KILASRIAU.com - Kabupaten Indragiri Hilir merupakan wilayah yang memiliki hamparan kelapa dunia terluas di Riau baik itu daerah daratan hingga daerah pesisir.
Maka tidak heran jika mayoritas masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir tersebut merupakan petani perkebunan kelapa dan sudah menjadi mata pencarian pokoknya.
Namun, saat ini petani kelapa mengalami berbagai macam kendala yaitu hasil produksi yang menurun, harga yang murah hingga terendam air pasang.
Seperti halnya petani kelapa yang berada di pesisir banyak yang mengalami kerugian akibat abrasi sehingga Pohon-pohon kelapa terendam air pasang serta bendungan yang sudah tidak kokoh.
Ditambah lagi perubahan iklim yang membuat petani semakin memperihatinkan karena abrasi yang semakin parah.
Salah satu dampak perubahan iklim yang mengancam masyarakat pesisir di negara-negara kepulauan seperti Indonesia adalah kenaikan air muka laut. Dampak tersebut akan diikuti dampak-dampak turunan lainnya, seperti intrusi air laut (tercampurnya air tanah dengan air laut) hingga pengikisan garis pantai.
Maka dari itu pemerintah kabupaten Indragiri Hilir berupaya untuk mencegahnya dengan melakukan penanaman mangrove di sepanjang pesisir tujuannya ialah agar tetap terjaga dan lestari serta terus memberi manfaat bagi masyarakat.
Akan tetapi, dalam upaya tersebut para petani kelapa tidak dilibatkan sehingga banyak perkebunan kelapa beralih fungsi menjadi tanaman pohon mangrove.
Melihat hal tersebut Burhanuddin Rafik Ketua Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia ( Perpekindo ) Riau. menuturkan bahwa hendaknya kebun kelapa rusak karena perubahan iklim tidak di jadikan hutan mangrove tapi menjadikan hutan mangrove sebagai barrier bagi perkebunan Kelapa rakyat.
"Artinya, perkebunan kelapa yang ada di pesisir tersebut seharusnya tidak semerta-merta dialihkan menjadi tanaman pohon mangrove. Kecuali jika perkebunan kelapa itu telah di tetapkan sebagai kawasan hutan oleh pemerintah," tuturnya.
Selain itu, Burhanuddin Rafik menambahkan bahwa jika memang ada suatu upaya serta pencegahan tentunya harus ada pemberitahuan dan kesepakatan dengan petani kelapa.
"Selama ini kami petani kelapa merasa menjadi objek dalam kegiatan rehabilitasi ekosistem mangrove. Kebun kelapa terdampak kuapan air pasang karena tanggul rusak di tanami mangrove dan petani beralih profesi sebagai petani bukan hal yang mudah. Semestinya petani di ajak diskusi bagaimana formula yang baik untuk rehabilitasi ekosistem mangrove yang didalamnya terdapat lahan perkebunan kelapa rusak," jelasnya.