Siak, Kilasriau.com – Suasana haru dan semangat persaudaraan yang kental menyelimuti kunjungan budaya bersejarah Lembaga Adat Kampung-Kampung Melaka dari Malaysia. Agenda strategis demi mempererat tali silaturahmi dan memperkokoh persatuan rumpun Melayu lintas negara ini dilaksanakan di Gedung Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kecamatan Tualang pada Rabu, (24/6/2026).
Pertemuan emosional ini dihadiri langsung oleh Camat Tualang Mursal, S.Sos., Kapolsek Tualang Kompol Teguh Wiyono, SH., MH., Ketua LAMR Kecamatan Tualang Datuk H. Risman Harun, serta jajaran pengurus organisasi Melayu yang eksis di wilayah Kecamatan Tualang.
Meskipun persiapan penyambutan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat dan di tengah berbagai keterbatasan, Pemerintah Kecamatan Tualang menegaskan rasa hormat yang mendalam atas kedatangan rombongan dari Negeri Jiran tersebut.
"Kami menyampaikan syukur Alhamdulillah, kedatangan Datuk merupakan berkah bagi kami. Kiranya dalam kunjungan ini, mungkin dalam penyambutan kami ada yang kurang pada tempatnya, kami sebelumnya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mungkin ini yang bisa kami lakukan karena kami juga memiliki keterbatasan waktu," ujar Camat Tualang, Mursal, S.Sos.
Mursal juga mengungkapkan visi besarnya agar momentum ini menjadi pemantik emosional bagi generasi muda Melayu untuk terus bersatu tanpa tersekat oleh batas negara.
"Insya Allah ini menjadi tempat kami untuk berhimpun anak-anak Melayu di wilayah kami. Kami tetap berniat untuk bagaimana bisa menyatukan anak negeri. Selamat datang kepada keluarga kami yang dari negeri jiran Melaka sampai ke tempat ini. Insya Allah, kami juga nanti kalau ada rezeki pengen ikut berkunjung juga ke sana," tambahnya optimistis.
Ketua LAMR Kecamatan Tualang, Datuk H. Risman Harun, dalam hantaran katanya memaparkan kondisi sosiologis wilayah Tualang, khususnya daerah Perawang. Sebagai pusat industri yang menjadi daya tarik bagi para pencari kerja dari berbagai penjuru, Tualang kini tumbuh menjadi daerah yang sangat heterogen.
Saat ini, tercatat ada sekitar 32 suku bangsa selain rumpun Melayu yang hidup berdampingan di sana. Namun, di tengah keberagaman yang masif tersebut, esensi adat Melayu sebagai payung negeri harus tetap dihormati dengan menjunjung tinggi filosofi “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
"Nah, inilah yang kami ajak bekerja sama dengan suku-suku lain. Tapi yang namanya Melayu, kita harus tetap menjunjung tinggi adat istiadat," tegas Datuk H. Risman Harun.
Beliau juga berharap agar pertemuan dengan delegasi Melaka ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial belaka, melainkan menjadi langkah awal kerja sama konkret yang berkelanjutan.
"Selepas acara ini, mari kita berbincang-bincang bagaimana nak memajukan Melayu ini, terutama Tualang dengan Melaka yang sebenarnya tak jauh. Harapan kita, apapun bentuk organisasinya, yang namanya Melayu kita harus bersatu. Berat sama dipikul, ringan sama kita jinjing," serunya.
Pernyataan penuh emosional datang dari perwakilan delegasi Melaka, Datuk Syahri. Ia mengaku sangat terkesan dan terharu atas sambutan luar biasa yang diberikan oleh masyarakat dan otoritas di Tualang.
"Kami rasa teruja (senang/terpukau) apabila kami disambut mesra, dan ibarat kata, kepulangan kami ke sini bagaikan perantau yang pulang ke kampungnya. Ini bermakna betapa rindunya kami dengan orang-orang di sini, lebih-lebih lagi yang pernah berada di sini. Dan sesungguhnya pertemuan ini telah diaturkan oleh Allah SWT," ungkap Datuk Syahri dengan nada bergetar.
Ia menambahkan bahwa garis batas administratif dan geografis modern tidak akan pernah bisa menghapus kenyataan bahwa Melaka dan Tualang berbagi akar tunggang yang sama, bahasa, tradisi, dan falsafah hidup.
"Walaupun dipisahkan oleh selang waktu, tapi dari segi bahasa, budaya, dan kehidupan masyarakat ini sama saja, tiada yang berbeda. Dan kita doakan semoga pertalian kita akan berkelanjutan lagi. Selagi ada bumi dan langit, bulan dan hari, keselamatan dan hubungan kita akan berkelanjutan," pungkasnya.
Sebagai penutup dari prosesi pertemuan yang bersejarah tersebut, pihak delegasi adat Melaka, para tokoh adat LAMR Tualang, serta Camat Tualang saling bertukar cendramata.
Pertukaran simbolis ini bukan sekadar buah tangan, melainkan sebuah ikrar visual bahwa hubungan emosional dan kultural antara Melaka dan Tualang telah naik ke level yang lebih tinggi demi kejayaan tamadun Melayu di masa depan.