Berhasil di Negeri Orang, Gagal di Tanah Sendiri

KilasRiau.com - Ada saat-saat ketika tepuk tangan terdengar begitu riuh, tetapi hati justru dipenuhi kesunyian. Ada hari-hari ketika orang-orang mengucapkan selamat atas apa yang telah kita capai, sementara di dalam dada, ada ruang yang tetap kosong dan tak mampu diisi oleh pujian apa pun.

Barangkali, beginilah rasanya menjadi seseorang yang berhasil di negeri orang, tetapi merasa gagal di tanah sendiri.

Aku tidak sedang berbicara tentang jabatan, tentang materi, ataupun tentang penghargaan. Sebab semua itu hanyalah angka-angka yang dapat bertambah dan berkurang seiring waktu. Yang sedang kubicarakan adalah sebuah perasaan yang jauh lebih sunyi: perasaan ketika pengabdian terasa lebih bermakna di tempat yang jauh, sementara di tanah kelahiran sendiri, langkah-langkah yang ditempuh seolah tak pernah benar-benar sampai.

Ironis.

Semakin jauh kaki melangkah, semakin banyak tangan yang menyambut. Semakin luas perjalanan, semakin banyak orang yang percaya. Namun, ketika kembali menatap kampung halaman, yang terlihat justru cermin yang memantulkan pertanyaan demi pertanyaan.

"Apakah aku sudah menjadi anak yang berguna bagi tanah yang telah membesarkanku?"

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia menetap di sudut hati, tumbuh bersama setiap keberhasilan yang diraih di tempat lain.

Mungkin banyak orang mengira keberhasilan selalu identik dengan kebahagiaan. Padahal tidak demikian. Ada keberhasilan yang justru melahirkan rasa bersalah. Ada kemenangan yang diam-diam menyisakan kekalahan.

Sebab kemenangan tidak selalu berarti telah menunaikan tanggung jawab.

Aku lahir dari tanah yang sederhana.

Tanah yang mengajariku tentang hujan pertama, tentang jalan-jalan berdebu, tentang wajah-wajah yang mengenalku sejak kecil. Tanah yang menjadi saksi ketika aku belajar mengeja mimpi, belajar jatuh, belajar bangkit, dan belajar memahami bahwa hidup bukan sekadar tentang menjadi besar, melainkan tentang menjadi berguna.

Setiap kali aku meninggalkan kampung halaman, aku selalu membawa harapan.

Aku ingin pulang dengan cerita.

Aku ingin pulang dengan karya.

Aku ingin pulang dengan sesuatu yang dapat membuat orang-orang berkata, "Anak kampung ini tidak lupa dari mana ia berasal."

Namun, hidup ternyata tidak berjalan mengikuti skenario yang kita tulis sendiri.

Sering kali Tuhan membuka pintu di tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan. Orang-orang yang bahkan tidak memiliki hubungan darah justru memberikan kepercayaan yang besar. Mereka menerima gagasan, menghargai kerja keras, bahkan memberi ruang untuk tumbuh.

Sementara di tempat sendiri, segala sesuatu terasa jauh lebih rumit.

Bukan karena masyarakatnya tidak baik.

Bukan pula karena kampung halaman tidak mencintai anak-anaknya.

Tetapi setiap tanah memiliki dinamika, memiliki luka, memiliki sejarah, dan memiliki cara sendiri dalam menerima perubahan.

Di situlah aku mulai belajar bahwa mencintai kampung halaman bukan berarti selalu mudah untuk mengabdi kepadanya.

Ada malam-malam ketika air mata jatuh tanpa suara.

Bukan karena lelah bekerja.

Bukan pula karena kalah bersaing.

Melainkan karena ada perasaan yang sulit dijelaskan.

Seakan-akan aku berhasil membangun mimpi di negeri orang, tetapi gagal membangun harapan di tanah sendiri.

Perasaan itu tidak bisa dibagikan kepada siapa pun.

Ia menjadi percakapan panjang antara hati dan Tuhan.

Aku bertanya, mungkin terlalu banyak yang belum kulakukan.

Mungkin aku terlalu sibuk mengejar cakrawala hingga lupa menoleh kepada halaman rumah sendiri.

Atau mungkin aku memang belum cukup layak untuk menjadi jawaban atas harapan kampung yang membesarkanku.

Namun, semakin lama aku merenung, semakin kusadari bahwa menyalahkan keadaan tidak pernah menyelesaikan apa pun.

Jika memang ada yang kurang, mungkin akulah yang harus memperbaikinya.

Jika memang ada yang gagal, mungkin akulah yang harus belajar lebih keras.

Karena kedewasaan dimulai ketika seseorang berani berkata, "Aku harus memperbaiki diriku sendiri."

Hidup mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana.

Bahwa pengakuan dari dunia tidak selalu mampu mengobati kerinduan kepada tanah kelahiran.

Engkau boleh dikenal di mana-mana.

Namamu boleh disebut di berbagai tempat.

Karyamu boleh dibaca oleh ribuan orang.

Tetapi ketika ibumu bertanya, "Apa yang sudah kauberikan untuk kampungmu?", seluruh kebanggaan itu mendadak menjadi kecil.

Karena sesungguhnya, manusia selalu ingin pulang.

Bukan sekadar pulang secara fisik, tetapi pulang dengan membawa manfaat.

Pulang dengan membawa perubahan.

Pulang dengan membawa harapan.

Hari ini mungkin aku masih merasa gagal.

Mungkin belum banyak yang bisa kuberikan kepada tanah yang telah mengajariku mengenal kehidupan.

Namun aku percaya, kegagalan bukanlah titik akhir.

Ia hanyalah jeda.

Ia adalah ruang sunyi tempat seseorang ditempa sebelum benar-benar memahami arti pengabdian.

Aku tidak ingin dikenang sebagai orang yang sukses di negeri orang tetapi asing di kampung sendiri.

Aku ingin dikenang sebagai seseorang yang, walaupun terlambat, akhirnya kembali untuk menanam harapan di tanah tempat ia pertama kali belajar berjalan.

Karena kampung halaman tidak pernah meminta kita menjadi orang paling kaya.

Ia tidak pernah menuntut kita menjadi orang paling terkenal.

Yang diharapkannya hanyalah satu: jangan pernah melupakan tempat di mana kita dilahirkan.

Kini aku mengerti, air mata yang jatuh bukanlah tanda kelemahan.

Ia adalah bahasa jiwa yang sedang berbicara.

Bahwa masih ada cinta yang belum sempat kubalas.

Masih ada amanah yang belum kutunaikan.

Masih ada mimpi yang belum kutanam di tanah kelahiranku sendiri.

Dan selama napas masih berhembus, aku memilih untuk tidak menyerah.

Aku akan terus berjalan.

Terus berkarya.

Terus mengabdi.

Sampai suatu hari nanti, ketika aku menoleh ke belakang, aku tidak lagi berkata, "Aku berhasil di negeri orang, tetapi gagal di tanah sendiri."

Melainkan dengan hati yang tenang aku dapat berkata,

"Aku pernah pergi sejauh mungkin, bukan untuk melupakan kampung halaman, tetapi untuk kembali dengan membawa sesuatu yang dapat membuat tanah kelahiranku ikut berdiri lebih tegak."

Sebab pada akhirnya, sehebat apa pun perjalanan seseorang, tujuan paling mulia bukanlah sekadar mencapai puncak, melainkan memastikan bahwa cahaya yang ia bawa mampu menerangi jalan pulang menuju tanah yang pertama kali memanggil namanya.*(ald)

 

by: Aldian Syahmubara

source: Datuak Mangkuto Jilelo


Baca Juga