Laga Panas Antar Kabupaten di Tepian Lubuk Sobae! Untung Bertuah Inhu Tumbangkan Keramat Jubah Merah Kuansing

KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) — Sungai di Tepian Lubuk Sobae, Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, Jumat (14/8/2026), berubah menjadi panggung pertarungan sengit dua jalur beda kabupaten.

Di haluan sebelah kiri, Keramat Jubah Merah dari Kuantan Singingi membawa harapan besar masyarakat, khususnya para pendukung dari Sentajo Raya. Sementara di haluan sebelah kanan, Untung Bertuah dari Kabupaten Indragiri Hulu datang dengan tekad yang sama: melaju lebih dahulu menuju garis finis.

Begitu aba-aba pacu dimulai, kedua jalur langsung melesat.

Puluhan anak pacu menghentakkan dayung secara serentak. Air sungai terbelah. Tepian Lubuk Sobae seketika bergemuruh oleh teriakan dan dukungan penonton.

Pertarungan berlangsung ketat.

Keramat Jubah Merah berusaha mempertahankan lajunya dari sisi kiri lintasan. Sementara Untung Bertuah terus menggeber kecepatan dari sisi kanan.

Sesaat, kedua jalur seolah berjalan dalam satu tarikan napas.

Namun, memasuki pertengahan lintasan, Untung Bertuah mulai memperlihatkan keunggulannya.

Jarak perlahan terbuka.

Keramat Jubah Merah tidak tinggal diam. Anak pacu terus mengayuh, berusaha mengejar ketertinggalan. Namun Untung Bertuah mampu menjaga irama dan kecepatannya hingga mendekati garis akhir.

Sorakan dari tepian semakin keras.

Beberapa detik terakhir menjadi penentu.

Untung Bertuah terus melaju.

Keramat Jubah Merah berusaha mengejar dari belakang.

Hingga akhirnya, Untung Bertuah lebih dahulu menyentuh garis finis dan mengalahkan Keramat Jubah Merah.

Kemenangan tersebut sontak disambut gegap gempita para pendukung Untung Bertuah. Sementara di sisi lain, kekecewaan terlihat dari pendukung Keramat Jubah Merah yang sebelumnya menaruh harapan besar terhadap jalur kebanggaan Kuansing tersebut.

Kepala Desa Muaro Sentajo, Halmadi Asmara, mengakui kekalahan Keramat Jubah Merah menyisakan rasa kecewa bagi masyarakat yang telah memberikan dukungan penuh.

Namun, ia meminta masyarakat tidak larut dalam kekecewaan.

“Kita tentu kecewa karena harapan masyarakat begitu besar. Tetapi inilah pacu jalur. Ada menang, ada kalah. Yang terpenting, anak pacu sudah berjuang maksimal dan memberikan yang terbaik di lintasan,” ujar Halmadi.

Menurutnya, hasil pertandingan harus diterima sebagai bagian dari dinamika sebuah perlombaan.

Baginya, keberadaan Keramat Jubah Merah di gelanggang bukan semata-mata tentang mengejar kemenangan, tetapi juga membawa nama kampung dan menjadi bagian dari upaya masyarakat mempertahankan tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ia pun memberikan apresiasi kepada seluruh anak pacu, pelatih, pengurus jalur dan masyarakat yang telah memberikan dukungan.

“Jangan karena kalah kita kemudian patah semangat. Justru dari kekalahan ini kita belajar dan melakukan evaluasi. Keramat Jubah Merah tetap kebanggaan kita. Kita hormati kemenangan Untung Bertuah dan kita doakan semoga jalur kita ke depan bisa tampil lebih baik lagi,” katanya.

Bagi masyarakat Kuansing, pacu jalur tidak pernah hanya soal siapa yang lebih cepat mencapai garis akhir.

Di balik sebuah jalur terdapat gotong royong masyarakat. Ada tangan-tangan yang bekerja membuat dan merawat jalur. Ada anak-anak muda yang berlatih keras. Ada pelatih yang menyusun strategi. Ada masyarakat yang menyisihkan waktu, tenaga dan biaya.

Semua bertemu dalam satu tujuan: menjaga marwah tradisi.

Karena itu, ketika Keramat Jubah Merah meluncur di sisi kiri lintasan, yang dipertaruhkan bukan hanya kecepatan.

Ada nama kampung.

Ada kebanggaan masyarakat.

Ada harapan yang dititipkan kepada puluhan anak pacu.

Begitu pula Untung Bertuah.

Jalur asal Indragiri Hulu itu datang membawa nama daerahnya dan menunjukkan bahwa persaingan pacu jalur kini semakin terbuka.

Batas administrasi kabupaten seakan hilang ketika kedua jalur telah berada di atas sungai.

Yang berbicara hanyalah kekuatan, kekompakan, strategi dan kemampuan mempertahankan irama hingga garis finis.

