Ketika Tanah Menutup Jejak Pasar, Narosa Menunggu Dibangunkan

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Narosa tidak pernah tidur. Ia hanya menunggu. Menunggu kesadaran manusia yang hidup di sekitarnya—apakah sungai ini akan terus diperlakukan sebagai latar belakang, atau akhirnya diakui sebagai jantung kebudayaan yang menghidupkan sebuah negeri. Jumat (23/1/2026).

Di sepanjang alirannya, waktu bergerak lebih panjang dari usia bangunan. Di atas airnya, Pacu Jalur telah melaju lebih dari seratus lima puluh tahun, membawa nama Kuantan Singingi melampaui batas daerah, melintasi provinsi, bahkan menjangkau dunia. Ia lahir dari kesahajaan, tumbuh dari kebersamaan, dan bertahan karena keyakinan bahwa budaya bukan sekadar hiburan, melainkan harga diri.

Pacu Jalur bukan milik satu musim. Ia adalah milik ingatan kolektif. Ia adalah doa yang dilantunkan lewat dayung, kerja yang dikerahkan lewat otot, dan kehormatan yang dijaga lewat kebersamaan. Dari Narosa, Kuansing dikenal bukan karena megahnya bangunan, melainkan karena kebudayaan yang hidup dan bergerak.

Karena itulah, ketika kios-kios Pasar Bawah Teluk Kuantan dibongkar, peristiwa itu tidak berhenti sebagai berita. Ia menjelma menjadi simbol—tentang pilihan, tentang arah, tentang keberpihakan.

Epi Martison, maestro seni, komposer, dan koreografer ternama asal Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, yang berkiprah hingga kancah internasional, tidak memandang peristiwa ini dengan gegabah. Ia tidak menolak pembongkaran, tidak pula menyanjungnya secara buta. Ia memilih berdiri di antara sejarah dan masa depan, lalu berkata dengan nada yang jernih: bongkar, tetapi jangan kehilangan makna.

Budaya Pacu Jalur dan Narosa, katanya, telah berjasa lebih dari satu setengah abad. Ia telah membesarkan nama seluruh rakyat Kuansing dan Provinsi Riau. Ia telah mendunia. Maka pertanyaan yang layak diajukan bukanlah sekadar soal pasar dan bangunan, melainkan soal prioritas peradaban.

Apakah Pasar Bawah—dengan seluruh jasanya di masa lalu—memiliki urgensi sejarah dan kebudayaan yang setara dengan Pacu Jalur?

Ironinya, Narosa selama ini justru berada di pinggir perhatian. Di saat Pacu Jalur diagungkan sebagai ikon daerah, arenanya masih tumbuh dalam keterbatasan. Dari pancang start hingga pancang finish, ruang pandang terpotong bangunan, estetika tereduksi oleh kepadatan, dan keselamatan kerap menjadi kompromi.

Dalam pandangan Epi Martison, ini bukan sekadar persoalan tata kota. Ini adalah soal cara pandang: apakah budaya diperlakukan sebagai inti pembangunan, atau sekadar ornamen tahunan yang muncul lalu dilupakan.

Narosa, tegasnya, sudah waktunya dibangunkan. Tepian sungai harus ditata ulang. Bangunan-bangunan yang mengganggu harus diratakan. Bukan untuk mematikan kehidupan ekonomi, melainkan untuk menata ulang keseimbangan antara ruang hidup dan ruang budaya. Narosa harus memiliki hamparan hijau yang panjang dan lapang, teduh dan ramah lingkungan. Arena Pacu Jalur harus memiliki tribun yang memanjang, aman, bersih, dan nyaman—bukan untuk kemewahan semata, tetapi sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya kelas dunia.

Pasar Bawah sendiri bukan tanpa sejarah. Ia pernah hidup, berdiri, dan menghidupi. Mereka yang manggaleh di sana selama bertahun-tahun merasakan denyut ekonomi yang nyata. Pasar itu pernah menjadi nadi, pernah menjadi harapan. Namun waktu tidak pernah bernegosiasi.

