Menumbuhkan Generasi Peduli Lingkungan Lewat Pembelajaran Biologi di SMA

Kilasriau.com -Krisis lingkungan seperti perubahan iklim, pencemaran, dan menurunnya keanekaragaman hayati semakin terasa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. 

Situasi ini menurut saya menunjukkan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada penyampaian pengetahuan, tetapi harus membentuk cara pandang dan kebiasaan siswa terhadap lingkungan sejak di bangku sekolah (Prayogo et al., 2024). 

Pembelajaran Biologi di SMA memiliki posisi strategis karena materi yang dipelajari dekat dengan realitas hidup siswa, mulai dari kondisi air di sekitar tempat tinggal hingga persoalan sampah di lingkungan sekolah. 

Pembelajaran yang dikaitkan dengan pengalaman nyata membuat siswa lebih mudah menyadari bahwa krisis lingkungan bukan isu jauh di media, melainkan persoalan yang mereka hadapi dan turut mereka pengaruhi dalam keseharian.

Literasi lingkungan bagi siswa menurut saya bukan sekadar kemampuan menjawab soal tentang ekosistem atau perubahan iklim. Literasi lingkungan tercermin dari kebiasaan kecil yang konsisten, seperti cara membuang sampah, penggunaan plastik, dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekolah. 

Banyak siswa sebenarnya memahami bahwa perilaku merusak lingkungan itu salah, tetapi pemahaman tersebut sering tidak berubah menjadi kebiasaan karena pembelajaran belum memberi ruang yang cukup untuk praktik nyata. 

Pembelajaran yang terlalu berfokus pada hafalan konsep cenderung membuat isu lingkungan terasa abstrak dan jauh dari pengalaman personal siswa, sehingga nilai kepedulian tidak tertanam kuat dalam sikap mereka.

Pendekatan pedagogi hijau (Green Pedagogy) memberi peluang bagi guru untuk menjadikan pembelajaran Biologi lebih hidup melalui aktivitas yang melibatkan pengalaman langsung, refleksi kritis, dan aksi nyata terhadap persoalan lingkungan (Husamah et al., 2022). 

Pendekatan ini menurut saya penting karena membantu siswa mengaitkan pengetahuan ilmiah dengan realitas hidup mereka sehari-hari, sehingga pembelajaran tidak berhenti sebagai teori di buku, tetapi menjadi pengalaman yang membentuk cara berpikir dan bersikap. 

Tantangan di sekolah seperti keterbatasan fasilitas dan kebiasaan pembelajaran konvensional memang nyata (Supratman et al., 2025), tetapi kondisi tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan untuk pasif. 

Guru tetap bisa memulai dari langkah sederhana yang relevan dengan konteks sekolah, seperti mengajak siswa mengamati kondisi lingkungan sekitar, membahas persoalan nyata yang mereka temui setiap hari, lalu merancang solusi kecil bersama. 

Langkah-langkah sederhana ini menurut saya justru penting karena menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan dan melatih siswa untuk percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari tindakan kecil yang konsisten.

Peluang penguatan pembelajaran berwawasan lingkungan semakin terbuka melalui kebijakan pendidikan berkelanjutan yang memberi ruang integrasi isu lingkungan dalam pembelajaran (Adnyana et al., 2023). 

Arah kebijakan ini menurut saya penting karena sejalan dengan komitmen Indonesia dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang Gender Quality yang menekankan pembentukan manusia berpengetahuan, berkarakter, dan berdaya kritis, serta tujuan ke-13 tentang Climate Action yang mendorong peningkatan kesadaran dan partisipasi generasi muda dalam menghadapi krisis iklim. 

Sekolah memiliki ruang besar untuk menerjemahkan agenda global ini ke dalam praktik sederhana di kelas, seperti membiasakan refleksi atas persoalan lingkungan sekitar dan mendorong siswa mengambil peran aktif dalam perubahan kecil yang berdampak. 

Pemanfaatan teknologi digital dapat membantu siswa melihat keterkaitan antara masalah lingkungan di sekitar mereka dengan tantangan global SDGs melalui media interaktif dan diskusi kolaboratif (Rina et al., 2025). 

Kolaborasi sekolah dengan komunitas lingkungan perlu diperluas agar siswa memiliki pengalaman nyata di luar kelas dan menyadari bahwa aksi kecil yang mereka lakukan merupakan bagian dari upaya bersama menuju pembangunan berkelanjutan. 

Integrasi pedagogi hijau dalam pembelajaran Biologi di SMA bukan hanya strategi pembelajaran, tetapi investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi yang berpikir kritis, memiliki empati ekologis, dan siap berkontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs.

Penulis : Adelina Christine Br Simatupang 
Instansi: Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau 
Nim: 2305114561


Baca Juga