TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Pagi-pagi di usia kanak-kanak biasanya dipenuhi tawa, permainan, dan riuh kecil yang tak pernah benar-benar ingin selesai. Namun bagi Shanum Zahsy Askanah, hari-hari tumbuh dengan cara yang berbeda. Ia mengenal waktu melalui ayat-ayat. Mengenal sunyi melalui huruf-huruf suci. Dan belajar dewasa bukan dari usia, melainkan dari adab.
Gadis cilik berusia 8 tahun itu berasal dari Desa Koto Taluk, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau—sebuah tempat yang jauh dari gemerlap panggung televisi, tetapi dekat dengan doa. Dari sana, Shanum melangkah pelan menuju ruang yang lebih luas: 30 besar Hafiz Indonesia Tahun 2026.
Sekitar 1.300 anak telah menempuh audisi. Ribuan suara melantunkan ayat yang sama. Namun ada lantunan yang tidak berusaha terdengar—ia hanya ingin sampai. Shanum hadir bukan untuk menonjol, melainkan untuk setia. Seolah Al-Qur’an tidak ia bawa ke panggung, tetapi ia titipkan kembali ke tempat asalnya: hati.
Shanum adalah putri dari pasangan Vito Fharnenko, S.T. dan Yuni Anggraini, S.Kom. Dalam kesehariannya, ia adalah siswi SD IT An-Najiyah Jalur Dua Karak, sekolah yang mengajarkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar hafalan, melainkan teman hidup. Di rumah, di sekolah, di sela waktu yang tak tergesa, ayat-ayat itu tumbuh bersama dirinya—perlahan, tenang, dan penuh hormat.
Kabar kelolosan Shanum disampaikan ibunya dengan suara syukur yang nyaris berbisik. Bukan karena ingin dirahasiakan, melainkan karena takut riuh bisa melukai niat.
“Alhamdulillah,” ujar Yuni Anggraini dalam pesan WhatsApp kepada jurnalis, Kamis (5/2/2026). “Anak kami lolos ke 30 besar Hafiz Indonesia 2026. Insya Allah, Shanum akan tampil pada 19 Februari 2026 pukul 13.30 WIB.”
Namun bagi keluarga, kabar itu tidak disambut dengan target atau ambisi. Mereka memilih menyambutnya dengan doa—panjang, pelan, dan penuh penjagaan.
“Bukan sekadar juara, bukan sekadar dikenal orang,” tutur Yuni. “Kami hanya berharap Allah menjaga niatnya tetap lurus. Setiap ayat yang ia lantunkan adalah ibadah, bukan pertunjukan.”
Dalam harapan seorang ibu, Al-Qur’an bukan untuk dipamerkan, melainkan dipeluk. Ia ingin putrinya tumbuh dengan adab sebelum ilmu, dengan hati yang lembut sebelum hafalan yang banyak.
“Semoga Allah menguatkan adabnya sebelum ilmunya, melembutkan hatinya bersama Al-Qur’an, dan menjadikan setiap langkahnya sebagai kebaikan, bukan beban,” ucapnya.
Jika suatu hari lelah datang—karena mencintai Al-Qur’an bukan jalan yang selalu ringan—keluarga ingin Shanum mengingat satu hal paling mendasar.
“Semoga ia selalu tahu bahwa Al-Qur’an datang untuk memeluk, bukan menuntut. Dan semoga Hafiz Indonesia 2026 bukan puncak, melainkan awal dari perjalanan panjangnya menjadi ahli Al-Qur’an—yang ayat-ayatnya kelak menjaga dirinya, orang tuanya, dan menjadi cahaya hingga akhirat.”
Di sekolah, kabar itu disambut bukan dengan sorak, melainkan dengan syukur. Kepala SD IT An-Najiyah Teluk Kuantan, Ustadz Malim Harahap, S.Pd.I., M.Pd, memandang capaian Shanum sebagai amanah yang harus dirawat dengan rendah hati.
“Masyaa Allah, tabarakallah. Prestasi ini bukan hanya kebanggaan, tetapi pengingat bagi kami semua untuk semakin mencintai Al-Qur’an,” ujarnya.
Bagi lingkungan sekolah, Shanum adalah cermin kecil bahwa pendidikan yang berjalan pelan—dengan adab, kesabaran, dan cinta—akan selalu sampai pada tujuannya, meski tanpa hiruk-pikuk.
Menjelang penampilannya pada 19 Februari 2026, Shanum tidak membawa beban apa pun kecuali satu: menjaga hati agar tetap bening. Tidak mengejar tepuk tangan. Tidak menanti pujian. Hanya memastikan bahwa ayat-ayat itu tetap merasa pulang setiap kali ia melantunkannya.
Dari Koto Taluk, langkah kecil itu berangkat. Dari seorang anak yang masih belajar mengenal dunia, Al-Qur’an dijaga dengan kesungguhan yang hening. Tidak ada gemerlap ambisi. Tidak ada suara yang meninggi. Yang ada hanyalah doa orang tua, pendidikan yang setia, dan keyakinan bahwa cahaya tidak perlu dikejar.
Sebab Shanum Zahsy Askanah tidak berjalan menuju cahaya.
Ia berjalan bersama Al-Qur’an—
dan cahaya itu mengikutinya dengan sendirinya.*(ald)