TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Senja merambat perlahan di langit Teluk Kuantan, Kamis (12/3/2026). Cahaya matahari yang mulai merunduk di ufuk barat memantulkan warna keemasan di sepanjang Jalan Imam Munandar. Lalu lintas perlahan menjadi lebih padat. Para pengendara bergegas pulang, mengejar waktu sebelum azan magrib berkumandang.

Di tengah hiruk pikuk kendaraan yang lalu lalang itu, sebuah pemandangan hangat menarik perhatian. Sejumlah orang berdiri di tepi jalan, tersenyum kepada setiap pengendara yang melintas. Di tangan mereka, tersusun rapi paket-paket kecil berisi makanan pembuka puasa dan minuman segar.
Mereka bukan sekadar berdiri. Mereka sedang berbagi.
Kegiatan itu dimotori oleh tiga bersahabat dari keluarga Tionghoa di Teluk Kuantan: Dewi, Siska, dan Ayong. Bersama keluarga dan kerabat mereka, ketiganya turun langsung ke pinggir jalan untuk membagikan takjil kepada masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Satu per satu paket takjil diberikan kepada pengendara sepeda motor dan mobil yang melintas. Senyum mereka menyambut setiap tangan yang terulur. Tak ada sekat, tak ada jarak. Hanya kehangatan sederhana yang mengalir di antara manusia yang saling bertemu di jalan pulang.
Sebanyak 250 paket takjil dan minuman disiapkan dalam kegiatan tersebut. Paket-paket itu dibagikan kepada para pengguna jalan yang masih berada di perjalanan menjelang waktu berbuka puasa.
Tak butuh waktu lama, paket-paket takjil itu pun berpindah tangan. Para pengendara yang melintas tampak memperlambat kendaraan mereka, menerima takjil sambil mengucapkan terima kasih. Beberapa bahkan terlihat menganggukkan kepala dengan senyum hangat—sebuah bahasa universal yang tak membutuhkan banyak kata.
Di antara deru mesin kendaraan dan debu jalanan sore, aksi kecil itu menjadi oase kemanusiaan yang menyejukkan.
Bagi Dewi, kegiatan ini bukan sekadar membagikan makanan. Lebih dari itu, ia ingin menghadirkan sepotong kebahagiaan di bulan yang penuh berkah.
“Ramadan adalah bulan yang penuh kebaikan. Walaupun kami berbeda latar belakang, kami ingin ikut berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara kita yang sedang berpuasa,” ujarnya dengan senyum sederhana.
Siska yang berdiri di sampingnya tampak sibuk menyerahkan paket takjil kepada pengendara yang berhenti sejenak. Sesekali ia melambaikan tangan kepada pengendara lain agar mendekat.
Menurutnya, kegiatan berbagi ini dilakukan dengan niat sederhana: membantu orang yang masih berada di perjalanan agar tetap bisa berbuka puasa tepat waktu.
“Kadang orang masih di jalan ketika azan magrib berkumandang. Mudah-mudahan dengan takjil ini mereka bisa berbuka walaupun belum sampai di rumah,” katanya.
Sementara itu, Ayong menambahkan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi bentuk kepedulian sosial sekaligus simbol kebersamaan masyarakat di Kuantan Singingi yang hidup dalam keberagaman.
“Di daerah kita ini masyarakatnya beragam, tapi kita hidup rukun. Dengan berbagi seperti ini, kita ingin menunjukkan bahwa kebersamaan itu nyata,” ujarnya.
Beberapa warga yang berada di sekitar lokasi tampak memperhatikan kegiatan tersebut. Ada yang berhenti sejenak, ada pula yang sekadar menatap sambil tersenyum sebelum melanjutkan perjalanan.
Seorang pengendara sepeda motor yang menerima takjil mengaku merasa terharu dengan aksi tersebut.
“Alhamdulillah, sangat membantu. Apalagi kalau kita masih di jalan saat waktu berbuka. Kegiatan seperti ini sangat berarti,” katanya singkat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Perlahan, paket-paket takjil yang semula tersusun rapi mulai habis. Satu per satu berpindah tangan, mengalir bersama doa-doa kecil yang tak terdengar namun terasa.
Di bawah langit senja Ramadan, di tepi Jalan Imam Munandar yang ramai oleh lalu lintas, sebuah pelajaran sederhana kembali hadir: bahwa kebaikan tak selalu harus besar untuk berarti.
Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana—sebungkus takjil, segelas minuman, dan sebaris senyum tulus di pinggir jalan.
Dan dari pertemuan singkat antara orang-orang yang mungkin tak saling mengenal itu, tumbuhlah sesuatu yang lebih besar dari sekadar berbagi makanan: rasa kemanusiaan, toleransi, dan kebersamaan.

Di kota kecil bernama Teluk Kuantan, Ramadan kembali membuktikan satu hal—bahwa perbedaan bukanlah jarak, melainkan jembatan yang mempertemukan hati manusia dalam kebaikan.*(ald)