Sisi Lain Rustam S. Abrus, Sahabat Harmoko dari Riau

KilasRiau.com - DILAHIRKAN di Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, pada tahun 1937, Rustam S. Abrus berasal dari keluarga yang kuat dalam tradisi keilmuan, dakwah, dan politik. Ia adalah putra sulung dari delapan bersaudara, buah hati pasangan Sarmin Abrus dan Rugo Samad.

Nama “R. Abrus” yang melekat di belakang namanya bukan sekadar identitas administratif. Huruf R merupakan singkatan dari Rasmin—nama lain ayahnya—sementara Abrus bermakna Anak Bapak Sarmin. Lengkapnya, Rustam Anak Bapak Sarmin. Sebuah penamaan yang sederhana, namun sarat makna kekerabatan dan kebanggaan keluarga.

Ayahnya, Sarmin Abrus, dikenal sebagai ulama, tokoh Muhammadiyah, sekaligus politikus. Di masa akhir pengabdiannya, Sarmin pernah menjabat Ketua Ranting Partai Masyumi Kecamatan Kuantan Hilir dan Juru Penerangan Kantor Camat Kuantan Hilir. Lingkungan inilah yang membentuk Rustam kecil—tumbuh di antara buku, diskusi, dan denyut pergerakan sosial.

Adik-adik Rustam antara lain: Rusni S. Abrus, Nurjauhara S. Abrus, Zahara S. Abrus, Rusjdi S. Abrus, Rusman S. Abrus, Rosmanidar S. Abrus, dan Rosmalia S. Abrus.

Sebagai putra daerah Riau, Rustam S. Abrus adalah sosok yang kenyang oleh pengalaman hidup. Jauh sebelum menapaki puncak karier sebagai birokrat—hingga dipercaya menjabat Wakil Gubernur Riau—ia telah melanglang di berbagai dunia: guru, wartawan, sastrawan, cerpenis, seniman, penulis naskah dan pemain teater, budayawan, hingga penggerak kebudayaan.

Kepengarangan Rustam tumbuh secara otodidak. Ia belajar menulis dengan tekun, menelusuri dan menyerap karya-karya Buya HAMKA—tokoh yang kelak ia anggap sebagai orang tua angkatnya.
Pengaruh HAMKA

Sesungguhnya, perjalanan intelektual dan kepengarangan Rustam S. Abrus tak bisa dilepaskan dari sosok Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA). Hubungan itu bukan sekadar guru dan murid, melainkan ikatan persahabatan lintas generasi yang berakar dari kedekatan HAMKA dengan Sarmin Abrus.

Keduanya sama-sama aktif di Muhammadiyah dan Partai Masyumi. Bahkan, HAMKA turut memberi nama salah satu adik Rustam, yakni Rusjdi.

Kisahnya bermula pada pertengahan November 1947, saat HAMKA berkunjung ke Baserah. Ia mendapati sahabatnya, Sarmin Abrus, baru saja dikaruniai seorang bayi berusia seminggu—namun belum memiliki nama. HAMKA lalu mengusulkan nama Rusjdi, dengan harapan kelak sang anak tumbuh menjadi pemimpin. Harapan itu, di kemudian hari, terbukti bukan sekadar doa.

Setiap kali berkunjung ke Kuantan Hilir, baik sebagai ulama maupun politikus, HAMKA kerap menghadiahi Rustam muda buku-buku sastra. Mulai dari karya angkatan Balai Pustaka hingga Pujangga Baru, termasuk karya-karya HAMKA sendiri yang monumental: Di Bawah Lindungan Ka’bah, Merantau ke Deli, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Dalam Lembah Kehidupan, dan banyak lagi.

Rustam mulai menulis sejak duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR) di Baserah, berlanjut ke SMP Muhammadiyah Nurul Islam Sentajo (1949–1952). Ia bahkan menjalin korespondensi rutin dengan HAMKA, yang telah bermukim di Jakarta sejak Desember 1949.

Atas rekomendasi HAMKA pula, karya-karya Rustam dimuat di berbagai media, termasuk Majalah Pedoman Masyarakat yang dikelola HAMKA.

Ketika menempuh pendidikan di SMA Bukittinggi, kuliah di IKIP Malang, hingga melanjutkan studi di Lembaga Administrasi Negara (LAN) Jakarta—Jurusan Administrasi Negara—Rustam tetap setia menulis. Ia sempat berkiprah sebagai wartawan di Jakarta.

Di dunia jurnalistik inilah ia bersahabat erat dengan Harmoko (1939–2021), jurnalis dan politikus yang kelak menjadi Menteri Penerangan RI (1983–1997) serta Ketua DPR RI (1997–1999). Harmoko pula yang dikenal sebagai figur penting dalam fase akhir kekuasaan Presiden Soeharto.

Rustam dikenal sebagai kolektor buku sastra lintas angkatan. Di rumahnya di Baserah, ia mendirikan Abrus Library—Perpustakaan Milik Anak Bapak Sarmin. Isinya adalah khazanah sastra Indonesia: karya Nur Sutan Iskandar, Marah Rusli, Abdul Muis, Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, HAMKA, Amir Hamzah, hingga sastrawan Angkatan ’45 seperti Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Usmar Ismail, Utuy Tatang Sontani, dan generasi setelahnya.

Selain buku, perpustakaan itu menyimpan majalah sastra Kisah serta naskah-naskah cerpen karangan Rustam sendiri—antara lain Keremunting, Sehelai Tikar Sembahyang, Ali Atom, dan Terhempas.

Sayang, Abrus Library ikut musnah saat kebakaran besar melanda Baserah pada 1970-an.

“Buku-buku milik Bang Soetam habis tak bersisa,” kenang Rusman S. Abrus.

Tahun 1967 menjadi titik balik. Usai dilantik, Gubernur Riau Arifin Achmad berkata kepada wartawan di Istana Negara, “Kalau ada di antara kalian yang berasal dari Riau, pulanglah. Kita bangun daerah.”

Ucapan itu disambut para wartawan, yang kemudian mendorong Rustam kembali ke Riau dan bergabung di Kantor Gubernur. Di sanalah ia memulai pengabdian birokrasi.

Suatu ketika, Harmoko datang ke Riau sebagai Ketua PWI Pusat. Ia tertegun melihat Rustam menyambutnya dengan seragam pegawai pemerintah daerah. “Jadi kamu ini pegawai negeri ya, Rus?”
Rustam hanya tersenyum, singkat menjawab, “Ya.”

Bersama para pengarang Riau lainnya, Rustam turut melahirkan antologi cerpen Karamunting (Gramitra, 1989).

Hingga akhir hayatnya, ia tetap dikenang sebagai sastrawan, wartawan, birokrat, dan pemikir.
Rustam S. Abrus wafat pada 21 April 2002 di Singapura dan dimakamkan di Pekanbaru. Jabatan terakhirnya: Wakil Gubernur Riau.

Ia telah pergi, namun jejaknya—di buku, di pers, di panggung kebudayaan, dan di sejarah Riau—tetap hidup.*(ald)

 

source: https://www.facebook.com/share/p/182n6ceYsN/


Baca Juga