Kilasriau.com - Belasan warga Tembilahan menjadi korban gigitan monyet liar hanya dalam hitungan hari. Ada yang mengalami luka ringan, ada pula yang harus menerima puluhan jahitan. Peristiwa ini tentu mengundang ketakutan. Namun, di balik rasa takut itu, ada pertanyaan yang lebih besar: siapa sebenarnya yang sedang "menyerang" siapa?
Apakah monyet yang tiba tiba berubah ganas? Ataukah manusialah yang perlahan mengusik kehidupan mereka hingga batas kesabaran alam telah terlampaui?
Sejarah menunjukkan bahwa satwa liar pada umumnya menghindari manusia. Mereka menyerang ketika merasa terancam, kehilangan ruang hidup, atau dipaksa beradaptasi dengan lingkungan yang bukan lagi miliknya. Ketika hutan berubah menjadi permukiman, ketika pepohonan di bantaran sungai terus berkurang, dan ketika sumber makanan alami menghilang, satwa tidak memiliki banyak pilihan. Mereka datang ke tempat manusia, bukan karena ingin berkonflik, tetapi karena ingin bertahan hidup.
Ironisnya, manusia sering kali hanya melihat akibat, tetapi lupa menelusuri sebab. Kita panik ketika monyet menggigit, tetapi jarang bertanya mengapa mereka sampai harus turun ke kota. Kita sibuk mencari cara mengusir satwa, tetapi kurang serius menjaga habitatnya.
Tentu keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Negara wajib hadir melindungi warganya melalui langkah cepat, ilmiah, dan terukur. Identifikasi penyebab, pengamanan lokasi, pemeriksaan kesehatan satwa, hingga kemungkinan relokasi harus dilakukan oleh pihak yang berwenang. Namun, penyelesaian tidak boleh berhenti pada pemindahan monyet semata. Jika akar masalahnya adalah kerusakan ekosistem, maka konflik serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang kembali.
Peristiwa ini sesungguhnya bukan hanya persoalan satwa liar. Ini adalah cermin hubungan manusia dengan alam. Alam tidak pernah berbicara dengan kata-kata.
Ia berbicara melalui banjir, kebakaran, longsor, abrasi, dan kini melalui konflik antara manusia dengan satwa liar. Semua itu adalah bahasa yang mengingatkan bahwa keseimbangan sedang terganggu.
Allah SWT telah mengingatkan:
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)." ( Ar-Rum ; 41).
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia bukanlah penguasa mutlak bumi, melainkan khalifah yang diberi amanah untuk menjaga keseimbangan ciptaan-Nya. Ketika amanah itu diabaikan, alam akan memberikan peringatan dengan caranya sendiri.
Semoga peristiwa di Tembilahan tidak hanya menjadi berita tentang gigitan monyet, tetapi juga menjadi momentum lahirnya kesadaran baru bahwa menjaga alam bukan sekadar urusan lingkungan, melainkan bagian dari tanggung jawab moral, sosial, dan keagamaan.
Sebab pada akhirnya, ketika alam mulai "melawan", yang sesungguhnya sedang digugat bukanlah manusia sebagai individu, melainkan cara manusia memperlakukan bumi yang dititipkan Allah kepadanya.
Wallahu A'lam.