KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) — Siang mulai merunduk di Tepian Datuk Bandaro, Desa Gunung, Kecamatan Gunung Toar, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Cahaya matahari memantul di permukaan Sungai Kuantan yang bergelombang pelan, seolah ikut menunggu dentuman pertama yang menandai dimulainya perlombaan. Ribuan pasang mata tertuju ke arah jalur-jalur panjang yang berjejer di tepian, masing-masing membawa harapan sebuah kampung, harga diri sebuah negeri, dan warisan yang telah hidup jauh sebelum republik ini berdiri.

Di antara riuh sorak penonton, tabuhan gendang, dan teriakan penyemangat dari tepian sungai, berdiri seorang polisi. Bukan di balik garis pengamanan, bukan pula sibuk mengatur keramaian. Hari itu, Bripka Asril justru berada di atas sebuah jalur sebagai Timbo Ruang Jalur Endang Rumus Desa Banjar Guntung.
Seragam yang biasa dikenakannya untuk menjaga keamanan berganti dengan peran yang menghidupkan sebuah tradisi. Ia menjadi bagian dari denyut Pacu Jalur, tradisi yang bagi masyarakat Kuantan Singingi bukan sekadar perlombaan mendayung, melainkan kisah panjang tentang persatuan, gotong royong, keberanian, dan kehormatan.
Pemandangan itu menyimpan makna yang lebih dalam daripada sekadar keikutsertaan seorang anggota Polri dalam sebuah festival budaya. Ia menghadirkan pesan bahwa menjaga keamanan tidak selalu dilakukan dari balik pagar pembatas atau melalui penegakan hukum semata. Ada kalanya keamanan lahir dari kedekatan, dari kepercayaan, dan dari kesediaan menyelami denyut kehidupan masyarakat yang dijaga.
Sebagai Bhabinkamtibmas Desa Bukit Pedusunan Polsek Kuantan Mudik, Bripka Asril memahami bahwa tugasnya tidak berhenti pada patroli, mediasi persoalan warga, ataupun menjaga ketertiban. Ia juga hadir untuk merawat hubungan yang tumbuh dari rasa saling mengenal, saling menghormati, dan saling memiliki.
Ketika jalur mulai meluncur membelah arus Sungai Kuantan, setiap kayuhan dayung menggema seperti irama yang telah diwariskan lintas generasi. Di atas perahu itu, tidak ada sekat antara profesi, jabatan, maupun latar belakang. Semua larut dalam satu tujuan: membawa jalur melaju secepat mungkin menuju garis akhir.
Begitulah Pacu Jalur mengajarkan kehidupan. Tidak ada kemenangan yang diraih seorang diri. Setiap laju perahu bergantung pada keselarasan puluhan tangan yang mendayung dalam irama yang sama. Sedikit saja kehilangan kekompakan, jalur akan kehilangan arah.
Nilai-nilai itulah yang sesungguhnya ingin terus dijaga oleh masyarakat Kuantan Singingi. Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, Pacu Jalur tetap menjadi ruang tempat masyarakat belajar tentang arti kebersamaan, kesetiaan terhadap kampung halaman, dan penghormatan kepada leluhur.
Kapolres Kuantan Singingi AKBP Hidayat Perdana, S.H., S.I.K., M.H., memandang keterlibatan personel Polri dalam kegiatan budaya sebagai bagian dari pendekatan kemanusiaan yang harus terus dikembangkan.
"Polri hadir bukan hanya dalam pelaksanaan tugas kepolisian, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Melalui kehadiran Bhabinkamtibmas di tengah masyarakat, diharapkan hubungan yang harmonis terus terjalin sehingga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif," ujarnya.
Pernyataan itu menemukan wujud nyatanya di tepian sungai pada Sabtu sore tersebut. Seorang polisi tidak hanya menjaga agar perlombaan berlangsung aman, tetapi juga ikut menjadi bagian dari cerita yang sedang ditulis masyarakatnya sendiri.
Kapolres juga menegaskan bahwa Pacu Jalur merupakan warisan budaya yang menjadi kebanggaan Kabupaten Kuantan Singingi. Karena itu, seluruh personel Polres Kuansing diharapkan mampu menjadi pelindung sekaligus penggerak pelestarian budaya lokal.
"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan, menjunjung sportivitas, dan bersama-sama menyukseskan Pacu Jalur sebagai identitas budaya Kabupaten Kuantan Singingi," katanya.
Di banyak tempat, hubungan antara aparat dan masyarakat sering kali dibangun melalui ruang-ruang formal. Namun di Kuantan Singingi, hubungan itu juga tumbuh di tepian sungai, di antara kayuhan dayung, sorak penonton, dan tradisi yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Mungkin itulah wajah Polri yang paling dekat dengan masyarakat: hadir bukan hanya ketika persoalan datang, tetapi juga ketika masyarakat merayakan identitasnya.
Sebab budaya yang lestari adalah fondasi bagi masyarakat yang damai. Dan keamanan yang paling kokoh bukan hanya lahir dari hukum yang ditegakkan, melainkan juga dari rasa memiliki terhadap tanah kelahiran, terhadap tradisi, dan terhadap sesama.
Ketika senja perlahan turun di atas Sungai Kuantan, jalur-jalur kembali bersandar di tepian. Riuh perlombaan mulai mereda. Namun pesan yang tertinggal tetap bergema: menjaga negeri dapat dimulai dengan menjaga budayanya. Sebab di sanalah tuah dipelihara, marwah dijunjung, dan kepercayaan masyarakat menemukan maknanya.*(ald)