Bea Cukai Lhokseumawe Dukung Industri Lokal, Kawal Produk Sigaret Putih Tangan Gayo Tembus Pasar Nasional

Kilasriau.com, Aceh Tengah — Kantor Bea Cukai Lhokseumawe menegaskan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan industri hasil tembakau legal melalui dukungan terhadap pelaku usaha lokal. 

Hal tersebut tercermin dalam kehadiran perwakilan Bea Cukai Lhokseumawe pada kegiatan pelekatan pita cukai Sigaret Putih Tangan (SPT) sekaligus pelepasan produk menuju pasar lokal Aceh dan nasional.

Kepala Kantor Bea Cukai Lhokseumawe yang diwakili oleh Kepala Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai dan Dukungan Teknis (PKCDT), Sofyan, menghadiri langsung kegiatan tersebut yang berlangsung di Aceh Tengah.

 Kegiatan ini juga dihadiri oleh Drs. Haili Yoga, M.Si selaku Bupati Aceh Tengah, serta Drs. Mursyid, M.Si sebagai Sekretaris Daerah serta unsur Forkopimnda Aceh Tengah.

Produk Sigaret Putih Tangan yang dilepas ke pasar merupakan hasil produksi Gayo Mountain Cigar (GMC) dengan merek GMT, yang dipimpin oleh owner sekaligus pelaku usaha lokal, Salmy Lahmuddin.

Dalam keterangannya, Sofyan menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam menciptakan ekosistem industri yang legal, sehat, dan berdaya saing.

“Pelekatan pita cukai bukan hanya kewajiban administratif, tetapi juga simbol legalitas dan kepatuhan. Kami di Bea Cukai berkomitmen untuk terus mendampingi pelaku usaha agar produknya mampu bersaing, tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga nasional,” ujar Sofyan.

Ia menambahkan bahwa Bea Cukai memiliki peran strategis dalam memberikan asistensi, mulai dari perizinan, pemenuhan ketentuan cukai, hingga fasilitasi pengembangan usaha, khususnya bagi industri kecil dan menengah di daerah.

Sementara itu, Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menempatkan pengembangan industri tembakau sebagai bagian dari strategi ekonomi kerakyatan. Ia mendorong instansi terkait untuk serius mengembangkan budi daya tanaman tembakau sebagai komoditas unggulan daerah.

“Kami mendorong seluruh instansi terkait untuk memperkuat sektor hulu, khususnya budi daya tembakau oleh petani. Ini adalah peluang nyata untuk menumbuhkan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan,” kata Haili.

Ia juga menyambut lahirnya produk SPT dari Gayo Mountain Tobacco sebagai momentum penting bagi daerah, tidak hanya dari sisi industri, tetapi juga kontribusi terhadap pendapatan daerah.

“Produk ini berpotensi menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah melalui skema Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Karena itu, kami mendorong seluruh SKPD untuk bersinergi membantu petani tembakau agar hasil produksinya dapat terserap oleh industri seperti Gayo Mountain Tobacco,” ujarnya.

Menurutnya, keterhubungan antara sektor hulu (petani) dan hilir (industri) menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berdaya saing.

Di sisi lain, Salmy Lahmuddin menyampaikan bahwa keberhasilan peluncuran produk SPT ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan Bea Cukai.

“Kami ingin menjadi bagian dari rantai nilai yang tidak hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memberdayakan petani lokal. Harapannya, hasil tembakau dari petani Aceh Tengah dapat terserap secara optimal oleh industri kami,” kata Salmy.

Kegiatan ini menjadi penanda penting bahwa industri hasil tembakau legal di daerah memiliki prospek yang kuat, terutama ketika didukung oleh kepastian regulasi, pembinaan berkelanjutan, serta integrasi antara sektor pertanian dan industri.


Baca Juga