Ketua Foliku Ronaldo Rozalino: Pemimpin Dikenang karena Ketulusan Pengabdiannya

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Jumat pagi, 22 Mei 2026, berjalan sebagaimana biasanya. Matahari perlahan naik di langit Kuantan Tengah, menyapu jalan-jalan yang mulai ramai oleh aktivitas masyarakat. Di kantor-kantor pemerintahan, agenda pelayanan terus bergerak. Di sudut pasar, percakapan warga tetap hidup seperti denyut yang tak pernah berhenti. Namun di antara rutinitas yang berjalan itu, ada satu momen yang menghadirkan suasana berbeda—sebuah hari pertambahan usia bagi Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si.

Ucapan demi ucapan datang mengalir. Tidak hanya sebatas kalimat seremonial, tetapi juga doa-doa yang lahir dari penghormatan dan kedekatan emosional masyarakat terhadap seorang pemimpin yang selama ini dikenal aktif hadir di tengah kehidupan warga.

Salah satu ucapan itu datang dari Ketua Forum Literasi Kuansing (Foliku), Ronaldo Rozalino. Dengan penuh hangat dan ketulusan, ia menyampaikan doa terbaik untuk sosok Camat Kuantan Tengah tersebut.

“Barakallahu fii umrik untuk Bapak Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si. Di usia yang 43 ini, semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, umur yang penuh keberkahan, kekuatan dalam mengemban amanah, serta kemudahan dalam setiap langkah pengabdian kepada masyarakat,” ujar Ronaldo, Jumat (22/5/2026).

Bagi Ronaldo, seorang pemimpin bukan sekadar sosok yang hadir dalam ruang birokrasi dan administrasi pemerintahan. Lebih dari itu, pemimpin adalah mereka yang mampu menjadi tempat masyarakat menyampaikan harapan, keluhan, bahkan keresahan hidup sehari-hari.
Karena itu, menurutnya, ketulusan menjadi nilai yang jauh lebih penting daripada sekadar simbol jabatan.

“Pemimpin sejati akan selalu dikenang bukan karena kursi yang ia duduki, tetapi karena cara ia memperlakukan masyarakatnya. Ketika seorang pemimpin hadir dengan hati, masyarakat pun akan mengingatnya dengan hati,” tutur Ronaldo.

Ucapan tersebut terasa begitu puitik di tengah kehidupan pemerintahan yang kerap dipenuhi angka, laporan, dan agenda formal. Sebab pada akhirnya, hubungan antara pemimpin dan masyarakat memang dibangun bukan hanya oleh kebijakan, tetapi juga oleh rasa kemanusiaan.

Di usia yang terus bertambah, seseorang sesungguhnya sedang diingatkan bahwa waktu tidak pernah berhenti berjalan. Tahun demi tahun datang dan pergi, meninggalkan jejak pengabdian yang kelak akan dikenang masyarakat.

Dan bagi seorang aparatur pemerintahan, usia bukan sekadar penambahan angka dalam kalender kehidupan. Ia adalah perjalanan panjang tentang tanggung jawab, tentang kesabaran menghadapi persoalan masyarakat, tentang kesiapan mendengar kritik, dan tentang kemampuan tetap berdiri tegak di tengah berbagai tantangan.

Di mata banyak masyarakat, sosok Eka Putra dikenal cukup dekat dengan warga. Kehadirannya dalam berbagai kegiatan sosial, budaya, hingga agenda kemasyarakatan membuat namanya tidak asing di tengah kehidupan masyarakat Kuantan Tengah.

Bahkan dalam banyak kesempatan, ia dinilai sebagai pemimpin yang tidak menjaga jarak dengan masyarakat kecil. Sikap sederhana dan komunikatif itulah yang membuat penghormatan masyarakat tumbuh secara alami.

Forum Literasi Kuansing sendiri selama ini dikenal aktif dalam mendorong budaya membaca, menulis, dan membangun kesadaran literasi di tengah masyarakat Kuansing. Komunitas tersebut kerap hadir dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan sebagai bagian dari upaya membangun kualitas sumber daya manusia di daerah.

Bagi Ronaldo, kepemimpinan dan literasi sejatinya memiliki hubungan yang sangat erat. Sebab daerah yang maju bukan hanya dibangun dengan infrastruktur fisik, tetapi juga dengan kualitas berpikir masyarakatnya.

Karena itu, ia berharap di usia baru ini, Camat Kuantan Tengah dapat terus menjadi pemimpin yang mengayomi, terbuka terhadap aspirasi masyarakat, dan tetap menjaga semangat pengabdian.

“Semoga beliau selalu diberi kekuatan dalam memimpin, dilimpahkan kesehatan, dijauhkan dari segala hal buruk, dan terus menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi masyarakat Kuantan Tengah,” ucapnya lagi.

Di hari pertambahan usia itu, doa-doa sederhana pun seakan menjadi bahasa paling tulus yang disampaikan masyarakat. Tidak mewah, tidak berlebihan, tetapi penuh makna.

Sebab dalam kehidupan, ada satu hal yang sering kali paling dikenang dari seorang pemimpin: bukan seberapa tinggi jabatannya, melainkan seberapa besar ketulusannya dalam melayani.*(ald)


Baca Juga