Saat Santri Menulis Sejarah, PORSADIN V Kuantan Tengah Perebutkan Piala Bergilir Camat

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Pagi itu, Ahad, 17 Mei 2026, langit Koto Taluk seolah memilih untuk lebih teduh dari biasanya. Angin berembus pelan, menyapu halaman MDTA Aisyiyah/SDN 018 Koto Taluk, membawa aroma tanah yang masih basah, langkah-langkah kecil para santri, bisik doa para guru, dan tatapan penuh harap dari para orang tua yang mengantar buah hati mereka menuju sebuah panggung bernama perjuangan.

Di tempat sederhana itulah, ratusan santri dan santriwati dari berbagai Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) se-Kecamatan Kuantan Tengah berkumpul. Mereka datang bukan membawa kemewahan, bukan pula gemerlap yang sering dipertontonkan zaman. Mereka datang membawa sesuatu yang jauh lebih bernilai—adab, ilmu, keberanian, dan keyakinan bahwa langkah kecil hari ini dapat menjadi jejak besar di masa depan.

Hari itu, Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) V Kecamatan Kuantan Tengah Tahun 2026 resmi dimulai.

Namun siapa pun yang hadir pagi itu tahu, ini bukan sekadar seremoni pembukaan. Ini bukan hanya perlombaan tahunan. Ini adalah perjumpaan antara ilmu dan semangat, antara tradisi dan masa depan, antara doa-doa yang lama dipanjatkan dengan harapan yang mulai menemukan jalannya.

Di tengah suasana yang khidmat, tampak hadir Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si, Ketua DPC FKDT Kabupaten Kuantan Singingi, Jufrizal, M.Pd, serta perwakilan dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kuantan Tengah. Kehadiran Kepala KUA Rindra Febrian, S.Fil.I., M.E pada kesempatan tersebut diwakili oleh Ustadz Jufri. Hadir pula para kepala MDTA, pengurus FKDT, official, guru pembina, dan para wali santri yang sejak pagi memadati arena kegiatan.

Namun ada sesuatu yang membuat PORSADIN tahun ini terasa berbeda. Ada semangat baru yang menyala. Ada gengsi prestasi yang lebih tinggi. Ada sejarah yang sedang dipersiapkan untuk ditulis.

Ketua FKDT Kecamatan Kuantan Tengah sekaligus Ketua Panitia PORSADIN V, Prihasni, S.Ag., M.Pd, berdiri di hadapan seluruh peserta dengan suara tenang namun penuh keyakinan.

“Tahun ini, anak-anak kita bukan hanya bertanding untuk meraih juara. Tahun ini mereka memperebutkan Piala Bergilir Camat Kuantan Tengah. Ini bukan sekadar penghargaan, tetapi simbol kehormatan, kerja keras, dan bukti bahwa santri diniyah mampu menjadi yang terbaik,” ungkap Prihasni.

Kalimat itu sontak membangkitkan semangat seluruh peserta. Tepuk tangan menggema, sorot mata para santri pun berubah—lebih tajam, lebih percaya diri, lebih siap menulis sejarah.

Dalam sambutannya, Ketua DPC FKDT Kabupaten Kuantan Singingi, Jufrizal, M.Pd, menyampaikan apresiasi atas konsistensi FKDT Kecamatan Kuantan Tengah dalam menjaga denyut pendidikan diniyah melalui ajang yang sarat nilai pendidikan dan pembentukan karakter.

“PORSADIN bukan sekadar ruang kompetisi, tetapi ruang kaderisasi. Dari kegiatan seperti inilah lahir anak-anak yang berani tampil, siap bersaing, dan tetap menjunjung akhlak. Kita ingin santri tidak hanya hebat di kelas, tetapi juga tangguh di medan kehidupan,” tegas Jufrizal.

Menurutnya, keberadaan madrasah diniyah hari ini menjadi benteng penting di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Karena itu, seluruh elemen harus ikut menjaga, merawat, dan membesarkan pendidikan diniyah.

Sementara pesan dari Kepala KUA Kuantan Tengah, Rindra Febrian, S.Fil.I., M.E, yang disampaikan melalui Ustadz Jabrius Jas, S.Pd.I menekankan bahwa generasi hebat adalah generasi yang mampu menyeimbangkan ilmu, iman, dan akhlak.

“Anak-anak kita hari ini sedang dipersiapkan bukan hanya menjadi juara di arena lomba, tetapi juga menjadi pemimpin masa depan. Ilmu tanpa akhlak akan kehilangan arah, dan akhlak tanpa ilmu akan kehilangan kekuatan. Madrasah diniyah hadir untuk menyempurnakan keduanya,” ujar Ustadz Jufri menyampaikan pesan Kepala KUA.

Di hadapan para peserta, Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, juga menegaskan bahwa madrasah diniyah bukan pelengkap dalam sistem pendidikan, melainkan pondasi karakter bagi masa depan daerah.

“Anak-anak bisa belajar ilmu di banyak tempat. Tetapi adab, akhlak, dan pondasi moral, itulah yang ditanam kuat di madrasah diniyah. Karena itu, kegiatan seperti ini harus terus hidup dan terus didukung,” ujarnya.

Di balik panggung, para guru tampak sibuk merapikan atribut peserta. Sebagian membisikkan motivasi. Sebagian lagi mengusap kepala anak didiknya dengan penuh kasih. Ada doa yang tak terdengar, namun begitu kuat mengudara.

Di sudut lain, para orang tua berdiri dengan mata berbinar. Sebab bagi mereka, melihat anaknya berdiri percaya diri di arena seperti ini, sudah menjadi kemenangan yang tak ternilai.

Hari itu, Koto Taluk bukan hanya menjadi lokasi perlombaan.

Ia berubah menjadi ruang tempat harapan dikumpulkan.

Ia menjadi saksi bahwa cita-cita kecil sedang dibesarkan.

Ia menjadi bukti bahwa di tengah derasnya perubahan zaman, masih ada orang-orang yang setia menjaga akar peradaban—melalui madrasah, melalui ilmu, melalui doa, dan melalui tangan-tangan kecil para santri.

Dan ketika peluit pertama dibunyikan, ketika perlombaan resmi dimulai, semua yang hadir seperti memahami satu hal—

Bahwa hari itu, yang sedang bertanding bukan sekadar peserta.
Tetapi masa depan.*(ald)


Baca Juga