One-Sided Action: Saat Perjuangan Hanya Datang dari Satu Sisi

KilasRiau.com - Dalam kehidupan, tidak semua hubungan berjalan dengan keseimbangan yang indah seperti yang sering digambarkan orang-orang. Ada hubungan yang tumbuh karena saling menjaga, saling memahami, dan saling memperjuangkan. Namun ada pula hubungan yang perlahan berubah menjadi ruang sunyi, tempat satu orang terus berlari sementara yang lain hanya berjalan tanpa arah yang sama.

Fenomena ini sering disebut one-sided action - keadaan ketika seluruh usaha, perhatian, pengorbanan, bahkan rasa peduli hanya datang dari satu pihak. Sekilas terlihat biasa. Bahkan kadang dianggap sebagai bentuk ketulusan. Tetapi jika berlangsung terlalu lama, hubungan seperti ini perlahan berubah menjadi sesuatu yang melelahkan secara emosional.

Seseorang yang berada dalam hubungan sepihak biasanya tidak sadar sejak awal. Ia hanya merasa sedang mencintai dengan tulus. Ia berpikir perhatian yang diberikannya suatu saat akan dibalas dengan perasaan yang sama. Maka ia mulai terbiasa menjadi orang pertama yang menghubungi. Menjadi pihak yang selalu mengalah saat terjadi masalah. Menjadi orang yang terus mencoba memahami, meski dirinya sendiri jarang dipahami.
Lama-kelamaan, tanpa disadari, ia mulai hidup dalam ketimpangan.

Ia menunggu kabar dari seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar mencarinya. Ia memikirkan seseorang yang bisa tidur nyenyak tanpa memikirkannya sedikit pun. Ia rela meluangkan waktu, tenaga, bahkan perasaan demi mempertahankan sesuatu yang sebenarnya hanya hidup di hatinya sendiri.

Yang paling menyakitkan dari one-sided action bukanlah penolakan secara langsung, melainkan sikap setengah hati. Karena harapan selalu tumbuh dari perhatian-perhatian kecil yang tidak jelas arahnya. Kadang seseorang diberi cukup perhatian untuk bertahan, tetapi tidak pernah cukup kepastian untuk merasa aman. Akibatnya, ia terus menggantungkan harapan pada sesuatu yang sebenarnya sudah lama kehilangan makna.

Di era sekarang, hubungan sepihak semakin sering terjadi. Ironisnya, banyak orang bertahan bukan karena dicintai, tetapi karena takut kehilangan seseorang yang bahkan belum tentu menganggapnya penting. Banyak yang rela mengorbankan harga diri demi menjaga hubungan tetap utuh, meski yang dipertahankan sebenarnya hanya luka dan kebiasaan.

Media sosial ikut memperparah keadaan itu. Orang menjadi mudah merasa dekat, tetapi sulit benar-benar hadir. Banyak hubungan terlihat hangat di layar, tetapi dingin dalam kenyataan. Ada yang rajin memberi tanda suka pada unggahan, tetapi lupa memberi perhatian saat dibutuhkan. Ada yang pandai berkata rindu, tetapi tidak pernah benar-benar meluangkan waktu. Akhirnya, hubungan hanya dipenuhi formalitas tanpa ketulusan yang nyata.

Dalam hubungan sepihak, satu orang biasanya memikul semuanya sendirian. Ia menjadi pendengar terbaik, tetapi tidak pernah didengar. Ia menjadi tempat pulang, tetapi tidak pernah dijadikan tujuan. Ia terus memahami keadaan orang lain, sementara kelelahan dirinya sendiri diabaikan.

Lebih menyedihkan lagi, banyak orang yang terlalu baik justru terjebak paling lama dalam hubungan seperti ini. Mereka percaya bahwa kesabaran dapat mengubah seseorang. Mereka yakin ketulusan akan selalu menemukan jalannya. Padahal kenyataannya tidak semua orang mampu menghargai perjuangan yang tulus. Ada yang terbiasa menerima tanpa pernah belajar memberi.

Dan ketika hubungan hanya berjalan karena satu orang terus bertahan, sebenarnya hubungan itu sudah kehilangan fondasi utamanya: keseimbangan.

Hubungan yang sehat tidak dibangun oleh rasa kasihan, bukan pula oleh kebiasaan semata. Hubungan yang sehat lahir dari dua hati yang sama-sama ingin menjaga. Karena cinta, perhatian, persahabatan, bahkan hubungan keluarga sekalipun tidak akan bertahan lama jika hanya satu pihak yang terus berusaha.

Seseorang bisa sangat sabar, tetapi bukan berarti ia tidak lelah. Seseorang bisa terus bertahan, tetapi bukan berarti hatinya tidak terluka. Ada titik di mana manusia mulai sadar bahwa memperjuangkan sesuatu sendirian bukan lagi tentang ketulusan, melainkan tentang menyakiti diri sendiri secara perlahan.

Mungkin inilah alasan mengapa banyak orang akhirnya memilih pergi tanpa banyak penjelasan. Bukan karena mereka tidak peduli lagi, tetapi karena mereka sudah terlalu lama berjuang sendirian. Mereka lelah menjadi satu-satunya yang menjaga hubungan tetap hidup.

Pada akhirnya, one-sided action mengajarkan satu hal penting dalam hidup: jangan pernah kehilangan diri sendiri hanya demi mempertahankan seseorang. Sebab hubungan yang baik tidak akan membuat satu orang merasa sendirian di dalamnya.

Ketulusan memang indah. Namun ketulusan tanpa penghargaan hanya akan berubah menjadi luka yang dipelihara terlalu lama.*(ald)

 

 

by. aldian syahmubara


Baca Juga