Dari Balai Adat, Api Kebudayaan Kembali Dinyalakan: DKC Kuantan Tengah Periode 2026–2030 Resmi Dikukuhkan

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Pagi itu, udara di jantung Kota Teluk Kuantan terasa berbeda. Di antara dinding-dinding Balai Adat Kantor Camat Kuantan Tengah yang menyimpan jejak sejarah dan petuah para leluhur, satu per satu tokoh, seniman, budayawan, pendidik, hingga pemangku kebijakan mulai memenuhi ruangan. Langkah kaki yang datang bukan sekadar menghadiri seremoni, melainkan membawa harapan—bahwa seni dan budaya di tanah beradat ini tak akan pernah kehilangan denyutnya.

Rabu, 6 Mei 2026, menjadi hari yang akan tercatat dalam lembar perjalanan kebudayaan Kecamatan Kuantan Tengah. Di tempat yang sarat makna itu, Pengurus Dewan Kesenian Kecamatan (DKC) Kuantan Tengah periode 2026–2030 resmi dikukuhkan. Sebuah momentum yang bukan hanya melantik nama-nama dalam struktur organisasi, tetapi juga meneguhkan tekad untuk menjaga marwah warisan leluhur agar tetap hidup di tengah arus zaman yang terus bergerak.

Suasana hening menyelimuti ruangan ketika lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema dari bibir Defan Aflah Pratama, siswa MAN 1 Kuantan Singingi. Bacaan itu mengalun lembut, menembus relung hati para hadirin, seolah menjadi doa pembuka bagi langkah panjang yang akan ditempuh para penggiat seni ke depan.

Tak lama berselang, keheningan berubah menjadi gelora. Seluruh tamu undangan berdiri tegak. Lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dengan penuh khidmat, dipandu oleh Ramadani, S.Pd., yang juga menjabat Ketua Komite Musik DKC Kuantan Tengah. Nada demi nada mengisi ruang, menyatukan semangat nasionalisme dengan cinta pada akar budaya.

Di balik mikrofon, Tiara Nur Tresna Hade, S.Pd., yang dipercaya sebagai pembawa acara sekaligus Sekretaris DKC, mengarahkan jalannya prosesi dengan tenang dan berwibawa. Setiap kata yang terucap seperti merangkai satu babak baru bagi perjalanan seni di pusat ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi.

Hadir langsung dalam momentum bersejarah itu, Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Kuantan Singingi, Hj. Yulia Herma Suhardiman. Sosok yang selama ini dikenal konsisten menjaga denyut kebudayaan daerah itu datang membawa bukan hanya dukungan, tetapi juga pesan dan harapan besar.

Turut mendampingi, Sekretaris Camat Kuantan Tengah Dini, S.Sos., M.Si., mewakili Camat Eka Putra, S.Sos., M.Si. Kehadiran unsur pemerintah diperkuat oleh Dr. Andri, Kabid Budaya Pariwisata Kuansing, serta Alfion, S.Pd, Kabid Seni. Para kepala desa, lurah, kepala sekolah, tokoh adat, hingga insan kreatif dari berbagai penjuru Kuantan Tengah turut menjadi saksi.

Namun, inti dari hari itu bukanlah sekadar siapa yang hadir. Melainkan siapa yang siap bergerak.

Ketika nama Sri Widarti, A.Md disebut sebagai Ketua Umum DKC Kuantan Tengah periode 2026–2030, tepuk tangan pun pecah. Di wajahnya, terpancar tanggung jawab besar yang kini dipikul.

Dalam sambutannya, Sri tak banyak berbicara soal jabatan. Ia justru berbicara tentang rumah.

“DKC ini bukan sekadar organisasi. Ini rumah besar. Rumah bagi para seniman, budayawan, guru, anak-anak muda, dan siapa pun yang percaya bahwa budaya adalah identitas,” ucapnya, disambut anggukan para hadirin.

Baginya, budaya bukan benda mati yang disimpan di museum, bukan pula sekadar tarian yang dipentaskan saat perayaan. Budaya adalah napas, adalah bahasa jiwa, adalah jejak yang membuat sebuah daerah dikenali dunia.

Momen paling menggugah datang ketika Hj. Yulia Herma Suhardiman berdiri menyampaikan arahannya. Dengan suara tegas namun penuh kehangatan, ia menaruh harapan besar pada kepengurusan baru.

“Saya menunggu kabar dan undangan dari DKC Kuantan Tengah. Buat kegiatan yang luar biasa. Ini pusat ibu kota. Banyak yang bisa kita hidupkan… Rarak Godang, Calempong, lagu Kuantan Tanah Tumpah. Jangan biarkan hanya jadi cerita. Jadikan ia hidup, tumbuh, dan diwariskan,” tegasnya.

Ruangan pun bergemuruh oleh tepuk tangan.

Tak berhenti di situ, ia juga memberikan apresiasi khusus terhadap penampilan Tari Persembahan yang tampil memukau.

“Tari seperti ini bukan sekadar hiburan. Ini wajah kita. Ini kehormatan kita. Ini yang harus terus dibawa ke mana pun Kuantan Singingi melangkah,” katanya.

Kalimat-kalimat itu menggantung di udara, lalu menetap di hati banyak orang.

Hari itu, pengukuhan DKC bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjelma menjadi penegasan bahwa di tengah dunia yang terus berubah, masih ada orang-orang yang memilih menjaga akar.

Bahwa di tengah gempuran teknologi, musik digital, budaya instan, dan hiruk-pikuk modernitas—masih ada tangan-tangan yang ingin terus menabuh calempong, menggetarkan rarak godang, menarikan langkah-langkah warisan, dan menyanyikan tanah kelahiran dengan bangga.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd. Lalu satu per satu hadirin berdiri, bersalaman, berpelukan, dan mengabadikan momen dalam bingkai foto bersama.

Namun sesungguhnya, yang diabadikan hari itu bukanlah gambar.
Melainkan sebuah tekad.

Bahwa dari Balai Adat di jantung Teluk Kuantan, api kebudayaan kembali dinyalakan.

Dan selama api itu tetap menyala, Kuantan Singingi akan selalu punya cerita.*(ald)


Baca Juga