Halmadi juga mengingatkan agar persaingan di lintasan tidak menghilangkan semangat persaudaraan.

Menurutnya, pacu jalur harus tetap menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarmasyarakat, bukan sebaliknya.

“Kita boleh bersorak untuk jalur kita, tetapi jangan sampai melupakan persaudaraan. Di sungai kita bertanding, setelah itu kita tetap bersaudara. Itulah roh pacu jalur yang harus kita jaga,” tuturnya.

Kepala Desa Muaro Sentajo, Halmadi Asmara, juga memberikan motivasi kepada seluruh anak pacu Keramat Jubah Merah agar tidak larut dalam kekalahan di Tepian Lubuk Sobae.

Menurutnya, perjalanan Keramat Jubah Merah belum berakhir. Masih ada gelanggang yang lebih besar yang menanti, yakni Pacu Jalur Event Nasional di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, 19–23 Agustus 2026.

“Untuk anak pacuan, jangan berkecil hati dan jangan patah semangat. Hari ini kita kalah, tetapi perjalanan kita belum selesai. Masih ada gelanggang yang menanti di depan, yaitu Tepian Narosa pada iven nasional tanggal 19 sampai 23 Agustus,” ujar Halmadi.

Ia meminta para anak pacu menjadikan kekalahan dari Untung Bertuah sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk menyerah.

“Jadikan kekalahan ini sebagai pelajaran. Kita evaluasi apa yang masih kurang, kemudian kita perbaiki. Jangan hilang semangat. Justru kekalahan hari ini harus menjadi cambuk untuk tampil lebih kuat di gelanggang berikutnya,” katanya.

Halmadi menilai, tampil di Tepian Narosa pada iven nasional akan menjadi kesempatan bagi Keramat Jubah Merah untuk kembali menunjukkan kemampuan.

“Masih ada kesempatan. Masih ada waktu untuk berbenah. Kita ingin anak-anak pacuan tetap fokus, tetap kompak dan tetap percaya diri. Masyarakat akan terus memberikan dukungan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas perjuangan anak pacu Keramat Jubah Merah yang telah memberikan kemampuan terbaik dalam menghadapi Untung Bertuah.

“Menang dan kalah itu bagian dari perlombaan. Yang penting anak-anak sudah berjuang. Jangan merasa gagal. Anggap ini sebagai satu langkah untuk menuju gelanggang berikutnya,” ucap Halmadi.

Menurutnya, Tepian Narosa harus menjadi titik kebangkitan.

Setelah air Tepian Lubuk Sobae hari ini membawa kemenangan bagi Untung Bertuah, Keramat Jubah Merah masih memiliki kesempatan untuk kembali mengukir cerita di panggung yang lebih besar.

“Kita tatap Tepian Narosa. Kita bangkit, kita evaluasi, kita perkuat kekompakan. Insyaallah dengan dukungan masyarakat dan semangat anak pacuan, kita bisa memberikan yang terbaik pada iven nasional nanti,” tutupnya.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah semakin besarnya perhatian terhadap pacu jalur yang tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Kuansing, tetapi juga telah menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.

Sebab semakin besar sebuah tradisi tumbuh, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai yang melekat di dalamnya.

Jumat di Tepian Lubuk Sobae akhirnya menjadi milik Untung Bertuah.

Jalur dari Indragiri Hulu itu berhasil menaklukkan Keramat Jubah Merah dalam duel yang berlangsung sengit.

Bagi pendukung Untung Bertuah, kemenangan tersebut menjadi cerita yang akan dibawa pulang.

Namun bagi Keramat Jubah Merah, kekalahan kali ini bukan akhir dari perjalanan.

Ia hanya satu halaman dalam buku panjang perjuangan sebuah jalur.

Sebab pacu jalur selalu memiliki kesempatan untuk kembali.

Hari ini mungkin air sungai mengantarkan Untung Bertuah lebih dahulu ke garis finis.

Namun esok, jalur lain bisa saja menulis cerita berbeda.

Yang tidak boleh kalah adalah semangat masyarakat dalam menjaga tradisi.

Sebab pacu jalur bukan sekadar perlombaan.

Ia adalah denyut kebersamaan.

Ia adalah warisan.

Ia adalah identitas.

Dan di atas sungai yang terus mengalir, setiap jalur selalu membawa cerita tentang manusia-manusia yang memilih untuk tetap menjaga tradisinya.

Untung Bertuah menang hari ini. Keramat Jubah Merah tumbang di lintasan. Tetapi semangat untuk menjaga pacu jalur tetap berdiri tegak di tepian sungai.

Karena pada akhirnya, kemenangan akan tercatat dalam daftar hasil pertandingan.

Tetapi tradisi akan tetap hidup selama masyarakat masih mau merawatnya.*(ald)


Baca Juga