Kilasriau.com - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Indragiri Hilir mulai terjadi sejak 11 Agustus 2026. Hingga Kamis, 13 Agustus 2026, atau memasuki hari ketiga, api masih menyala di sejumlah titik dan proses pemadaman terus dilakukan oleh tim gabungan.
Tim gabungan yang terlibat dalam penanganan Karhutla terdiri dari TNI, Polri, BPBD, aparat desa (Abdes), Masyarakat Peduli Api (MPA), serta masyarakat. Seluruh personel dikerahkan untuk melakukan pemadaman, pendinginan, dan mencegah api meluas.
Pemadaman dilakukan di dua lokasi, yakni Desa Sanglar, Kecamatan Reteh, dengan luas lahan terbakar diperkirakan kurang lebih 5 hektare. Tim masih melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi tersebut.
Sementara itu, di Desa Kuala Sebatu, Kecamatan Batang Tuaka, luas lahan terbakar diperkirakan mencapai kurang lebih 10 hektare. Hingga saat ini api masih menyala dan proses pemadaman terus dilakukan.
Upaya pemadaman di Desa Kuala Sebatu turut diperkuat dengan water bombing menggunakan helikopter BNPB, untuk membantu menjangkau titik api yang sulit ditangani secara langsung dari darat.
Mengingat terdapat dua lokasi yang membutuhkan penanganan, personel tim gabungan dibagi menjadi dua titik pemadaman agar penanganan dapat dilakukan secara maksimal dan mencegah api meluas.
Tim gabungan terus melakukan pemadaman dan pendinginan hingga kondisi di lapangan benar-benar aman dan terkendali.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan, terutama di tengah kondisi cuaca yang rawan terjadi kebakaran. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kebakaran lahan kepada petugas agar dapat ditangani secepatnya dan tidak meluas.