Dihadapan Bupati dan Kapolres, Anak-Anak Berseragam TNI-Polri Sampaikan Pesan Keras tentang PETI di Pacu Jalur Inuman

INUMAN (KilasRiau.com) – Suasana pembukaan Pacu Jalur Rayon I Kecamatan Inuman, Kabupaten Kuantan Singingi, Kamis (11/6/2026), berlangsung semarak. Ribuan masyarakat dari berbagai desa memadati Tepian Tigo Muaro untuk menyaksikan dimulainya salah satu rangkaian pesta budaya terbesar yang menjadi kebanggaan masyarakat Kuansing.

Sorak-sorai penonton, dentuman musik tradisional, serta semangat para pendukung jalur yang akan berlaga, menciptakan atmosfer penuh kegembiraan. Namun, di tengah kemeriahan tersebut, perhatian masyarakat mendadak tertuju pada sebuah penampilan sederhana yang justru meninggalkan kesan mendalam.

Sekelompok anak-anak sekolah dasar tampil di hadapan ribuan pasang mata dengan membawakan sebuah drama kolosal singkat bertema penindakan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Berbalut seragam aparat TNI dan Polri lengkap dengan atribut pendukung, mereka tampil penuh percaya diri menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mematuhi hukum.

Penampilan itu sontak menjadi sorotan. Bukan hanya karena para pemerannya masih berusia belia, tetapi juga karena isu yang mereka angkat merupakan persoalan serius yang selama ini menjadi perhatian masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi.

Dengan ekspresi polos khas anak-anak, mereka memainkan peran masing-masing dengan penuh penghayatan. Ada yang berperan sebagai aparat TNI, anggota kepolisian, hingga masyarakat yang diingatkan akan dampak buruk aktivitas PETI terhadap lingkungan.

Adegan demi adegan yang ditampilkan menggambarkan bagaimana aparat melakukan upaya penertiban terhadap aktivitas pertambangan ilegal yang berpotensi merusak ekosistem sungai dan kawasan hutan. Meski dibawakan dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami, substansi pesan yang disampaikan begitu kuat.

Sesekali, gelak tawa dan tepuk tangan penonton terdengar ketika melihat tingkah lugu para pemain cilik tersebut. Namun, tidak sedikit pula masyarakat yang tampak serius menyimak jalannya drama hingga usai.

Bagi sebagian orang, pertunjukan itu mungkin hanya sekadar hiburan pelengkap dalam rangkaian pembukaan Pacu Jalur. Akan tetapi, bagi banyak penonton lainnya, drama tersebut menjadi media edukasi yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan moral kepada masyarakat.

PETI sendiri bukanlah isu baru di Kabupaten Kuantan Singingi. Aktivitas pertambangan tanpa izin kerap menjadi sorotan karena dinilai berdampak terhadap kerusakan lingkungan, terutama di daerah aliran sungai. Berbagai upaya penertiban telah dilakukan aparat gabungan, namun persoalan tersebut masih menjadi tantangan yang memerlukan keterlibatan semua pihak.

Melalui drama sederhana itu, anak-anak tersebut seolah mengingatkan bahwa menjaga alam bukan semata tugas pemerintah ataupun aparat penegak hukum. Kesadaran untuk melindungi lingkungan harus tumbuh dari setiap individu, termasuk generasi muda yang kelak akan mewarisi bumi tempat mereka berpijak.

Yang membuat momen itu semakin berkesan, pertunjukan tersebut disaksikan langsung oleh Bupati Kuantan Singingi bersama jajaran pemerintah daerah, unsur Forkopimda, serta Kapolres Kuantan Singingi, AKBP Hidayat Perdana.

Di hadapan para pemimpin daerah itulah, para pemain cilik tampil tanpa rasa canggung. Mereka menunjukkan bahwa keberanian menyampaikan pesan kebaikan tidak ditentukan oleh usia.

Banyak masyarakat yang mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam. Sejumlah penonton bahkan mengaku terharu melihat anak-anak seusia sekolah dasar telah diajarkan tentang pentingnya mencintai lingkungan dan memahami nilai-nilai kepatuhan terhadap aturan.

Penampilan itu sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya melalui seni pertunjukan. Dengan pendekatan yang kreatif dan menyenangkan, pesan-pesan penting dapat tersampaikan secara efektif tanpa terkesan menggurui.

Di tengah derasnya arus perkembangan zaman, anak-anak tidak hanya dituntut untuk unggul dalam bidang akademik. Mereka juga perlu dibekali dengan kepedulian sosial, kesadaran hukum, serta kecintaan terhadap lingkungan hidup.

Pacu Jalur sendiri merupakan warisan budaya yang sarat dengan nilai persatuan, kerja sama, dan sportivitas. Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun itu menjadi identitas masyarakat Kuantan Singingi yang terus dijaga keberlangsungannya hingga saat ini.

Namun, pembukaan Pacu Jalur Rayon I Inuman tahun ini menghadirkan pesan yang lebih luas. Bahwa melestarikan budaya harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga alam yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Sungai Kuantan yang menjadi arena Pacu Jalur bukan sekadar lintasan perlombaan. Sungai tersebut merupakan sumber kehidupan yang telah menemani perjalanan sejarah masyarakat Kuansing sejak dahulu kala. Menjaganya dari berbagai bentuk kerusakan merupakan tanggung jawab bersama.

Dari panggung sederhana itu, anak-anak sekolah dasar tersebut berhasil menyampaikan pesan besar kepada seluruh masyarakat. Bahwa cinta terhadap kampung halaman bukan hanya diwujudkan melalui kebanggaan terhadap tradisi, melainkan juga melalui tindakan nyata dalam menjaga lingkungan dan mendukung tegaknya hukum.

Tubuh-tubuh kecil yang mengenakan seragam TNI dan Polri itu seakan membawa harapan baru bagi masa depan Kuantan Singingi. Mereka adalah generasi penerus yang diharapkan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang peduli, berani, dan memiliki kesadaran untuk menjaga apa yang diwariskan oleh para pendahulu.

Dan siang itu, di tengah kemeriahan pembukaan Pacu Jalur Rayon I Kecamatan Inuman Tahun 2026, anak-anak tersebut berhasil mengajarkan satu pelajaran berharga kepada ribuan orang yang hadir: bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah kecil, termasuk dari keberanian anak-anak untuk menyuarakan pentingnya menjaga alam demi masa depan yang lebih baik.

Pembukaan Pacu Jalur Rayon I Kecamatan Inuman tahun ini pun tidak hanya menjadi awal dari persaingan para jalur di atas Sungai Kuantan, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama bahwa menjaga budaya, mencintai lingkungan, dan menghormati hukum adalah bagian dari jati diri masyarakat Kuantan Singingi.*(ald)

 

Source: Jon Hendri sebagai mana di kutip dari akun Facebook pribadinya


Baca Juga