukan perlombaan seorang manusia.

Ia adalah pertarungan sebuah kesatuan.

Keramat Jubah Merah membawa nama Muaro Sentajo ke Tepian Narosa.

Nama itu tidak lahir hanya dari sebilah kayu yang dipahat menjadi jalur. Di belakangnya ada tangan-tangan masyarakat, ada kerja keras, ada latihan, ada biaya, ada waktu, dan ada harapan yang tumbuh bersama tradisi.

Ketika jalur mulai bergerak, semua seolah ikut bergerak.

Orang-orang di tepian menahan napas.

Anak-anak meneriakkan nama jalur.

Orang tua menatap sungai dengan doa yang tidak selalu diucapkan.

Dan kampung seakan mendekat ke tepian sungai.

Bagi Halmadi, dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam perjalanan Keramat Jubah Merah.

“Yang paling penting kita jaga kekompakan. Menang kita syukuri, kalau belum berhasil kita tetap memberikan apresiasi kepada anak pacu. Karena mereka sudah membawa nama kampung dan daerah ke panggung nasional,” tuturnya.

Pesan itu menjadi penting di tengah besarnya atmosfer pacu jalur.

Sebab kemenangan adalah tujuan, tetapi sportivitas adalah kehormatan.

Di seberang Keramat Jubah Merah, Putri Bungsu Sayang Tak Sudah juga datang dengan keyakinan yang sama.

Pelukahan tentu tidak mengirim jalurnya ke Tepian Narosa untuk menyerah sebelum bertanding.

Mereka datang untuk beradu cepat.

Mereka datang membawa nama kampung.

Mereka datang dengan anak pacu yang telah menyiapkan tenaga.

Maka hilir ke-15 bukanlah pertarungan antara jalur besar melawan jalur kecil.

Ia adalah pertemuan dua keyakinan.

Siapa yang lebih mampu menjaga irama, dialah yang akan memiliki kesempatan lebih besar untuk menyentuh garis akhir terlebih dahulu.

Pencabutan undian pada Selasa (18/8/2026) telah menempatkan 102 jalur dalam peta persaingan.

Rabu (19/8/2026), nomor 1 hingga 30 dijadwalkan berlaga.

Sementara nomor 31 hingga 102 akan melanjutkan persaingan pada Kamis (20/8/2026).

Dengan demikian, hilir ke-15 menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang menuju puncak.

Bagi Keramat Jubah Merah, tidak ada alasan untuk berbicara terlalu jauh sebelum melewati lawan pertama.

Sebab perjalanan menuju kemenangan selalu dimulai dari satu langkah.

Dan bagi Jubah Merah, langkah itu bernama Putri Bungsu Sayang Tak Sudah.

Pintu itu bernama hilir ke-15.

Sementara panggungnya adalah Tepian Narosa.

Rabu nanti, ketika nomor 15 dipanggil, suasana di Tepian Narosa akan berubah.

Nama Keramat Jubah Merah akan disebut.

Jalur dari Muaro Sentajo akan bergerak menuju lintasan.

Di sisi lain, Putri Bungsu Sayang Tak Sudah telah menunggu.

Kemudian aba-aba akan terdengar.

Dayung akan menghantam air.

Kayuhan pertama akan disusul kayuhan berikutnya.

Dan dalam hitungan detik, seluruh prediksi akan ditinggalkan di tepian.

Tidak ada lagi cerita tentang hasil undian.

Tidak ada lagi perdebatan tentang siapa yang lebih diunggulkan.

Sungai akan meminta bukti.

Keramat Jubah Merah harus menjawabnya dengan tenaga.

Muaro Sentajo harus menjawabnya dengan doa.

Dan anak pacu harus menjawabnya dengan kayuhan yang tak boleh kehilangan irama.

Sebab pada akhirnya, pacu jalur adalah tentang bagaimana sebuah kampung menitipkan namanya kepada sungai.

Selasa telah menentukan lawan.

Rabu akan menentukan hasil.

Keramat Jubah Merah mendapat nomor 15.

Kini, Muaro Sentajo menunggu saat ketika nama itu meninggalkan angka dan berubah menjadi cerita di atas Batang Kuantan.*(ald)


Baca Juga