Kilasriau.com - PT Korindo Komplit Karbon menyatakan siap menampung hasil panen pinang masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) mulai Senin, 9 Maret 2026.
Kepastian tersebut disampaikan langsung Manajer PT Korindo Komplit Karbon, Fadli, usai pertemuan dengan jajaran Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Indragiri Hilir di Kota Batam.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Ketua Kadin Inhil, Edy Indra Kesuma. Kabar ini menjadi angin segar bagi petani pinang di Inhil yang belakangan menghadapi tekanan ekonomi akibat fluktuasi harga komoditas.
“Dengan proses yang sangat panjang, akhirnya kami siap mengoperasikan dan menampung hasil pertanian masyarakat pada Senin mendatang,” ujar Fadli, Rabu (4/3/2026) malam.
Perusahaan yang sebelumnya beroperasi di Pontianak ini resmi melakukan ekspansi ke Kabupaten Indragiri Hilir. Fasilitas operasional utama akan berlokasi di Parit 21, Tembilahan, dengan masa sewa lahan selama tiga tahun.
Selain menampung hasil pinang, perusahaan juga akan mengembangkan unit usaha pengeringan pinang dan kelapa beserta produk turunannya sebagai bagian dari upaya hilirisasi komoditas perkebunan.

Fadli menjelaskan, hasil produksi dari pabrik di Inhil akan diekspor ke sejumlah negara seperti Thailand, Vietnam, India, dan Cina. Seluruh produk nantinya akan dikemas dengan label “Tembilahan” sebagai identitas asal produksi.
“Kami ingin hadir sebagai mitra petani pinang di Inhil. Ke depan, bukan hanya menampung hasil panen, tetapi juga membangun sistem yang transparan dan berkelanjutan agar petani memperoleh harga yang lebih baik,” kata Fadli.
Target Produksi Hingga 50 Ton per Hari
Pada tahap awal, kapasitas produksi ditargetkan mencapai 20 ton per hari. Setelah beroperasi normal, kapasitas tersebut diproyeksikan meningkat hingga 50 ton per hari.
Terkait harga beli, perusahaan masih menunggu waktu peluncuran resmi operasional karena harga pinang di pasar global cenderung fluktuatif.
Berdasarkan hasil survei internal perusahaan, potensi produksi pinang di Inhil mencapai sekitar 2.000 ton per bulan. Selama ini, sebagian besar hasil panen petani dikirim ke luar daerah seperti Jambi, Medan, Jawa, dan Pekanbaru.
“Kami melihat potensi Inhil sangat luar biasa. Sebelumnya kami beroperasi di Pontianak namun terkendala bahan baku. Di sini suplai melimpah, dan kami ingin mengolahnya langsung di daerah agar nilai tambahnya dirasakan masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, perusahaan akan menerima pinang orange maupun pinang muda (pinang jus) untuk dipasarkan ke berbagai wilayah di Indonesia hingga negara tetangga.
Dalam proses perekrutan, PT Korindo Komplit Karbon menegaskan komitmennya untuk memprioritaskan tenaga kerja lokal, khususnya warga sekitar Parit 21. Pada tahap awal, perusahaan akan menyerap 10–20 pekerja, dan jumlah tersebut berpotensi meningkat hingga 80 orang seiring peningkatan kapasitas produksi.
Persyaratan pendaftaran juga dibuat sederhana, cukup dengan KTP-el dan Kartu Keluarga tanpa batasan usia maupun tingkat pendidikan. Kesempatan dibuka bagi pemuda, ibu rumah tangga, maupun kepala keluarga. Sementara untuk tenaga ahli teknis, perusahaan akan mendatangkan tenaga dari Cina guna memastikan kualitas produksi.
“Dengan berdirinya pabrik ini, kami berharap petani tidak lagi menebang pohon pinangnya untuk beralih ke komoditas lain. Justru sebaliknya, mereka bisa menikmati harga yang stabil dan kesejahteraan yang meningkat,” terang Fadli.
Ketua Kadin Inhil, Edy Indra Kesuma, menyatakan dukungan penuh atas ekspansi PT Korindo Komplit Karbon di Inhil. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan visi pemerintah daerah dalam memperkuat sektor perkebunan rakyat.
“Kadin tentu menyambut kabar baik ini. Ini menjadi angin segar bagi seluruh petani perkebunan di Kabupaten Indragiri Hilir. Kolaborasi antara pelaku usaha dan petani menjadi kunci keberlanjutan ekonomi daerah,” ujar Edy.
Ia menilai potensi pinang Inhil sangat besar dan perlu dikelola secara modern serta terukur agar mampu bersaing di pasar global.
Dalam pertemuan tersebut, Kadin dan manajemen perusahaan juga membahas strategi penguatan rantai pasok serta sistem penerimaan hasil panen agar lebih efisien dan transparan.
Edy berharap kehadiran pabrik ini dapat menciptakan efek berganda bagi masyarakat, baik dari sisi penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya saing komoditas, maupun kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kehadiran pabrik ini menjadi momentum kebangkitan ekonomi masyarakat perkebunan di Inhil, sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai sentra industri pinang di Provinsi Riau. Dengan kolaborasi pemerintah dan swasta, Inhil selangkah lebih maju menuju daerah penghasil pinang berkelas ekspor yang mampu bersaing di pasar global,” tutupnya.