Kilasriau.com, PULAU KIJANG – Relawan Pemadam Kebakaran (Damkar) Reteh bersama Forum Ketua RT/RW Kelurahan Pulau Kijang menggelar rapat koordinasi untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran di wilayah tersebut, Sabtu (18/7/2026).
Rapat yang dihadiri Lurah Pulau Kijang, perwakilan Koramil 07 Reteh, Ketua Forum RT/RW, para Ketua RW se-Kelurahan Pulau Kijang, serta Relawan Damkar Reteh itu menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman kebakaran.
Salah satu inisiator Relawan Damkar Reteh, Nahrawi, mengatakan forum menyepakati pengadaan satu unit mesin atau alat pemadam kebakaran sederhana di setiap RW melalui swadaya masyarakat berdasarkan surat dari Lurah Pulau Kijang.
Selain itu, disepakati pula pembangunan sumur penampungan air di setiap RT, jalan maupun lorong sebagai sumber air darurat, serta penyediaan peralatan pemadam kebakaran di lokasi pesta pernikahan maupun hajatan masyarakat yang akan dikoordinasikan oleh Tim Relawan Damkar Reteh bersama RT dan RW setempat.
"Alhamdulillah, rapat koordinasi berjalan dengan baik dan menghasilkan beberapa kesepakatan bersama. Ini merupakan bentuk komitmen seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran di Kelurahan Pulau Kijang," ujar Nahrawi.
Ia menjelaskan, Kelurahan Pulau Kijang saat ini memiliki 68 RT dan 22 RW. Menurutnya, skema pengadaan mesin pemadam kebakaran secara swadaya sangat memungkinkan untuk direalisasikan apabila mendapat dukungan seluruh masyarakat.
"Kalau diasumsikan satu RT memiliki sedikitnya 50 rumah, maka dalam satu RW terdapat sekitar 150 rumah. Apabila setiap rumah berpartisipasi dengan iuran sebesar Rp20 ribu per bulan, maka akan terkumpul sekitar Rp3 juta di setiap RW. Dalam waktu sekitar dua bulan, setiap RW sudah dapat memiliki satu mesin pemadam kebakaran sederhana sebagai langkah penanganan awal sebelum api membesar," jelasnya.
Nahrawi menilai biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan jauh lebih kecil dibandingkan kerugian yang harus ditanggung masyarakat setelah terjadi kebakaran.
"Biaya pemulihan pascakebakaran tentu jauh lebih besar daripada biaya pencegahannya. Karena itu, kami juga berharap di setiap RT tersedia sumur penampungan air yang dapat dimanfaatkan saat kondisi darurat," katanya.
Menurutnya, upaya tersebut sangat penting mengingat Pulau Kijang memiliki tingkat kerawanan kebakaran yang cukup tinggi. Sebagian besar rumah warga masih berbahan kayu, berdiri berdempetan, serta berada di kawasan dengan akses jalan dan lorong yang relatif sempit sehingga menyulitkan proses pemadaman.
Nahrawi optimistis gagasan tersebut dapat diwujudkan apabila seluruh unsur pemerintah dan masyarakat bersatu.
"Ini memang baru sebuah gagasan sederhana, tetapi bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Jika Forkopimcam, pemerintah kelurahan, Forum RT/RW, dan seluruh pemangku kepentingan duduk bersama serta bergerak bersama untuk kepentingan masyarakat, saya yakin program ini bisa terlaksana. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan dan pengelolaan yang baik," ungkapnya.
Ia juga menilai semangat gotong royong masyarakat Pulau Kijang telah terbukti melalui berbagai gerakan sosial yang selama ini berjalan, seperti Qolbu Peduli Umat, YLSM Prima Reteh, Remaja Masjid, KKSS, Gasebu, Emak-emak Gasebu, PHBI Reteh, Gerbang Selatan, dan berbagai komunitas lainnya.
"Semangat kebersamaan masyarakat Pulau Kijang sudah teruji. Tinggal bagaimana semangat itu dikelola dengan baik dan dilandasi niat yang tulus untuk melindungi masyarakat dari risiko kebakaran," tutupnya.