Kemarin ini, Pasar Bawah telah menua. Roman pasarnya usang. Bentuknya tak lagi elok. Tata ruangnya tidak nyaman. Kebersihan dan keamanannya tertinggal. Ia tidak lagi konek dengan kebutuhan zaman, tidak lagi selaras dengan wajah kota yang terus bergerak.

Dalam bahasa kebudayaan, Pasar Bawah telah menyelesaikan tugas sejarahnya. Ia telah hidup dan menghidupi. Kini, ia diminta memberi ruang—bukan untuk dihapus dari ingatan, tetapi untuk digantikan demi kepentingan yang lebih besar.

Namun perubahan, kata Epi, tidak boleh dilakukan dengan tangan dingin. Bak mencabut rambut dalam tepung—tepung tak berserak, rambut pun tak putus.

Pedagang tidak boleh menjadi korban. Mereka harus diganti untung, diberi solusi, dipindahkan secara adil dan manusiawi. Sebab budaya yang luhur tidak pernah tumbuh dari luka sosial.

Sehari setelah kios-kios itu dibongkar, tanah pun diturunkan. Tanah merah, tanah basah, ditimbun dan diratakan. Cepat. Nyaris tanpa jeda. Jejak pasar yang semalam masih menyimpan sisa suara tawar-menawar, pagi itu telah tertutup lapisan bumi.

Tanah menutup bekas bangunan, seperti waktu menutup halaman lama sebuah buku.

Pemandangan itu memunculkan tafsir yang sunyi. Di satu sisi, ia menunjukkan ketegasan: bahwa keputusan telah diambil dan dijalankan. Namun di sisi lain, kecepatan menimbun tanah juga memantik pertanyaan yang tak bisa dihindari: apakah tanah itu sedang disiapkan sebagai alas masa depan, atau sekadar menutup masa lalu tanpa peta yang terang?

Bagi Epi Martison, tanah yang diratakan bukan sekadar penutup. Ia adalah amanah. Jika tanah itu memang disiapkan untuk Narosa dan Pacu Jalur, maka di atasnya harus segera ditanam visi—ruang hijau, arena budaya, dan kebijakan yang berpihak pada warisan.

Sebab budaya tidak cukup dibela dengan membongkar dan menimbun. Budaya harus dibangunkan.

Apa yang disuarakan Epi sejatinya memiliki pijakan kuat. Negara, melalui Pasal 32 ayat (1) UUD 1945, menegaskan bahwa negara berkewajiban memajukan kebudayaan nasional. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan bahkan menempatkan kebudayaan sebagai investasi jangka panjang bangsa. Tradisi, ritus, dan pengetahuan lokal—termasuk Pacu Jalur—diakui sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan yang wajib dilindungi dan difasilitasi.

Undang-undang itu juga mewajibkan pemerintah menyediakan sarana dan prasarana kebudayaan. Artinya, penataan Narosa bukan sekadar kehendak seniman atau masyarakat adat, melainkan tanggung jawab konstitusional.

Dalam kearifan adat Kuantan, Epi Martison menutup pandangannya dengan kesadaran tentang pengorbanan:

Biarlah kepalo balumuar asal tanduk mangonai. Biarlah muko kumuah, asal nogori awak tidak menjadi buruak.

Ungkapan ini bukan ajakan mengabaikan rasa, melainkan kesediaan menanggung risiko demi marwah negeri.

Tanah yang hari ini menutup bekas Pasar Bawah, pada akhirnya akan menjadi saksi. Apakah ia akan menjadi ruang kosong yang sunyi, atau panggung terhormat tempat Pacu Jalur berdiri dengan martabatnya.

Narosa masih menunggu. Bukan menunggu ditonton, melainkan menunggu dihormati.*(ald)


Baca Juga