KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) – Ratusan masyarakat tampak bersemangat bergotong royong membentang Bendera Merah Putih sepanjang 2.000 meter di kiri dan kanan Tepian Narosa, gelanggang pacu jalur tahun 2025. Bendera itu bukan sekadar kain berwarna merah dan putih, melainkan simbol kebersamaan, nasionalisme, sekaligus identitas budaya masyarakat Kuansing. Senin (18/08/2025).

Pemasangan bendera secara gotong royong menggambarkan masih kuatnya nilai tradisi yang diwarisi nenek moyang: semangat kebersamaan tanpa pamrih. Dalam tradisi masyarakat Kuansing, gotong royong tidak hanya terbatas pada pembangunan rumah atau kegiatan adat, melainkan juga menyatu dalam setiap momentum besar seperti pacu jalur—ikon budaya yang telah melekat sebagai jati diri daerah.
“Bagi masyarakat Kuansing, pacu jalur bukan hanya hiburan. Ia adalah warisan budaya yang mempererat persaudaraan. Pemasangan bendera ini mempertegas bahwa kita tetap menjunjung tinggi nilai gotong royong dan rasa cinta tanah air,” ujar Lurah Sungai Jering, Eka Putra, S.Sos., M.Si.
Sejarawan lokal mencatat, sejak dahulu Tepian Narosa menjadi pusat interaksi masyarakat, tempat di mana nilai-nilai budaya diwariskan lintas generasi. Kini, dengan dibentangkannya bendera sepanjang dua kilometer, pesan moral yang hendak disampaikan bukan semata meriahkan lomba pacu jalur, melainkan memperkuat identitas daerah yang tak lekang oleh zaman.
Gotong royong ini juga memperlihatkan bahwa masyarakat Kuansing mampu memadukan semangat nasionalisme dengan kearifan lokal. Merah Putih yang membentang di tepian Narosa menjadi saksi bahwa tradisi pacu jalur bukan hanya milik daerah, tetapi bagian dari narasi besar kebangsaan Indonesia.*(ald)