Kilasriau.com - "Sudah Puluhan Tahun Kelapa Menghidupi Kita, Kapan Kita Mulai Sungguh-Sungguh Menghidupi Petaninya?"
Saya bukan ahli perkelapaan.
Saya tidak pernah belajar secara khusus bagaimana menentukan harga kelapa, mengatur tata niaga atau menghitung nilai ekonomi industri kelapa.
Tetapi saya mengenal kelapa sejak kecil.
Bukan dari buku,bukan dari bangku sekolah atau kuliah, tetapi dari kehidupan.
Almarhum Abah saya, selain seorang pengusaha di Kecamatan Gaung, dahulu menampung kopra dari para petani. Orang tua saya juga memiliki kebun kelapa.
Saya tumbuh di tengah kehidupan itu.
Saya melihat kelapa datang dari kebun masyarakat, menjadi kopra, lalu diperdagangkan.
Saya melihat bagaimana pohon kelapa bukan sekadar tanaman, tetapi menjadi sumber penghidupan banyak keluarga.
Dan sampai hari ini, Alhamdulillah saya pun masih memiliki sedikit kebun kelapa.
Karena itu, ketika hari ini harga kelapa jatuh dan petani menjerit, saya tidak bisa melihatnya sekadar sebagai berita ekonomi.
Ada sesuatu yang terasa sangat dekat dengan kehidupan saya.
Ada kenangan tentang Abah.
Ada sedikit kebun yang masih saya miliki.
Dan ada keresahan para petani yang hari ini mungkin sedang bertanya:
“Sampai kapan kami harus bertahan???”
YANG JATUH BUKAN HANYA HARGA KELAPA
Beberapa hari lalu, keresahan petani kelapa Inhil bahkan tumpah ke jalan melalui aksi demonstrasi.
Bagi saya, demonstrasi itu seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kerumunan massa.
Ia adalah alarm.
Alarm bahwa ada sesuatu yang tidak sedang baik-baik saja dalam tata niaga kelapa kita.
Sebab ketika harga kelapa jatuh, yang jatuh bukan hanya angka rupiah per kilogram.
Yang ikut jatuh adalah kemampuan petani membiayai sekolah anak.
Membeli kebutuhan rumah tangga.
Merawat kebun.
Membayar ongkos panen dan transportasi.
Dan mempertahankan kehidupan keluarganya.
Petani mungkin masih bisa memanjat pohon.
Masih bisa memanen.
Masih bisa mengangkut.
Tetapi kalau hasil akhirnya tidak cukup untuk menghidupi keluarga, pertanyaan besarnya adalah:
Untuk siapa sebenarnya mereka mempertahankan kebun-kebun itu???
JANGAN SEMUA DISEMBUNYIKAN DI BALIK KATA “MEKANISME PASAR”
Saya tidak anti pasar.
Harga memang dipengaruhi permintaan dan penawaran.
Tetapi pasar yang sehat membutuhkan persaingan yang sehat dan informasi yang terbuka.
Hari ini muncul keresahan dan dugaan di tengah masyarakat tentang kuatnya penguasaan pasar oleh perusahaan besar yang telah lama beroperasi di Inhil.
Saya tidak ingin menuduh siapa pun.
Dugaan harus dibuktikan.
Tetapi jangan pula karena takut dituduh, kita kemudian memilih diam.
Kalau memang tidak ada praktik monopoli atau persaingan usaha tidak sehat, buktikan dan buka datanya kepada publik.
Kalau ada pelanggaran, tindak sesuai hukum.
Kalau masalahnya bukan monopoli, tetapi rantai distribusi dan biaya logistik, jelaskan dan benahi.
Rakyat tidak membutuhkan prasangka.
Rakyat membutuhkan kepastian.
Sebab kalimat “itu mekanisme pasar” tidak boleh menjadi tempat bersembunyi ketika posisi tawar antara petani dan pembeli tidak seimbang.
PETANI BERHAK TAHU: SIAPA MENENTUKAN HARGA?
Pertanyaan ini sederhana.
Tetapi jawabannya harus transparan.
Berapa harga kelapa di tingkat petani?
Berapa harga di tingkat pengumpul?
Berapa biaya transportasi?
Berapa harga di perusahaan?
Berapa harga produk olahannya?
Dan berapa harga di pasar ekspor?
Kalau semua mata rantai itu terbuka, masyarakat bisa melihat di mana sebenarnya nilai ekonomi kelapa berada.
Karena itu pemerintah perlu membangun harga referensi kelapa rakyat yang dihitung berdasarkan parameter yang jelas dan dapat diawasi publik.
Bukan harga yang dibuat-buat.
Bukan pula harga yang dipaksakan.
Tetapi harga yang wajar, transparan dan memiliki dasar.
