KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) - Di tengah realitas sosial yang kerap menempatkan pemimpin dan tokoh publik dalam jarak simbolik dengan masyarakat, kehadiran Datuak Mangkuto Jilelo (DMJ) di ruang-ruang publik menghadirkan tafsir berbeda tentang makna kepemimpinan. Ia tidak hanya dikenal sebagai sosok yang turun langsung ke tengah warga, tetapi juga sebagai pengusaha muda yang berhasil menumbuhkan kepercayaan di dunia bisnis properti.
Potret DMJ yang berdiri di hadapan masyarakat dengan pengeras suara sederhana merekam satu pesan penting: kepemimpinan sejati tidak selalu lahir dari jabatan formal, melainkan dari keberanian untuk hadir, menyatu, dan mendengar. Tidak ada sekat protokoler, tidak ada jarak sosial. Yang tampak hanyalah komunikasi langsung, jujur, dan manusiawi.
Menariknya, figur yang sama juga memegang peran strategis di dunia usaha. DMJ saat ini dipercaya sebagai Manajer Marketing Cibria Townhouse, sebuah proyek properti yang berkembang pesat dan menjadi salah satu pilihan utama masyarakat untuk hunian. Kepercayaan itu tidak datang tanpa alasan. Di bawah perannya, Cibria Townhouse kian dikenal sebagai kawasan perumahan yang nyaman, berkonsep modern dengan desain bangunan ala Eropa, rapi, dan memiliki nilai estetika tinggi.
Kepercayaan penuh juga diberikan langsung oleh Direktur Cibria Townhouse, Delka Hermawita, yang menempatkan DMJ sebagai orang kepercayaan dalam mengelola strategi pemasaran dan pengembangan citra proyek. Hari ini, Cibria Townhouse bukan sekadar kawasan hunian, melainkan telah menjadi simbol gaya hidup baru—nyaman, tertata, dan memiliki nilai investasi. Tak berlebihan jika proyek ini disebut “rebutan”, karena minat masyarakat terus meningkat.
Keberhasilan DMJ di dunia bisnis properti menunjukkan satu benang merah yang kuat dengan caranya hadir di tengah masyarakat. Prinsipnya sama: membangun kepercayaan. Dalam bisnis, kepercayaan adalah fondasi utama. Begitu pula dalam kehidupan sosial. DMJ memahami bahwa masyarakat tidak hanya membeli bangunan, tetapi juga membeli rasa aman, kenyamanan, dan keyakinan akan masa depan.
Anak-anak dan warga yang tampak berdiri di belakangnya dalam potret tersebut memberi makna simbolik yang dalam. Mereka adalah representasi masa depan—baik dalam konteks sosial maupun ekonomi. Kepemimpinan dan keputusan hari ini akan menentukan kualitas kehidupan generasi esok. Di sinilah nilai kepemimpinan DMJ menemukan relevansinya: menyatukan naluri sosial dengan kecakapan profesional.
Opini ini tidak dimaksudkan untuk mengultuskan sosok, melainkan untuk membaca fenomena. Bahwa di tengah tantangan zaman, masyarakat membutuhkan figur yang utuh—yang mampu berdiri di tengah warga sekaligus berpikir strategis di ruang bisnis. Sosok yang tidak hanya piawai berbicara, tetapi juga mampu bekerja dan membuktikan.
Kepemimpinan sosial dan keberhasilan bisnis tidak harus berseberangan. Pada diri DMJ, keduanya justru saling menguatkan. Keberhasilan Cibria Townhouse yang terus berkembang menunjukkan bahwa bisnis yang dikelola dengan pendekatan manusiawi akan lebih mudah diterima. Sementara kehadirannya di tengah masyarakat menegaskan bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari profit, tetapi dari manfaat dan kepercayaan yang ditinggalkan.
Dari satu potret sederhana dan satu jejak kerja nyata, publik diingatkan bahwa perubahan sering kali lahir dari figur-figur yang bekerja dalam diam, hadir tanpa jarak, dan membangun masa depan dengan langkah yang konsisten. DMJ adalah contoh bahwa kepemimpinan, baik di ruang sosial maupun bisnis, pada akhirnya bermuara pada satu hal yang sama: kepercayaan.*(ald)