Dari Ayat ke Akhlak: Wisuda Tahfizh XIII SDIT Teluk Kuantan Menyemai Generasi Qurani

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Masjid Pondok Pesantren Syafa’aturrasul, Selasa pagi (16/12/2025), dipenuhi lantunan ayat suci Al-Qur’an yang mengalir tenang namun menggetarkan. Di hadapan para orang tua dan undangan, SDIT Teluk Kuantan menggelar Wisuda Tahfizh XIII, sebuah peristiwa yang menandai ikhtiar panjang anak-anak menjaga dan mencintai Kalam Ilahi sejak usia dini.

Di antara tamu yang hadir, Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si secara langsung membuka acara. Dalam arahannya, Ia menilai kegiatan tersebut sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan karakter generasi muda.

“Pendidikan tahfizh seperti ini tidak hanya membentuk kecerdasan anak, tetapi juga menanamkan disiplin, kesabaran, dan akhlak. Ini modal penting bagi masa depan daerah kita,” ujar Eka Putra.

“Anak-anak ini sedang menyiapkan bekal hidupnya. Al-Qur’an akan membimbing mereka bukan hanya saat di sekolah, tetapi ketika kelak berhadapan dengan kehidupan yang lebih luas,” tuturnya.

Ia menegaskan, pembangunan tidak selalu berwujud beton dan aspal. Ada pembangunan yang bekerja dalam diam—menyusun karakter, menumbuhkan adab, dan menanamkan nilai yang kelak menjadi penyangga moral masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari capaian akademik semata, melainkan dari nilai yang tertanam dalam diri anak. Ia berharap kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan terus diperkuat agar nilai Al-Qur’an tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi para wisudawan, prosesi ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah hasil dari proses panjang—mengulang ayat demi ayat, menjaga hafalan, dan belajar bertanggung jawab atas amanah yang diemban. Proses itu pula yang membuat momen wisuda terasa lebih bermakna bagi para wali santri.

Ilman Wahyudi, salah satu wali santri, mengaku haru menyaksikan anaknya diwisuda.

“Kami tahu betul prosesnya tidak mudah. Ada waktu anak lelah, ada juga saat kami sebagai orang tua ikut belajar bersabar. Hari ini menjadi pengingat bahwa mendampingi anak dalam Al-Qur’an adalah tanggung jawab yang besar sekaligus mulia,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Soni Mardi. Ia menilai wisuda tahfizh bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari kewajiban yang lebih besar di rumah.

“Hafalan ini harus dijaga. Orang tua tidak boleh lepas tangan setelah wisuda. Justru di rumah kami dituntut untuk terus mengingatkan dan memberi contoh,” katanya.

Kepala SDIT Teluk Kuantan, Hj. Wirza Rahmah, S.S.I., Lc., dalam sambutannya menegaskan bahwa sekolah tidak mengejar angka hafalan semata. Fokus utama adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman akhlak.

“Kami ingin anak-anak tumbuh dengan Al-Qur’an yang hidup dalam perilaku, bukan sekadar di ingatan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Artati Indra, S.Pd.I, menyebut Wisuda Tahfizh sebagai ruang syukur bersama atas sinergi yang terbangun antara sekolah dan orang tua.

Wisuda Tahfizh XIII SDIT Teluk Kuantan pun menjadi penanda bahwa membangun generasi Qurani memerlukan kesinambungan. Sekolah menanamkan, orang tua menjaga, dan lingkungan menguatkan. Sebab menghafal Al-Qur’an adalah proses, sementara mengamalkannya adalah perjalanan seumur hidup.

Di masjid itu, ayat-ayat tak hanya dilantunkan. Ia dititipkan—sebagai cahaya yang diharapkan kelak menerangi langkah generasi masa depan.*(ald)


Baca Juga