BUKA PINTU PASAR, JANGAN BIARKAN PETANI HANYA PUNYA SATU PILIHAN
Kalau pilihan pembeli sedikit, posisi tawar petani tentu lemah.
Maka jangan hanya meminta pembeli yang ada menaikkan harga.
Buka pintu bagi pembeli baru.
Perluas perdagangan antardaerah.
Datangkan investasi.
Dan perjuangkan akses ekspor.
Semakin luas pasar dan semakin sehat persaingan, semakin besar peluang petani memperoleh harga yang lebih baik.
Tetapi membuka ekspor juga harus benar-benar dirasakan petani.
Jangan sampai kelapa Inhil menembus pasar dunia, tetapi petaninya tetap berada di ujung paling rendah dari rantai nilai.
DARI KELAPA MENTAH MENUJU INDUSTRI
Persoalan harga hari ini harus diselesaikan.
Tetapi kita juga harus berani menyelesaikan persoalan yang lebih besar:
Mengapa Inhil terlalu lama menjual kelapa dalam bentuk yang paling sederhana?
Kelapa bukan hanya buah.
Ada minyak.
Ada VCO.
Ada santan.
Ada tepung.
Ada arang tempurung.
Ada karbon aktif.
Ada cocofiber.
Ada cocopeat.
Dan masih banyak produk bernilai tinggi lainnya.
Kalau industri itu dibangun di Inhil, maka kita tidak hanya menjual kelapa.
Kita menjual nilai tambah.
Lapangan kerja tumbuh.
Investasi masuk.
Pendapatan daerah bertambah.
Dan yang paling penting, permintaan terhadap kelapa rakyat semakin besar.
INHIL JANGAN HANYA MENJADI “NEGERI HAMPARAN KELAPA”
Sudah puluhan tahun kita bangga menyebut:
“Inhil adalah negeri hamparan kelapa Dunia”
Tetapi kebanggaan itu harus kita naikkan kelas.
Jangan hanya menjadi daerah penghasil.
Jadilah pusat industri kelapa.
Jangan hanya menjadi pemasok bahan baku.
Jadilah pemilik nilai tambah.
Jangan hanya mengeluh ketika harga jatuh.
Bangun sistem agar petani memiliki posisi tawar.
Karena itu pemerintah daerah bersama pemerintah provinsi dan pemerintah pusat perlu serius membangun Kawasan Strategis Hilirisasi Kelapa Inhil.
Jika kajian dan seluruh persyaratan terpenuhi, perjuangan untuk mendapatkan dukungan melalui skema strategis nasional, termasuk PSN, patut dilakukan.
DARI KEBUN ABAH, SAYA BELAJAR SATU HAL
Dulu saya mungkin belum memahami bahwa di balik satu karung kopra ada begitu banyak cerita.
Hari ini saya mengerti.
Di baliknya ada petani.
Di belakang petani ada keluarga.
Ada anak yang harus sekolah.
Ada dapur yang harus tetap berasap.
Ada rumah yang harus diperbaiki.
Ada harapan yang ingin dipertahankan.
Karena itu, ketika kita membicarakan harga kelapa, jangan hanya menghitung berapa rupiah satu kilogramnya.
Hitung pula berapa banyak kehidupan yang bergantung pada satu kilogram kelapa itu.
SAYA BUKAN AHLI PERKELAPAAN
Saya mungkin bukan ahli.
Tetapi saya mengenal kelapa sejak kecil.
Saya pernah melihat Abah menampung kopra dari masyarakat.
Alhamdulillah saya pun masih memiliki sedikit kebun kelapa.
Dan saya tahu, bagi banyak orang Inhil, kelapa bukan sekadar komoditas.
Kelapa adalah kehidupan.
Maka saya ingin mengatakan kepada semua pihak:
Kepada pemerintah, jangan hanya hadir ketika petani turun ke jalan.
Kepada pelaku usaha, jadikan petani sebagai mitra, bukan sekadar pemasok bahan baku.
Kepada semua pemangku kepentingan, bangun tata niaga yang transparan dan persaingan yang sehat.
Dan kepada kita semua:
Jangan biarkan kelapa terus tumbuh subur di tanah Inhil, sementara kesejahteraan petaninya semakin layu.
Petani tidak meminta belas kasihan.
Mereka hanya meminta keadilan.
Harga yang wajar.
Pasar yang terbuka.
Persaingan yang sehat.
Industri yang tumbuh.
Dan pemerintah yang hadir.
Sebab pada akhirnya, yang sedang kita perjuangkan bukan sekadar harga kelapa.
Kita sedang memperjuangkan harga diri petani.
Dan mungkin, setelah puluhan tahun kelapa menghidupi kita, sudah waktunya kita bertanya dengan jujur:
Kapan kita mulai sungguh-sungguh menghidupi petani kelapa?
H Mhd Ramadhani
=Catatan Akhir Zaman=